Minggu, 19 November 2023

Memupuk Rasa Malu

Mengaji sebagai Usaha Memupuk Rasa Malu


Ngaji, Selasa (14/11/2023) bersama K.H. Subhan Ma'mun di Masjid Luqman Hakim Klampok, penulis mengakui sering terlambat dan otomatis duduk dibelakang. Walaupun terlambat, alhamdulillah selalu kebagian teh panas yang disugukan oleh kang-kang santri bersama snack gorengan.


Kondisi setelah dalam perjalanan mendapatkan teh panas, membuat badan segar dan press setelah meminumnya. Memulai ikut mengajipun terasa penuh kesiapan, baik dalam ngapsahi (mengartikan) kitab yang dikaji (Fathulbari dan Hikam)  dan menyimak apa yang di sampaikan oleh K.H  Subhan Ma'mun.


Bebarapa point penting dan nasehat didapat dari mengaji kali ini  (14/11/2023) dapat penulis catatan sebagai berikut : 


Pertama, sebuah pengistilahan dan teknik untuk mengekang agar seseorang tidak terlalu bebas dalam bertindak, berkata dan melangkah serta mampu mengoreksi diri terhadap penghambaan kepada Allah Swt. maka hati harus diikat dengan kuat.


"Ikatlah leher kambing, kalau mengendaki agar kambing tidak kemana-mana." Artinya tidak harus semua anggota tubuh diikat, agar kambing tidak lari atau mengikat kaki kambing saja agar tidak berjalan.


Istilah ini menjadi gambaran pada manusia, kalau ingin dirinya tidak tergiur dengan angan-angan impian dunia yang tinggi, maka ikatlah hati dengan selalu ingat kepada Allah Swt.


Mewujudkan hati tidak tergoyah saat dzikir dan hanya konsentrasi, pasrah kepada Allah Swt. Salah satunya saat dzikir tidak terbawa hanyut oleh wewangian yang datang dan diciumnya, serta tidak berlanjut menganggap dirinya sebagai manusia yang memiliki kelebihan.


Ada pertanyaan dan nilai kritis  yang perlu dipahami. Bagaimana seseorang terindikasi memiliki niat lillah kuat, terpatri dan tidak akan berubah dari niat awal atau  berbalik 180⁰. Ketika saat berdzikir terisi  angan-angan kecintaan dunia yang menjadi tujuannya, keinginan yang berlebihan dengan daftar menu kepemilikan yang begitu banyak diinginkan.


Ingat! bagaimana hati akan bersinar memberi petunjuk hidup pada diri sendiri ataupun orang lain, manakalah syahwat dalam hati, terlalu liar bergerak bebas.  


Jangan sampai terjadi pula saat dzikir dan membaca sholawat hanya berorientasi untuk menggapai hasil dunia semata dan  kemudian akan berlaku selamanya. Karena ketika seseorang sudah tenggelam dalam kemewahan dunia maka akan susah, bahkan dapat tidak muncul ketenangan jiwa dan hati. Sehingga sangat sulit hati bersinar untuk menerangi hidup dan jalan putunjuk Allah Swt.


Bagaimana hati ini akan berjalan menuju ridhaAllah Allah Swt dan mendapatkan ketenangan dalam nikmat-Nya kalau hati dipenuhi oleh tujuan keinginan duniawi semata.


Kedua, dahulukan hak Allah Swt dari pada pribadi. Selama ini penulis sangat menyadari saat akan menunaikan hak-hak  Allah Swt sering terkalahkan oleh kepentingan pribadi. Baik alasan capai, ada keperluan mendesak ataupun lainnya yang semuanya bermuara pada kepentingan diri pribadi penulis sendiri dan bersifat alasan klasik semata.


Adapun yang menjadi hak Allah Swt yaitu segala bentuk ibadah dalam Islam seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan segala macam hukuman pidana seperti hadd zina dan qishash pembunuhan. Hak Allah Swt juga hak yang kemanfaatannya untuk memelihara kemashlahatan umum.


Boleh kita  tidak mensegerakan hak Allah Swt. kalau kita sedang  membantu orang lain yang sangat memerlukan pertolongan, seperti menolong orang yang tenggelam dan lain-lain.


Ketiga, tidak boleh isrof  (melampaui batas atau berlebih-lebihan), baik saat wudhu, mandi maupun melakukan apapun. 


Kalau ketentuanya tiga kali dalam membasuh haruslah diatati, kalau lebih itu namanya isrof, begitu juga mandi, gunakan air secukupnya tidak boleh berlebihan atau bunyi keras saat mengambil air terdengar orang lain.  Perilaku isrof  juga akan membuat tidak wushul (sampai) ilallah dalam berdzikir dan berdoa.


Keempat tidak boleh sombong, apalagi merasa diri menjadi orang kasyaf.


Kasyaf merupakan 

karunia Allah untuk dapat melihat, merasakan dan mengetahui hal-hal ghaib yang tidak bisa diterima akal sehat manusia biasa. Ahlul kasyaf bisa dicapai oleh siapa saja yang berhasil mencapai kedekatan khusus dengan Allah Swt.


Adapun efek kasyaf sangat berat dan bahaya adalah akan menjadi manusia sombong, maka lebih baik menjadi seorang yang mastur (menyembunyikan diri), tidak menjadi manusia terkenal dan memilih menjadi manusia biasa-biasa saja.


Sebagai penguat catatan, yang perlu dipahami, tidak mungkin seseorang mendapatkan rahasia (kasyaf) Allah Swt kalau belum pernah bertaubat.


Kelima, orang tua yang mengasih sodaqoh pada anak tidak boleh diminta kembali. Kecuali hibah, karena hibah itu nominalnya besar dan diminta dalam rangka untuk pengobatan dan kepentingan memenuhi kebutuhan hidupnya.


Keenam, ikhtiar itu hukumnya wajib. Ikhtiar merupakan usaha sungguh-sungguh seorang hamba untuk memperoleh apa yang dikehendakinya. Ketika 

seseorang sedang dalam kondisi sakit, maka  berikhtiar mencari obat atau kesembuhan adalah wajib. Sakit tidak boleh pasrah saja, tetapi ada usaha untuk memperoleh kesembuhan.


Ketujuh, berhati-hatilah dalam menyampaikan berita atau amanat. Karena salah sedikit akan berakibat fatal.


Seperti contoh sedang cek darah  menyampaikanya cuci darah, karena hal itu sangat berbeda jauh sekali artinya dan juga efek beritanya.


Cek darah merupakan usaha untuk  memantau kondisi kesehatan dan penyakit kronis, atau menemukan masalah kesehatan pada tahap awal.

Memeriksa keberhasilan pengobatan atau mengidentifikasi efek samping pengobatan.


Sedangkan cuci darah atau hemodialisis (HD) merupakan  prosedur untuk membuang racun dari dalam tubuh akibat ginjal yang telah rusak.


Sekiranya cukup sekian, catatan mengaji kali ini. Mengaji yang terus menambah malu kepada Allah Swt. Penulispun sangat sadar dalam  kehidupan selama ini,  lebih mendahulukan kepentingan pribadi dari menunaikan hak-hak Allah Swt dan untuk orang lain.


Semoga saja pengajian yang penulis ikuti yang di asuh oleh K.H. Subhan Ma'mun akan menjadi petunjuk jalan dalam kegelapan, hati yang terus bersinar dan tertanam rasa malu yang mengakar. Aamiiin ya roobal aalamin.  Wallahu 'alam bishowab.


Lukmanrandusanga (Rabu, 15/11/2023)

Hidup Sederhana

Hidup Sederhana


Judul di atas penulis tulis sebagaimana disampaikan oleh  K.H. Subhan Ma'mun kepada penulis setelah pengajian selesai dan bersalaman sambil berjalan keluar dari Masjid Agung Brebes, "Hidup Sederhana." kata beliau.


Ngaji ihya (15/11/2023) membicarakan tentang konsep kesederhanaan yang disampaikan oleh Imam Al-Ghozali. Baik dalam berpakaian  dan penggunaan alat rumah tangga. Sebagai konsep hidup yang sangat luar biasa,  tertulis pada tahun 1111 M yang lalu.


Catatan ngaji yang dituliskan ini sebagai  pengingat bagi pribadi penulis dalam setiap mengikuti pengajian bersama K.H. Suban Ma'mun  Mudah-mudahan dapat memberi manfaat kepada para pembaca budiman dan mohon maaf kalau banyak kekeliruan dalam catatan yang sangat sederhana ini.


Beberapa pokok pemikiran dan  pencerahan yang dapat penulis tuangkan kembali dalam ngaji tema hidup sederhana adalah sebagai berikut: 


Berpakaianlah yang layak untuk kita semua terutama para ahli agama, jangan sampai karena faktor pakaian, menjadikan dirinya direndahkan dan akan berlanjut  pada istri atau keluarganya menanggung malu. Hal ini berlaku bagi perempuan maupun laki-laki.


Kesederhanaan dalam berpakaian tidaklah mempertontonkan gaya ngetren di jamannya, namun kerapian dan kesederhanaanlah yang harus dipakai.


Kesederhanaan selanjutnya adalah dalam memiliki perabotan rumah tangga, tidak harus semua yang dimiliki dibuat dan  berasal dari tembaga dan kategori barang mewah, boleh juga yang berasal dari bahan tanah atau disesuaikan dengan lingkungan yang ada (keumuman masyarakat setempat).


Kesederhanaan tidak difahami ngirit, seperti ketika pesta pernikahan dengan  pajangan penganten seadanya. Padahal memiliki uang yang cukup untuk menyewa.


Begitu juga dalam  membantu dari keluarga calon pengantin, baik mahar dan kebutuhan pernikahan jangan pelit. Minimal dalam mas kawin 10 Gram dan tidak ketinggalan pula  membantu sewa pajangan penganten.


Jangan sampai pajangan penganten harga sewa Rp. 50.000.000 (Lima Puluhan Juta) tetapi maskawinya hanya 2 (dua) gram.  Kalau bisa jaraknya jangan termalu jauh. Ambillah maskawin yang 10 Gram dan membantu ongkos pajangan dan tarub keluarga pengantin putri, InsyaAllah dalam berumah tangga akan berkah hidupnya.


Pada era sekarang, sepertinya sudah tidak ada lagi pinjam meminjam barang untuk keperluan hajatan besar. Berbeda pada jaman dahulu masih hal biasa dan dapat dikatakan bukti nilai sosialnya tinggi. Namun  ketika pinjam meminjam barang, seperti piring, tidak boleh. Hal ini termasuk mendustakan agama.


Kesederhanaan dalam hidup bagi kalangan santri telah terlatih dan dipraktekan saat berada di pondok pesantren dengan model hidup prihatin dan wira'i (menjaga seluruh anggota tubuhnya dari hal- hal yang diharamkan).


Kesederhanaan selanjutnya saat

menjamu tamu, kalau bisa disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan keuangan yang dimiliki. Tidak boleh mengada-ngada bahkan hutang demi menjamu tamu, yang berakibat pula  membuat hak anak terkurangi (menistakan anak). Saat tamu datang di rumah, segeralah memberi suguhan, tidak boleh menunda-nunda, entah minuman maupun makanan


Dalam pemenuhan kebutuhan perut juga harus disesuaikan, tidak boleh berlebihan dalam lauk pauknya. Tidak boleh menghina atau mencaci hasil masakan istri. Seorang suami juga, kalau bisa mampu memasak dan membuat sambel sendiri. Hal ini dapat mengurangi kesombongan dan memupuk rasa tawadhu.


Disela-sela ngaji biasanya ada pertanyaan, salah satunya yang tercatat oleh penulis adalah, bagaima kalau pesta pernikahan anak pertama lebih meriah, dengan alasan, karena saat itu memiliki uang banyak, masih muda dan bekerja. Namun  setelah tua, pensiun, pendapatan dan harta terkurang. Menjawab pertanyaan tersebut, menurut K.H.  Subhan Ma'mun dibolehkan saat melaksanakan pesta pernikahan kemeriahannya berbeda-beda.


Pada sisilain kalau ada anak mampu menghafal Al-Quaran lewat HP tanpa adanya guru yang membimbing, maka tidak boleh mengambil ilmu darinya. Ia  harus mencari seorang guru untuk mengoreksi dan mendengarkan hafalannya dan juga untuk menyambung sanad hafalan qur'anya.


Catatan terakhir dalam mengaji kali ini, Ingatlah kesederhanaan melatih manusia bersyukur, maka hiduplah seadanya dan semampunya serta menanamkan prinsip hidup tanpa hutang.  Wallahu'alam bishowab.


Lukmanrandusanga (19/11/2023)



Senin, 02 Oktober 2023

Ijab Qobul Izul dan Aida

Ijab qobul Muhammad Izul Ikhsan dengan Aida Fandilah


Astana langgar, Sabtu (30/9/2023

Ijab qobul Muhammad Izul Ikhsan dengan Aida Fandilah di Masjid Baiturrahman. 


Acara ijab di awali dengan pembukaan, bertawasul kepada Nabi Muhammad Saw, Sahabat, Tabiin Tabiit,  para ulama dan orang-orang muslim dan mukmin yang telah terlebih dahulu menghadap Allah Swt. dengan membaca Surat Al-Fatiha, di pimpin oleh KH. Khaeruddin.


Rangkaian ijab qobul juga terdapat acara sambutan dari keluarga mempelai laki-laki dalam hal ini diwakilkan oleh Bapak Ali Yahya. Dalam sambutannya, beliau mengatakan terimakasih kepada semua keluarga yang hadir di acara ijab pada hari ini.


Kami mewakili dari keluarga mempelai putra membawa dan menyerahkan  "Srah-srahan,"  (seperangkat perlengkapan sarana untuk melancarkan pelaksanaan acara sampai hajat berakhir), yang berisi  makanan, buah-buahan ala kadarnya, dan lain-lain mohon diterima, sebagai hadiah dan shodaqah dari kami.


Selanjutnya kami mengharap doa dari yang hadir pada hari ini, semoga rangkaian acara ijab berjalan dengan lancar dan kedua mempelai dapat menjalani kehidupannya yang sakinah mawadah warahmah.


Jawaban srah-srahan dari pihak pengantin putri diwakili oleh Bapak Suwatno, dalam prakatanya disampaikan  ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya dan saya terima srah-srahan ini dengan ucapan terima kasih, semoga kedua mempelai ini menjadi keluarga yang bahagia dunia dan akhirat dan di beri karunia anak yang shalih-shalihah.


Sebelum pada acara ijab kobul dilaksanakan, terlebih dahulu diawali dengan pengecekan berkas data pernikahan yang terdiri dari nama lengkap pengantin, tanggal lahir, wali nikah dan saksi-saki yang di lakukan oleh Bapak Mustofa  dari KUA Kecamatan Losari. Sekaligus penandatangan para saksi, wali dan calon pengatin pria atas berkas-berkas persyaratan nikah.


Sebelum acara khotbah nikah terlebih dahulu serah terima orang tua dari mempelai putri kepada petugas KUA untuk menikahkan anaknya.


Proses ijab kobul di awali dengan

Pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran yang dilantunkan oleh KH. Muhammad  Bilal.


Dilanjutkan dengan khutbah nikah  yang dibacakan oleh  K.H. Ridwan

pengasuh Pondok Pesantren An-Nasukha Kali Mukti Pabedilan Cirebon.


Khutbah nikah yang penulis dengar, perhatikan dan dapat difahami secara garis besarnya adalah nasehat, khususnya buat calon pengantin dan para pengantin lama untuk mengingat kembali akan perjanjian dan tanggung jawab, saat  ijab qobul dahulu.


Begitu sangat luar biasa nasehat yang K.H. Ridwan sampaikan saat khutbah, tak terasa air mata melakukan terjun bebas melawati pipi penulis.


Penulis kembali menyadari dan bangun dari ingatan  yang begitu sangat berat menerima tanggung jawab sebagai suami, menjaga  sang istri bagaimana  harus selalu taat, patuh dipimpin oleh suami dan mampu membiasakan agar ketika istri pergi telah mengantongi ijin suami.


Jangan sampai menjadi istri yang tidak patuh kepada suami, karena perjalan Isro Mi'roj Rasulullah Saw telah di perlihatkan tentang kondisi penguni neraka yang dipenuhi dan  paling banyak di isi oleh kaum perempuan.


Kepatuhan pada suami sebagai nilai ibadah dan karena menjalankan nikah itu sendiri juga merupakan ibadah kepada Allah Swt.


Pernikahan menjadi salah satu jalan untuk mendapatkan ridha Allah Swt dan keselamatan di dunia dan akhirat.


Penulis dibuat kedua matanya terbelalak, kaget laksana mendengar jerita hati, membuat kedua matanya terasa sakit dan mengeluarkan airnya. Membuka kembali kenangan menikah  dalam rangka menjalankan perintah agama, sebagaimana Rasulullah bersabda: “Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertaqwalah pada Allah Swt pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman).


Manusia secara sadar dikendalikan oleh dua keinginan sahwat biologis (perut dan kemaluan). Kerakusan manusia diakibatkan karena untuk memenuhi kebutuhan perutnya. Sedangkan shahwat kemaluan kalau tak mampu membendungnya dapat mendorong manusia berbuat zina, 

dengan menikah inilah berarti memenuhi kebutuhan biologisnya dengan cara yang sah dan berarti telah menyempurnakan agamanya.


Siapa yang melakukan pernikahan berarti ia telah melindungi setengah agamanya. Selanjutnya  bertaqwa kepada Allah Swt dengan sungguh-sungguh dalam rangka untuk setengah agama yang kedua. Nikah menjadi isarat sebagai perisai perlindungan diri dari penyimpangan dan kerusakan. Karane dapat disimpulan dalam kehidupan dunia

yang menjadi perusak agama seseorang adalah kemaluan dan perut dengan menikah maka salah satunya telah terpenuhi.


Penulispun di ingatkan kembali, saat mendengarkan khutbah nikah bahwa ijab qobul  ini menjadi sahnya pelimpahan pertanggung jawaban, apa yang dilakukan oleh istri menjadi tanggungjawab suami dunia sampai akhirat, yang sebelumnya menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya.


Pernikahan dalam al-Quran Surat An-Nisa: 21).  disebut sebagai mitsaqan ghalidza atau "perjanjian agung"


وَكَيْفَ تَأْخُذُوْنَهٗ وَقَدْ اَفْضٰى بَعْضُكُمْ اِلٰى بَعْضٍ وَّاَخَذْنَ مِنْكُمْ مِّيْثَاقًا غَلِيْظًا


Dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lain (sebagai suami-istri). Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu.


Mitsaqan ghalidha, memiliki arti bahwa pernikahan bukan sebuah perjanjian yang bisa dimain-mainkan.  Mistaqan Gholidha dapat disebut juga sebagai kata-kata yang dikeluarkan oleh pihak laki-laki saat ijab qobul atau

pengakuan (yang erat) atau berat, yakni berupa perintah Allah Swt agar memegang mereka secara baik-baik atau melepas merekapun secara baik-baik pula.


Perjanjian bagaimana menjaga istri agar saat berhias untuk sang suami bukan untuk diperlihatkan kepada halayak umum, ini juga menjadi janji yang harus di pegang kuat walaupun sangat berat dalam  menjalankannya.


Nikah menjadi perjanjian yang mudah diucapkan dan sangat berat untuk merawat dan memegangnya. Nikah sebagai perjanjian dan ikatan yang akan memiliki usia lama dijalaninya, perlu pengobanan dan kesabaran dalam merawatnya pula.


Khutbah nikah bagi penulis yang ikut menyaksikan ijab qobul mas Izul laksana badan yang tersiram air dingin untuk menyegarkan kembali ingatan perjanjian suci penulis dengan istri.


Setelah khutbah nikah selesai dilanjutkan dengan proses ijab kobul, namun sebelum pelaksanaan ada proses latihan terlebih dahulu.


"Mau menggunakan bahasa apa" tanya pak pengulu menawarkan kepada calon pengantin laki-laki dalam proses ijab qobul. 


"Bahasa arab" jawab mas Izul dengan tegas. Sehingga cukup jelas bahwa proses pernikahan Mas Izul 

menggunakan bahasa arab.


Latihan ijab qobulpun dimulai... dan ternyata hanya cukup latihan sekali saja langsung lancar. Sehingga proses nikah bisa langsung dilaksanakan.


Para saksipun di minta oleh bapak pengulu untuk memperhatikan dan mendengarkan proses berjalanya ijab qobul.


Saat pak pengulu memberikan isarat untuk menjawab,  maka mas Izul langsung berkata Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur...


Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jama'a bainakumaa fii khoir.  Doa keberkahan buat kedua mempelai setelah proses ijab kobul selesai dilaksanakan yang dipimpin oleh petugas dari KUA Kecamatan Losari.


Pengantin putri selanjutnya dihadirkan dan disandingkan dengan pengantin laki-laki, untuk menantangani buku nikah dan menerima mahar dari penganten putra.


Acara dilanjutkan dengan proses resepsi dirumah pengantin putri. Kedua mempelai berjalan dari masjid menuju rumah pengantin putri, untuk mendapatkan ucapan selamat dan bekal dalam mengarungi dunia barunya.

Wassalam 


Lukman Randusanga (3/9/23)

Rabu, 13 April 2022

HAWA DAN HAWA NAFSU

HAWA DAN HAWA NAFSU

Assalafiyah Luwungragi, Rabu 11 Ramadhan 1443 H (13/4/22).  Ngaji puasanan bersama K.H. Subhan Ma'mun dengan kitab Atqiyatul al-Atqiya 

Sebagai catatan pengantar tulisan ngaji kali ini, penulis mencoba kembali membuat rangkaian kata untuk memahami judul di atas, sebagai acuan penulisan.

Secara garis besar manusia diciptakan memiliki keinginan ataupun potensi  baik (taqwa) dan keinginan buruk (nafsu). Dari keduanya pun ada  keseimbangan (at-tawazun) dan nilai-nilai  kemanusiaan (al-basyariah). Hawa nafsu dapat juga menjadi fitrah manusia  sejak lahir, yang di dalamnya ada nilai manfaat dan madorotnya.

Dalam Bahasa Indonesia, hawa nafsu bermakna keinginan atau dorongan hati yang kuat untuk melakukan perkara yang tidak baik, seperti syahwat dan sejenisnya.

Hawa sendiri memiliki arti sesuatu yang dicintai, atau sesuatu yang membuat senang. Sedangkan hawa nafsu bisa bermakna kecintaan terhadap  nafsu. Merasa senang dengan melampiaskan  atau mengumbar nafsu.

Sifat hawa sendiri merupakan kecenderungan hati terhadap apa yang dilakukan tidak baik dan ada modus perlawanan dan menghindar terhadap ketentuan syariat. Oleh karena itu, fungsi ngaji  yang kita lakukan untuk menyadarkan hati dari hawa nafsu.

Pada sisi lain, hawa dapat diartikan sebagai keinginan dan nafsu adalah jiwa. Sedangkan pada setiap jiwa manusia cenderung untuk berbuat dosa dan maksiat. Manusia pun selalu dihadapkan pada dua pilihan, yaitu baik dan buruk.  Secara umum, kecenderungan manusia memilih menurutii hawa nafsu atau sesuatu yang buruk.

Sebagai contoh,  ketika ada pilihan mengaji atau istirahat, maka pilihan istirahat lebih menarik.  Begitu juga ketika ada pilihan, shalat tahajud atau istirahat, jiwa manusia cenderung memilih istirahat. 

Hawa dan hawa nafsu pada seseorang kalau dikembangkan, akan menghambat potensi untuk menciptakan berbuat baik,  keadilan, ketenteraman, keamanan, kesejahteraan, persatuan dan hal-hal baik lainnya. Sedangkan kalau hawa nafsu ditekan agar tidak muncul bebas ke permukaan dan dapat dikendalikan dengan baik, maka akan mewujudkan keseimbangan hidup  dan  kebahagian. Selanjutnya manusia akan berjalan pada jalur hukum dan syariat yang benar.

Dalam perspektif psikologi, hawa nafsu dapat dikatakan sebagai kekuatan psikologis yang dapat menyebabkan suatu hasrat atau keinginan intens terhadap suatu objek atau situasi demi pemenuhan emosi tersebut. Dapat berupa hawa nafsu untuk pengetahuan, kekuasaan, dan lainnya; namun pada umumnya dihubungkan dengan hawa nafsu seksual.

Hawa nafsu tanpa kontrol ketaqwaan akan memberikan dampak yang sangat berbahaya.  Sebagai contoh kehancuran di muka bumi ini terjadi karena hawa nafsu manusia yang tak terkontrol.

Mengikuti hawa nafsu akan membawa manusia kepada kerusakan. Akibat pemuasan nafsu jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan manfaat yang didapat darinya. Hawa nafsu yang tidak dapat dikendalikan juga dapat merusak potensi diri seseorang.

Bahaya bagi yang mengikuti hawa nafsu adalah akan membuatnya menyimpang dari kebenaran, sebagaimana panjang angan-angan akan membuatnya lebih mencintai dunia. Namun jika nafsu  dikendalikan dan dikelola dengan baik, akan melahirkan manusia yang berakhlak mulia. Seperti sifat marah pada suami, jika dibiarkan, bisa mengakibatkan talak (perceraian rumah tangga), pertengkaran, bahkan pembunuhan. Namun, jika sifat marah dikendalikan, akan menjadi ketegasan dalam kepemimpinan dimana pun ia berperan. Baik dalam rumah tangga, di tengah pergaulan ataupun masyarakat  luas.

Setan memasang perangkat pada manusia dengan berbagai ranjau nafsu. Dalam proses menghindari ranjaupun harus dilakukan sedikit demi sedikit, tidak bisa langsung, ada proses,  step by step dan perlu kesabaran.

Mari bagun jiwa kita dengan taqwa, karena
taqwa menjadi pokok segala kebahagiaan.
bangunan apapun tidak akan kokoh tanpa didasari taqwa. Kemuliaan tidak diperoleh dengan banyak harta dan kekayaan yang dimiliki.  Hanya ketaqwaan yang akan menjadikan pribadi yang mulia.

Taqwa ini pulalah sebagai usaha untuk mengekang hawa nafsu. Taqwa yang ada pada seseorang,  bagaikan orang yang sedang dalam usaha, dan berkumpul bersama orang-orang sukses.  Sehingga sangat wajar, jika ia akan diberi kesuksesan pula. Baik dalam rezeki mapun yang lainnya.

Sungguh sangat celaka, apabila menjadi manusia yang hidupnya senantiasa berbuat dosa, dan makin bertambah dosa. Belum sempat memohon ampunan sudah melakukan perbuatan dosa lagi.
Belajarlah pada cerita Nabi Adam yang dikeluarkan dari surga karena melakukan satu kesalahan, terperangkap pada modus 
hoaksnya setan. Wallahu'alam bishowab.
(Lukmanrandusanga).

Sabtu, 09 April 2022

BELUM MAMPU MEMBERI MANFAAT ORANG LAIN, MINIMAL BERMANFAAT UNTUK DIRI SENDIRI



BELUM MAMPU MEMBERI MANFAAT ORANG LAIN, MINIMAL BERMANFAAT UNTUK DIRI SENDIRI

Sabtu,  (9/4) ngaji puasanan Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi, yang disampaikan K.H. Subhan Ma'mun di sore hari yang tak pernah sepi walaupun selalu terguyur hujan.

Dihari yang ke-7 bulan Ramadhan 1443 H. Alhamdulillah penulis masih bisa mengikuti ngaji bersama beliau, walaupun kadang harus melawan rasa sakit di leher yang selalu tegang dan panas. Maklumlah lehernya suka tegang sendiri, tak kala sedang dan sesudah menulis. Akhirnya penulis harus minum obat, untuk mengurangi ketegangan dan rasa sakit di lehernya.

Dengan modal semangat sehat, Penulis mencoba kembali membuat catatan ngaji, yang difahami disetiap penjelasan yang disampaikan K.H. Subhan Ma'mun selaku guru dan motivator penulis dalam beribadah.

Penulispun sangat yakin, bahwa dalam setiap catatan ngaji sangat jauh dari  kesempurnaan. Namun penulis berharap mudah-mudah tulisan ini bermanfaat untuk pembaca, kalau tidak? insyaAllah bermanfaat untuk diri penulis sendiri. Minimal ada sedikit usaha untuk faham dari setiap ngaji, yang disampaikan beliau. Walapun hanya persentasinya sedikit.


Dicatatan kali ini, penulis mencoba menulis poin-poin yang disampaikan beliau, namun hanya sebatas mengandalkan kemampuan pendengaran dan pemahaman penulis semata dan sedikit penambahan kalimat agar enak dan renyah dibaca. Maaf itu hanya pembelaan penulisan saja.


Adapun poin-poin yang dapat penulis, sajikan dann tuangkan dalam monitor mungil ini adalah sebagai berikut.

Bau harum tidak hanya berasal dari minyak wangi, bau harum dapat dari bungah, buah dan pohon. Namun bau harum yang satu ini, datang dari manusia pilihan Allah SWT.  Nabi yang  tidak hanya menyelamatkan manusia untuk memiliki akhlak yang mulia, namun dari apa yang menempel di badanya adalah keharuman. Mulai dari keringatnya, bersalaman membuat harum, bekas majlis belajar bersama para sahabatpun meninggalkan keharuman.

Keharuman Nabi Muhammad SAW, ternyata tidak hanya dirasakan oleh sesama manusia, semua alam dan Malaikatpun merasakan keharuman Nabi  pemberi syafaat (pertolongan) kepada pengikutnya. 

Tidak ketinggalan pula, majlis yang didalamnya ada bacaan sholawat, maka akan menebarkan keharumannya juga, yang hingga sampai ke Ars. Singgasan Allah SWT.

Dalam bacaan sholawat, memang ada kekhususan yang tidak dapat merasakan keharumannya, yaitu jin dan manusia. Hal ini dimaksud untuk mengingatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki keunikan dan istimewa. Disamping untuk beribadah, manusia juga memiliki kewajiban penjaga dan perawat dunia, bekerja, berusaha dan belajar.

Kalau manusia dapat mencium keharuman bacaan sholawat, dikhawatirkan akan tidak usaha lagi.  Hidupnya hanya ingin selalu berada dalam kenikmatan keharuman bacaan sholawat.

Hal ini juga, yang melatarbelakangi, pada setiap thorikoh, ada lantunan bacaan sholawat yang dilanggengkan. Karena keharuman sholawat juga menjadi energi tersendiri bagi siapa saja yang membacanya.  Ditambah bacaan istigfar sebagi penyapu debu-debu dosa dan kalimat hillalah (laa ilaha illallah)  sebagi deterjennya  

Bacaan sholawat itu selalu menyejukan, tenang dan semerbak harum baunya kemana-mana ketika diaaca. Setiap manusia membaca sholawat, para malaikat menemukan keharumnya dan memohonkan ampunan bagi yang  membaca pula.

Setiap manusia yang membaca sholawat akan dibalas dan dicatat masuk kebaikan-kebaikan dalam majlisnya. Keseringan sholawat juga akan menjadikan wusul kepada Allah SWT.

Ada kisoh dari ahli sholawat, Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli sebagai pengarang kitab dalail khairot. Setelah beliau meninggal dan dikebumikan beratus-ratus tahun. Terpaksa jenazahnya harus di pindah ketempat lain, karena ada program pembuatan dan pelebaran jalan.  Pada saat akan memindahkan makamnya, ternyata jenazahnya masih utuh dan seperti masih baru, padahal umur makam tersebut sudah ratusan tahun.


Bagi manusia yang selalu memperbanyak dan merutinkan sholawat, mala Allah SWT akan mengharamkan manusia tersebut dan mengharamkan terkena api neraka.

Sebuah keistimewaan bagi manusia yang suka membaca shokawat, akan langsung dibalas oleh Allah SWT. Ketika manusia membaca 1 sholawat kepada Nabi Muhammad. Maka akan dibalas 10 (sepuluh)  kali oleh Allah SWT. 100 dibalas 1000. Dan seterunya denga kelipatan 10.

Para guru thorikoh yang bisa wusul juga, salah satunya dengan banyak membaca sholawat. Termasuk wajahnya yang dipandang sejuk dan ceriah itu berkat sholawat pula.

Sebagai pengingat dan pesan dalam tulisan ini kepada para pembaca, kalau membaca sholawat jangan hanya karena mengejar kuantitasnya saja tapi kualitas juga harus di perhatikan.

Bacalah sholawatlah dalam keadaan suci, menghadap kiblat, tartil, tertib tidak buru-buru dan orientasi jumlah semata, serta mendapatkan bacaan sholawat dari guru yang memilki jalur nasab ilmu sholawat yang jelas. 
Wallahu 'alam bishowab.
(Lukmanrandusanga)

Rabu, 06 April 2022

MEMBUKA TABIR DOA YANG TERKABUL


MEMBUKA TABIR DOA YANG DIKOBUL

Ngaji  ke-4  Rabu (6/4) puasa ramadhan bersama K.H. Subhan Ma'mun di pondok pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Brebes. 

Kalimat Allah itu Ismu al-adzom (nama-nama yang agung), dan barang siapa yang berdoa dengan diawali ismu al-adzam tersebut maka hal itu didalamnya memiliki nilai keagungan Dzat Allah dan Allah akan mengabulkan bagi hamba yang berdoa dengai ismu Al-adzab tersebut. Seperti di awali dengan asmaul husna-Nya.

Ismu Al-Adzam yang selalu di sebutkan dalam doa, akan menjadi jawaban bagi hamba-Nya. Nama Allah yang agung ketika disebut saat berdoa, maka Allah SWT akan menjawab dalam doa-doa yang dipanjatkan oleh setiap hamba-Nya.

Bagi manusia sebagai hamba Allah SWT, kalau ingin mendaptkan doanya cepat di kabul, maka ada beberapa syatat yang harus dipenuhi, dalam prosedur doa tersebut.

1.  Isilah perutnya dengan makanan yang halal.  Sehingga yang dikeluarkan oleh energi, baik perkataan maupun perbuatan adalah dalam kondisi clean.  Suara yang keluar dalam doa, dihasilkan dari asupan dan energi yang suci.

Dengan kekuatan energi halal, akan mendorong  doa melejit ke langit menuju Allah SWT.  Makanan halal juga menjadi kunci pembuka, langit-langit yang tertutup oleh kunci-kunci yang bergerigi.

Makanan yang halal juga dapat menjadi nilai kemulyaan untuk menuju Allah SWT, ditambah dzikir yang selalu di mulai dengan nama-nama yang mulia dalam asmaul husna, akan mengangkat manusia dalam  derajat yang tinggi pula.

Dzikir yang baik yang sudah menjadi rutunitas dalan keseharian, sebaiknya pula diiringi dengan amal shalih, agar kekuatan dzikir akan mengkat derajatnya.

Sebagai koreksi bersama, bagaimana doa yang diminta akan terkobul, akan tetapi setiap hari makanan yang dimakan, merupakan barang-barang yang tidak halal. 

2. Menjadi syarat yang kedua agar doanya dikobul oleh Allah SWT adalah Ikhlas, berdoalah dengan ikhlas semata-mata minta kepada Allah SWT, bukan karena yang lain. 

Mari koreksi kembali, ketika doa kita belum terkobulkan, apakah ketika kita doa sudah ikhlas apa belum, penuh keterpaksaan atau emosional.  Jangan sampai doa yang kita panjatkan menghasilkan kemarahan, karena doanya tidak dikabul.  Padahal kesalahan ada orang yang bersoa sendiri.

3. Syarat yang ketiga adalah, ketika berdoa untuk berusaha dapat khusu' artinya berusaha sebaik mungkin saat berdoa hati di hadirkan dan mantap penuh keyakinan menghadap Allah SWT.

Bagaimana sebuah permohonan akan dikabulkan, ketika saat melakukan permintaan tidak serius. Jasadnya menghadap Allah SWT, tetapi diketahui hati dan pikirannya menghindar  dalam setiap lisan yang diucapkan.

Oleh karena itu, mari sadari bersama ketika doa doa kita belum terkobul oleh Allah SWT, apakah karena makanan yang tidak halal, tidak ikhlas atau tidak serius dalam berdoa. Wajahnya menghadap Allah SWT  Tetapi hati dan pikiranmya melayang-layang mengikuti nafsu dan sahwatnya.

Semoga dengan doa-doa yang terus dipanjatkan untuk saat sekarang, sudah diawali dengan aksesoris tubuh yang halal dan bersih. Sehingga langsung menembus pintu-pintu langit dan dikobul. Aamiiin.


Minggu, 03 April 2022

MERAIH PAHALA RAMADHAN LEWAT NGAJI

MERAIH PAHALA LEWAT NGAJI

Ahad, 1 Ramadhan 1443 H (3/4/22) pembukaan ngaji sore hari pukul 16.00 - 17.15 Wib. setiap hari selama Bulan Puasa. Di pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Brebes. Dengan kitab yang dikaji Kifayat al-Atqiya' Wa Minhaj al-Ashfiya. karya Sayid Bakari al-Makki bin Sayid Muhammad Syatho ad-Dimyathi

Ngaji dimulai dari pembacaan muqodimah kitab.  Segala puji bagi Allah SWT yang menghususkan hamba-hambanya yang mulia dengan petunjuk.  Menghasilkan kemuliaan dan keagungan. Dan menghapus dari hati kegelapan selain Allah, mencintai orang baik. Memberi kesabaran dan ilmu serta bersih dari seluruh kotoran

Orang yang baik akan diberi keistimewaan karena taufiknya Allah. Dari pertolongan tersebut manusia akan mendapatkan kemulyaan dan kejayaan. Tertutup dari jalan kegelapan untuk berbuat kesalah terhadap hukum Allah, dan kecintaan dunia yang berlebihan, serta  akan tunduk terhadap garis yang ditetapkan.

Hidayah diperoleh manusia bisa didapat karena petunjuk ilmu. dan darinya dapat  menyebabkan memiliki hati yang bersih. Namun hati yang bersih dapat pula diperoleh dengan membaca Al-Quran dan berdzikir.

Selawat serta salam semoga untuk seorang yang diberi mahkota dengan mahkota keagungan.  Dan dengan kedatangannya membuat seluruh daerah bercahaya Yaitu tuan kita Muhammad Saw yang menganjurkan ketaatan kepada yang Maha Mulia dan Maha Pengampun. Melarang untuk mengikuti kesenangan dan nafsu setan.

Sesungguhnya Allah SWT memberi cahaya pada bumi, karena adanya Nabi Muhammad  Saw.

Mudah-mudahan dengan sebab sholawat serta salam, akan dimudahkan dalam memperoleh tujuan dan kebutuhan hidup. Diampuninya segala dosa, untuk kita, saudara, para pendatang dan pemukim penduduk asli.

Nabi Muhammad Saw, merupakan sosok Nabi yang mengingatkan manusia untuk  tidak mengikuti hawa nafsu setan.  Memegang kuat keimanan agar dapat hidayah, untuk  mencegah godaan setan dan hal-hal yang membahayakan terjerumus dalam jebakan setan pula.

Ketika manusia memiliki sifat cinta, dan sesungguhnya cinta itu dari AllahSwt. Oleh karena itu jangan rusak sifat cinta tersebut dengan melakukan perbuatan jelek. Rawatlah cinta dengan selalu mencintai Allah Swt.

Ada penekanan dalam mokodimah kitab, bahwa segala amal yang banyak dilakukan manusia, sehingga dapat diterima dan menghapus dosa, itu semua karena fadilah dari Allah Swt. Bukan semata-mata karena usaha dan kegigihan manusia. Karena amal yang dilakukan secara akal tidak mungkin diterima.

Sifat ilmu yang dikaji sangat luas, dan tidak manusia dapat mendapatkan semua ilmu walaupun hidup seribu tahun. Oleh karena itu cukup lah hidup dihidupi dengan ilmu yang manfaat. dan ketika sudah menjadi mulya karena ilmu maka jangan thoma. Agar selalu diberi petunjuk Allah Swt dapat hidup berada dijalan-Nya.

Satu lagi bagi pemilik ilmu, ketika ilmu yang didapat ada yang memintanya maka jangan ditolak. Jadikan hidup selalu berada pada yang baik, sehinga akan menjadi orang  baik. Begitu juga ketika seneng ngaji, dan sifat dasar mengaji sendiri adalah perbuatan yang  bagus, sehingga orang yang suka mengaji akan terbawa pada perilaku bagus.

Perlu diketahui, Ilmu dan amal yang sesuai irama dengan ketentuan hukum Allah Swt, akan membentuk hati selamat dari sifat marah, hasud dan ria. Oleh karena itu seorang ilmuan tidak boleh takut atau bingung tidak menjadi terkenal dan menjadi miskin, susah memenuhi kebutuhan hidupnya. Berlatihlah untuk meninggalkan sombong dengan riyadho dan suka memaafkan atas kesalahan orang lain.

Sebagai catatan tambahan mengaji, untuk memiliki anak yang mulia, maka anak harus dikenalkan para orang-orang yang baik, para ulama dan ahli thoriqah.

Ketika seseorang senang mengaji, maka baginya dapat dikatagorikan orang yang berusaha dalam rangka mendapatkan pahala seperti pahala orang mati sahid. Mengajipun sebuah usaha untuk dekat ulama dan mendapatkan safaatnya.

Ada 3 golongan orang yang kelak di akhirat diberi wewenang oleh Allah SWT untuk memberi syafaat. Ketiga golongan manusia tersebut adalah para Nabi, ulama, dan syuhada.

Diakhir mukodimah ada tradisi baik yang diwariskan oleh para ilmuan dalam setiap mengarang kitab, kerendahan diri dan menerima koreksi setelah dibedah dan dikaji secara serius. Permohonan maaf apabila ada kekeliruan dalam menulis kitab. Wallahu'alam bishowab.
Lukmanrandusanga


Selasa, 29 Maret 2022

KHIDMAH PADA ILMU


KHIDMAH PADA ILMU

Oleh : Lukman Nur Hakim.

Cirebon, Senen 6 Desember 2021. Promosi doktor H. Thobari di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dengan judul Desertasi "Kepemimpinan  Kyai Pesantren Tradisional dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Era Globalisasi." Studi kasus di Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi dan Pondok Pesantren Darussalam Jatibarang  Brebes. 

Dalam orasi ilmiah yang disampaikan oleh K.H. Subhan Ma'mun, diujian terbuka promosi doktor H. Thobari kepala MAN  Kota Tegal. Beliau menyampaikan. Konsep pondok pesaantren tradisional Assalafiyah tetap mengacu pada kurikulum literatur karya-karya ulama terdahulu. Walaupun kondisi pondok pesantren berada pada era globalisasi.

Pesantren tradisonal memiliki ciri yang mengikat sangat kuat. Salah satunya mengakat perekonomian lingkungan stempat.  Dunia pesantren tidak menerapkan monopoli usaha. Lingkungan Pondok diberi keleluasaan untuk menjajagan makanan maupun memenuhi kebutuhan para santri yang ada di Pondok Pesantren.

Karakteristik dan corak pesantren Tradisional secara umum mempunyai kebebasan penuh dalam sistem kurikulum yang diterapkan, lebih mengutamakan kesederhanaan, idealisme, persaudaraan, persamaan, rasa percaya diri dan keberanian. Di samping itu, adanya rumah tempat
kiyai bersama santrinya dalam pondok,  memfungsikan masjid sebagai tempat kegiatan belajar mengajar. Posisi santri dan Kyai merupakan tokoh sentral di pesantren dalam proses belajar mengajar.

Sistem  pondok pesantren tradisional, pengajarannya sangat kental dengan kitab-kitab Islam klasik.  Walaupun pertumbuhan dan perkembang keberadaan pesantren tradisional ditengah masyarakat sering berhadapan dengan implikasi politis dan kultural yang menggambarkan sikap pengasuh pondok pesantren disepanjang sejarah. 

Warna sikap pondok pesantren tradisional, dalam aktivitas keseharian tidak mengelola kebutuhan biologis para santri dan pemenuhan kebutuhan diri seperti kebersihan pakaian (Laundry). Semua diserahkan para santri untuk memilih kemana mereka akan memenuhi kebutuhan lapar dan hausnya serta kebersihan pakaiannya.

Pondok Pesantren tradisional  memberi peluang usaha bagi mereka yang rumahnya dekat dengan pesantren. Kehadiran pesantren memiliki komitmen kuat untuk memberi kemanfaatan untuk peningkatan ekonomi masyatakat.

Selanjutnya lingkungan akan menjadi saksi,  dari kebaikan para pengasuh  pesantren dalam pengelolaan pendidikan. Tetangga kanan kiri, depan dan belakang. Ketika mereka melakukan persaksian terhadap pengelola pesantren dengan baik. Maka Allah SWT akan menerima kesaksian kebaikan dari para tetangga.

Kehadiran pesantren tradisional tidak dapat dipisahkan dari tuntutan kebutuhan umat. Pesantren tradisional menjaga hubungan yang harmonis dengan masyarakat di sekitarnya sehingga kehadirannya
mendapat dukungan dan apresiasi penuh. Alhasil penilaian positif dan keorisinilan menjadi wajah pesantren tradisional di mata masyarakat  serta mendapat suport sistem pesantren tradisional untuk maju dan dikembangkan bersama-sama, antara pengasuh pesantren itu sendiri dan lingkungan pesantren.

Pesantren adalah ladang ilmu, dan perguruan tinggipun memiliki kedudukan yang  sama. Mereka yang ada dikeduanya merupakan orang-orang yang mengabdikan diri pada ilmu. Maka dengan mengabdikan diri pada ilmu, secara otomatis mendapatkan fadhilah dari ilmu yang diajarkan. Secara langsung dijawab seketika itu dalam kehidupan di dunia "Orang yang mau mengabdikan (khidmah)  pada ilmu, maka akan mendapatkan pertolongan atau bantuan dari manusia lainnya. 

‌Khidmah pada ilmu tidak bisa lepas dari keinginan mendapat keberkahan,  jalan petunjuk dan mengalirnya  kucuran cahaya dari ilmu itu sendiri. Khidmah secara umum memiliki arti   melayani atau membantu. Khidmah pada ilmu dapat dikatakan mengabdikan hidupnya untuk ilmu. Mengajar, meneliti dan mengembangkan keilmuan yang dimiliki untuk dapat  disampaikan dan disebarluaskan untuk kepentingan pengetahuan orang banyak.

Khidmah pada ilmu, memilki makna juga menyampaikan ilmu dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, yang semata-mata hanya mencari ridlo Allah SWT. 

LULUS


LULUS
Oleh : Lukman Nur Hakim

Randusanga, kamis 22 Januari 2020 Pukul 11.00 WIB. Suasana pemakaman orang tua penulis, Alm. H. Moh. Syamsuri bin H. Sakyadi. Di Pemakaman umum Desa Randusanga Kulon Brebes.

Kata lulus dalam judul di atas, Tidaklah  identik pada dunia akademik,  lulus sekolah, kuliah ataupun lulus tes dalam dunia kerja semata.  Namun kata-kata lulus yang diterima penulis adalah  lulus setelah menghantarkan orang tua penulis H. Syamsuri bin H. Sakyadi kembali menghadap Allah SWT.

Sebuah kebahagiaan bagi kami ketika mampu menghantarkan proses memandikan, bisa melibatkan cucu cucunya secara langsung ikut memangku jenazah, dan penulis yang memandikannya. Kemudian  menyolati secara berjamaah, mengadzani dan menguburkannya. 

Sesaat jenazah telah selesai diadzankan kemudian penulis naik dari liang kubur dan membiarkan orang tua penulis terus ditimbuni tanah oleh para penggali kubur. Tatapan  penulis saat itu, hanya tertuju pada liang lahat tempat peristirahatan orang tua penulis, setelah tidak bisa istirahat di rumah sendiri yang ditinggali berpuluh-puluh tahun.
 
Suasana duka terus menyelimuti penulis, sambil terus menatap orang tua penulis yang tubuhnya sudah tak terlihat lagi, tertutup oleh tanah. 

Disaat berdiri disamping kuburan orang tua penulis. Tak lupa sesekali menengok ke kanan dan ke kiri, melihat saudara, adik-adik almarhum, cucu dan keponakan. Terlihat sesekali mengusap air mata yang terkadang masih ke luar, melihat orang yang dicintai sudah harus berpisah.

Ketika penulis harus mundur beberapa langkah ke belakang, untuk memberikan keleluasaan para penggali kubur, meratakan tanah di samping dan meninggikan makam abah penulis dengan pasir 2 (dua) gerobag, yang  menjadi kesepakatan warga dalam setiap ada mayit yang mau dikubur,  harus ditambah 2 (dua) gerobak pasir yang dibeli dari keluarga almarhum. Ternyata ada kyai, guru yang sekaligus teman yang menjadi curhatan penulis, ketika ada masalah dan menanyakan hukum.

Tanpa penulis sadari, beliau menyalami penulis, walaupun saat itu sedikit malu untuk menerima salamannya karena tangan penulis kotor penuh lupur. Beliaupun berkata perlahan-lahan sambil menepuk pungguh penulis "Lulus." 

"Njenengan sudah lulus,"  mendengar kalimat ini penulis hampir saja tidak kuat menerimanya. Badan menjadi lemas, gemetar dan rasanya ingin menangis sekeras-kerasnya, namun saat itu penulis harus kuat berdiri tegak di hadapan makam orang tua. Walaupun penulis tidak bisa menahan air mata yang terjun bebas membasahi pipi. 

Kalimat lulus, bagi penulis bagaikan cambuk, menggetarkan rasa haru dan bangga bagi penulis. Predikat lulus keluar dari sang guru, kepada penulis setelah selesai proses pemakaman. Tugas anak berbakti, mengabdi dan mengatarkan orang tua menuju  peristirahatan terakhir.

Doa yang terus dipinta pada Allah SWT, telah terkabulkan. Penulis bahagia, dapat mendampingi orang tua saat sakit, berobat ke dokter, mentalkin menyebut nama Allah SWT saat akan kembali kepada-Nya, memandikan, mensholati dan menguburnya. Selamat jalan Abah, engkau adalah guru kehidupan penulis. InsyaAllah husnul hotimah.

Teruntuk Abah H. Syamsuri bin H. Sakyadi Alfatihah.

BERWASIAT TAQWA DAN BERDZIKIR


SALING BERWASIAT KETAQWAAN, BERSZIKIR DAN BERPIKIR DALAM BERTHORIQOH 

Oleh : Lukman Nur Hakim


Mushola Sabilul Huda Klampok, Minggu pahing 7 Nopember 2021, Putaran ke 240 jam'iyah Ahlithoriqoh Al-mu'tabaroh  Assadziliyah Kabupaten Brebes. Adapun kitab yang di kaji adalah Kifayat al-Atqiya' Wa Minhaj al-Ashfiya. karya Sayid Bakari al-Makki bin Sayid Muhammad Syatho ad-Dimyathi, yang dibaca oleh K.H. Subhan Ma'mun pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes. 

Dalam Kifayatul Al-atqiyah  mengajarkan para pembaca untuk mengasah ketajaman rohoni melalui tasawuf suni bukan tasawuf yang melanggar ketentuan Alquran dan sunah. "Tarekat para syekh yang dilandasi oleh  sumber utama Islam  yakni Alquran dan sunah," 

( Gambar, jamaah Thoriqoh Assadziliyah putaran 240 di Mushola Sabilul Huda Klampok) 

Dalam Kifayatul Al-atqiyah menegaskan bagi para pembaca yang ingin menuju perjalan akhirat maka bekal taqwa adalah pijakan yang pertama dan mendasar sebagai mana syair beliau yang berbunyi :
"Taqwa al ilahi madaru kulli saadatin tiba'u ahwa ra'su syarrin habaila." (Takwa kepada Allah pusat segala kebahagiaan dan mengikuti hawa nafsu pangkal keburukan).

Takwa merupakan dasar terpenting yang mengumpulkan semua kebaikan baik dunia ataupun akhirat. Tak pelak, sejumlah kalangan pun lantas mencoba memberikan definisi yang komprehensif tentang pengertian takwa.

Landasan  taqwa  diartikan  sebagai bentuk ketaatan atas perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya secara lahir dan batin.  Dengan penekanan sikap  rasa pengagungan, tunduk, dan takut terhadap Allah. Taqwa juga perilaku  untuk menghindari apa pun selain ridha Allah. 

An-Nashr Abadzi, Sayid Bakari  mengatakan  siapa pun yang membumikan sikap takwa maka kecenderungan yang ada di hadapannya tak lain hanyalah keinginan menjauhi dunia yang fana. Hal ini disebabkan oleh keyakinan yang amat mendalam akan janji Allah.

Ketaqwaan menjadi kesungguhan  kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa.  Sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-An'am ayat 32 "Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa."

Lebih dalam  Sayid Bakari mengemukakan, takwa menuntut seseorang untuk menjauhi hawa nafsu yang kerap dipenuhi oleh tipu daya setan. Akibatnya, kepatuhan terhadap nafsu berakibat pada kebinasaan. Bahkan, Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Sya'b al-Iman, pernah mengingatkan umatnya agar tidak teperdaya oleh nafsu setan.

Inilah yang perlu ditekankan kepada para pembaca, khususnya mereka yang mengkaji bersama para guru thorikoh  untuk menjadikan Taqwa sebagai titian awal untuk menuju perjalan Akhirat.  Wallahu'alam bishowab.

NASEHAT DAN BERDZIKIR DALAM THORIKOH

Minggu 7 November 2021. K.H. Subhan Ma'mun, membuka pengajian  Thoriqah Sadziliyah, ahad pahing kitab Kifayatul al-atqiyah halaman 113.

Beberapa nasahatnya yang beliau sampaikan pada  pengajian ahad pahingan adalah sebagai berikut : 

Jangan merasa bangga dengan melihat keatas akan keturunan diri dari  orang yang hebat, kuat dan bermarga tinggi. Lihatlah diri sendiri sebagai manusia yang  pada hakekatnya  berasal dari tanah dan air. Berbanggalah atas kecapain ilmu yang didapat. Berbangga menjadi ahli ilmu. Karena dengan ilmu yang dimiliki akan dapat memberikan pencerahan pada diri sendiri dan orang lain.

Rasulullah mengingatkan dalam sabdanya: “Barangsiapa belajar satu bab ilmu dan mengamalkannya atau tidak mengamalkannya, niscaya itu lebih baik daripada shalat sunnah 1000 rakaat.” Pada hadits lain Rasulullah juga menyampaikan : “Seorang ulama itu lebih ditakuti oleh setan daripada 1.000 orang ahli ibadah dan 1.000 orang yang wara’."

K.H. Subhan Ma'mun juga mengingatkan kepada para pencari dan pemilik ilmu. Bahwa ilmu yang didapat bagaikan garam yang siap memberi rasa sesuai ukurannya. Ilmu sebagai kontrol perilaku dan bukan. sopan-santun).  Adab ibarat tepung yang membungkus perilaku baik, cerminan dari para pemilik ilmu.

SEMOGA SAKINAH

SEMOGA SAKINAH, MAWADDAH WARAHMAH

Oleh : Lukman Nur Hakim


Luwungragi Brebes,  Minggu 17 Oktober 2021, Walimatul Ursy. Gus Minan dan Ning Zahra. Yang disampaikan oleh Prof. Dr. K.H. Said Agil Siradj M.A.  yang dikenal dengan sebutan Kyai Said atau Kang Said, Ketua Umum  Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. 

Setelah salam,  membaca hamdalah dan sholawat, Kyai Said baru berbicara tentang nikah. Menurut Kyai Said  nikah itu adalah ibadah yang universal karena tuntunan nikah tidak hanya ada pada Agama Islam. Namun setiap agama membicarakan hukum, akad dan tata cara pernikahan. Baik Kristen, Yahudi dan di Animisme pun ada. 

Nikah juga dapat diartikan ibadah yang verenial, artinya  pernikahan tidak hanya terhenti di dunia  tetapi sampai ke alam surga. Istri-istri yang ada di dunia kelak juga akan mendampingi suaminya (bersama) di surga.

Nikah menjadi ibadah yang terus-menerus dan bertahun-tahun, dapat disebut  ibadah yang paling lama.  Nikah adalah bentuk ibadah yang penuh kebahagiaan dan indah. Satu sisi lagi,  dalam pernikahan ada proses ideal  penciptaan manusia, ada  nikmat yang luar bisa antara mereka yang melakukan pernikahan.

Nikah menjadi proses manusia beragama yang dapat diniati ibadah kepada Allah Swt. menjalankan sunnah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. Dan selanjutnya terdapat ibadah-ibdah yang lain dalam pernikahan,  termasuk  ibadah mengikut sunnah Rasulullah dalam membina keluarga, dan dalam rangka mendekatakan diri kepada Allah Swt. Dalam pernikahan ada kebahagian lain pula, seperti adanya perilaku saling mendukung dan memotivasi  untuk kebaikan. 

Nikah pada sisi lain, merupakan pertemuan jasmani dan rohani. Ada proses penyatuan jiwa dan  pertemuan budaya akhlak antara kedua mempelai. Sehingga dibutuhkan bagi mempelai laki-laki menunjukan bahwa "saya suami yang bertanggung jawab". Begitu juga bagi 
istri, tunjukkan pula "saya istri yang setia pada suami."

Dalam pernikahan di dalamnya tersurat membangun rumah tangga. 
Silahkan bangun umah yang besar, indah dan bagus. Tetapi harus ingat,  niatlah membangun tidak hanya untuk diri dan keluarga saja. Tetapi diniatkan juga untuk menghormati tamu, agar senantiasa rumah yang dibangun penuh dengan isian ibadah. 

Puncak nikah adalah pendidikan akidah atas kekuasaan Allah. Kedudukan manusia yang membutuhkan pasangan hidup dalam beragama harus melakukan pernikahan.  Sedangkan Allah Swt. sebagai Rabb  Dzat Yang Maha Kuasa atas semua alam,  tidak membutuhkan pasangan. Artinya semua makhluk hidup yang diciptakan Allah berpasang--pasangan sedangkan Dzat Penciptanya adalah Maha Tunggal (Esa).


Perjalanan Nikah

Ada proses perjalanan memilih pasangan hidup (nikah) hanya satu dan lebih dari satu. 

Pada saat masa kenabian, Nabi Harun dan Nabi Musa ada kebebasan menikah dengan wanita tanpa batas.  Karena saat itu sedang mengalami  krisis kaum laki-laki. Hal itu terjadi karena adanya kebijakan Raja Fir'aun yang membunuh semua bayi laki-laki, Sehingga bayi laki-laki yang dilahirkan semasa atau seusia Nabi Musa sangat minim jumlahnya, bahkan hampir tidak ada. Karena kebijakan Firaun yang sangat luar biasa, untuk membunuh bayi laki-laki yang lahir saat itu.

Kebijakan Fir'aun inilah membuat perkembangan saat usia dewasa laki-laki  yang seharusnya sudah siap nikah hampir tidak ada. Sehingga para kaum laki-laki saat itu diperbolehkan menikah lebih dari 4 (empat) wanita/ istri.

Adapun ajaran yang dibawa oleh Nabi Isa As. Yang sangat menghormati Ibunya, termasuk para kaum ibu-ibu yang lain. Maka bagi kaum laki-laki hanya boleh menikah dengan 1 wanita (istri) saja.

Sedangkan ajaran pada Nabi Muhammad Saw. ada pembatasan nikah. Seorang laki-laki maksimal memiliki 4 (empat) istri. Adapun kalau tidak mampu untuk berbuat adil kepada para istri, maka lebih baik hanya memiliki atau cukup satu istri saja. 

Islam menghormati perempuan terbukti  ada surat Annisa dan Maryam.  Dalam teks Al-Qur'an maupun Hadits antara laki -laki dan perempuan selalu disejajarkan, dengan kalimat muslimin dan muslimat.

Perempuan dalam Islam dimuliakan setinggi-tingginya, perempuan bagaikan bunga yang mekar dan perlu di sentuh agar dalam berbunga lama dan membawa warna harum.
TRIK ABU NAWAS MENAKLUKAN PARA LELAKI YANG SUKA MENGGODA ISTRINYA

Oleh : Lukman NurHakim


Abu Nawas merupakan manusia yang selalu beruntung diberbagai hal dan sangat cerdas dalam setiap menyelesaikan masalah hidup orang banyak maupun masalah dirinya sendiri.

Disamping kecerdasanya yang dimiliki sudah teruji. Satu lagi keistimewaan  Abu Nawas, yaitu memiliki istri yang sangat cantik yang menjadi kembang desa,  membuat iri setiap para lelaki di kampungnya. Dengan kecantikan istri Abu Nawas, membuat siapapun yang melihat istri Abu Nawas, tak kuasa untuk tidak menggodanya. 

Para penggoda di pagi hari,  selalu ada dan berjejer di sepanjang jalan menuju pasar untuk menggoda istri Abu Nawas ketika berangkat dan pulang dari pasar. Sehingga Istri Abu Nawas marah namun tak bisa dilampiasan pada orang yang menggodanya.

Dalam kondisi kesal dan marah, istri Abu Nawas masih tetap mampu menyimpan dengan baik  ketika di goda para lelaki yang nongkrong di jalan menuju pasar.

Istri Abu Nawas hanya menampakkan muka murungnya pada suaminya ketika habis pulang dari pasar.

Tatapi istri Abu Nawaspun ingin membuktikan bagaimana kehebatan dan kecerdikan suaminya. Akhirnya disampaikanya masalah yang dihadapi ketika menuju dan pulang dari pasar kepada suaminya.

Wahai suami ku, Aku mau mengadu pada anda, agar setiap berangkat dan pulang dari pasar tidak ada yang mengodanya. Aku tahu, bahwa engkau orang cerdik.  Coba buktikan pada istrimu ini, tentang kecerdasan yang engkau miliki.

Abu Nawaspun berkata pada istri, "InsyaAllah persoalannya akan selesai besok, wahai istriku."

Sang istripun sangat yakin apa yang di sampaikan Abu Nawas akan terwujud, tapi Ia pun tidak tahu cara penyelesain yang dilakukan oleh suaminya.

Wahai Istriku (kata Abu Nawas),  Saya akan pergi ke pasar membeli sesuatu, untuk menjamu para lelaki yang suka menggodamu.

Istri Abu Nawas samakin binggung terhadap tingkah suaminya. Orang yang suka menggodanya, kok mau dikasih makanan dan suruh kumpul di rumah.

Abu Nawas pun pergi ke pasar untuk membeli ketela pohon (bodin kata orang Brebes), dan dalam perjalanan kepasar, ia sempatkan pula menemui para laki-laki yang yang suka menggoda istrinya. Agar mau menghadiri undangan darinya.

Para lelaki yang suka menggoda istri Abu Nawas, merasa senang  di panggil Abu Nawas suruh makan dirumahnya. Ia berpikir akan bertemu dengan istri Abu Nawas dan akan merasakan  makanan hasil  masakan istri Abu Nawas.

Oleh Abu Nawas, bodin yang ia beli di pasar dimasak sama,  hanya dikasih warna yang berbeda-beda pula. 

Setelah para tamu sudah datang, disuguhkanlah bermacam-macam bodin yang berwarna warni, untuk dinikmati.

Para tamupun menikmati hidangan yang disuguhkan oleh Abu Nawas.  Memakan bodin yang berwarna warni.

Pada saat para tamu memakan bodin yang warna putih, ada yang  kuning merah dan sebagainya. Mereka binggung. "Kok Rasanya sama" imbuh para tamu.

Akhirnya salah satu tamu, tak kuasa untuk menahan bicara.

"Wahai Abu Nawas, anda memasak bodin berwarna warni tapi kok rasanya sama, apa maksudnya ini."

Abu Nawaspun menjawab, " Syukurlah kalau anda mengerti, rasa bodin itu sama."

"Maksudnya apa wahai Abu Nawas" tanya para tamu yang semakin heran atas jawaban Abu Nawas.

Abu Nawas kembali menjelaskan kepada para tamu yang memenuhi undangannya. 

 “ Wahai saudara-saudaraku, aku mengundang anda hanya agar kalian menikmati hidangan bodin, dan perlu dicatat, bahwa bodin yang kalian makan adalah laksana istri-istri kita, mereka rasanya sama walapun warnanya berbeda-beda" 

Para tamupun sebagian mulai sadar akan maksud Abu Nawas memanggil mereka kerumahnya. 

Abu Nawaspun kembali menjelaskan " Istri kita memang ada yang tinggi, cantik dan sebagainya, tapi rasanya sama." 

Para tamupun saling melihat wajah satu sama lainnya. Ia merasa ditipu oleh Abu Nawas. Dan semuanya malu atas perbuatanya selama ini pada istri Abu Nawas. Tanpa ada yang mengomandoi akhirnya para tamu dengan sendirinya pergi dari rumah Abu Nawas. Dalam hati mereka " Ia telah tertipu dan malu pada Abu Nawas. Wallahu'alam Bishowab.

Kenangan pembawa acara (Gus Nadhif)  pada pernikahan gus minan dan neng zahra

BERBAGI HIKMAH PASCA MUKTAMAR LAMPUNG



BERBAGI HIKMAH PASCA MUKTAMAR NU DI LAMPUNG

Oleh : Lukman Nur Hakim

Sabtu, 25 Desember 2021, Penulis bersilaturahmi dengan K.H. Subhan Ma'mun pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes.  Setelah melihat di postingan group Assalafiyah 3, K.H. Subhan Ma'mun ada di sekertariatan  pembangunan Pondok Pesantren Assalafiyah III yang nantinya akan digunakan untuk santri anak jalananan.

Penulis berangkat dari rumah Randusanga, ke tempat pembangunan Assalafiyah 3, dengan niat bersilaturahmi dan mau mendengarkan nasehat dari K.H. Subhan Ma'mun, pasca Muktamar NU ke-34 Di Lampung, yang berlangsung dari tanggal 22 - 23 Desember 2021.
Sekaligus penulis melaksanakan tugas piket panitia pembangunan pondok yang dijadwalkan pada penulis disetiap hari Sabtu.

Sesampai di sekretariatan Assalafiyah 3,  K.H. Subhan Ma'mun sedang ngobrol bersama dengan para panitia pembangunan lainnya, sehingga penulis langsung ikut nimbrung mendengarkan nasehat-nesehat dari beliau, setelah penulis bersalaman terlebih dahulu. 

Menurut K.H. Subhan Ma'mun, Muktamar NU yang ke-34, Alhamdulillah berjalan dengan lancar dan tidak mengalami halangan apapun yang mengganggu proses perjalanan muktamar. Kegiatan muktamar dapat dikatakan juga sebagai ajang  berkumpulnya para ilmuan dan orang-orang alim, dalam satu tempat. Sehingga muktamar ini  menjadi forum silaturahmi para ulama.

Pemilihan  ketua  yang biasa ramai dalam setiap ajang pergantian ketua, ternyata dalam Muktamar NU  berjalan dengan lancar, damai dan sejuk. Terpilihnya
KH. Yahya Cholil Staquf, yang berkompetisi dengan K.H. Said Aqil Siraj sebagai petahana, tidak ada gejolak dan langsung diterima hasil pemilihan yang dilaksanakan secara langsung tersebut.

K.H. Subhan Ma'mun mengatakan, penyelenggaraan Muktamar NU ini juga, sebagai salah satu media untuk niat berkhidmah pada para Kyai. Kehidupan santri yang kental dengan berhidmah (melayani) para kyai, tidak berhenti ataupun lepas saat menjadi santri saja. Namun ketika sudah kembali ke rumah masing-masing, maka hidmah pada para kyai masih tetap dilestarikan.

Hidmah pada para kyai, menjadi identitas diri santri yang kuat, untuk mendapatkan keberkahan dari para Kyai. Berbeda dengan berhidmah karena memiliki oreintasi yang lain, maka dapat dikatakan, ini bukan budaya santri, dan kalaupun ada maka hanya akan mendapat keuntungan popularitas sesaat. 

Berangkat dari berhidmah pada Kyai juga menjadi salah satu jalan, dari para orang sukses, dalam meniti karier yang diraihnya. Baik dalam akademik, ekonomi, instansi tertentu maupun keluarga.

Tak bisa disangkal pula, mereka para panitia dalam Muktamar, yang penuh semangat tak bisa lepas dari niat berhidmah pada para kyai pula.

Diselah-selah istirahat kegiatan muktamar para kyai, kadang masih menyempatkan diri untuk bercengkrama berdiskusi tentang hukum, silsilah sanad keilmuan dan perkembangan  pondok pesantren yang dulu pernah menimbah ilmu di pondok tersebut saat menjadi santri.

Perkawinan sekupu (setara) yang sudah tidak asing dalam kalangan para kyai NU, membuat para keluarga Gus-Gus menjadikan perjumpaan mereka dalam muktamar sebagai  wahana untuk menyambung maupun mengurai keturunan atau silsilah dari hasil perkawinan, yang kadang tidak percaya, bahwa keduanya (pasangan perkawinan) adalah saudara  yang ketemu di kakek nenek mereka. Atau sebenarnya para orang tua mereka pernah berguru pada kyai  yang sama saat dulu menjadi santri, yang hanya dipisahkan  pada tahun berbeda saja.

Kebahagian lain saat ikut muktamar, bisa bertemu dengan para kyai ataupun putra-putra kyai, dikala dulu menjadi santri. Kalau saja ada keniatan untuk bersilaturahmi dirumah mereka belum tentu bertemu dan memakan waktu yang lama dalam perjalanannya. Muktamar sebagai tempat menemukan para putra kyai atau Gus-gus. 

Sepulang  dari muktamar, menurut K.H. Subhan Ma'mun, masih ada pekerjaan selanjutnya.  Menunggu rumusan kepengurusan PBNU  yang baru di kepemimpinan Rois Aam  K.H. Miftachul Akhyar dan ketua umum K.H  Yahya Cholil Staquf, di masa khidmah tahun 2021-2026. 

Semoga penyusunan kepengurusan yang baru berjalan lancar. 

Selasa, 04 Maret 2014

MEWUJUDKAN KONSELOR MUSLIM YANG BERAKHLAK MULIA

MEWUJUDKAN KONSELOR MUSLIM YANG BERAKHLAK MULIA Lukman Nur Hakim Abstrak Manusia merupakan makhluk Allah yang diciptakan secara kodrati sebagai makhluk religius, sesuai fitrahnya manusia bertugas untuk mengabdi kepada Allah dan saling tolong menolong dalam kebaikan. Pada dasarnya Seorang memiliki akhlak mulia. Dengan kemulian akhlaknya seseorang akan menjadi suri tauladan. Konselor professional tidak hanya dituntut memahami teknik-teknik konseling semata namun harus diimbangi dengan prilaku yang baik. Tujuan penulisan ini mewujudkan konselor muslim memiliki akhlak mulia berdasarkan asas bimbingan konseling islami, yaitu asas kebagiaan dunia akhirat, asas fitra, asas Lillahi Ta’ala, asas bimbingan seumur hidup, asas kesatuan bimbingan rohani, asas kemaujudan hidup, memiliki asas-asas, asas sosialitas manusia, asas kekholifahan, asas kelarasan dan keadilan, asas pembinaan akhlakul karimah, asas kasih sayang, asas menghargai dan menghormati, asas musyawarah dan asas keahlian. Karakter konselor muslim yang baik, memiliki pemahaman diri, kompeten, dapat dipercaya, jujur, bersikap hangat, sabar, memiliki kepekaan, mengikuti cara rasulullah berbicara dan menjalankan apa yang diajarkan dalam Al-qur’an. Kata Kunci: Konselor muslim, Akhlak mulia Pendahuluan Konselor merupakan penyelenggara profesi pelayanan bimbingan dan konseling, kualitas pribadi konselor merupakan faktor yang sangat penting dalam konseling, keberhasilan konselor tidak hanya ditentukan oleh kemampuan dalam memahami teknik-teknik konseling semata ataupun dari penguasaan kalimat yang diucapkan saja, akan tetapi harus ditunjang dengan prilaku yang ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari, seorang konselor mampu mencerminkan akhlak yang mulia. Namun disisi lain perlu diingat juga bahwa segala ucapan konselor akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah. Jika karena suatu hal konselor belum mampu mengamalkannya, sebaiknya ia bersikap jujur dalam menjelaskan alasan ke konselii/klien. Pelaksanaan konseling sebaiknya dilakukan ditempat-tempat yang suci dan tempat-tempat yang didalamnya sering didirikan sholat seperti masjid, musholah, kantor, atau dirumah; sebab di sana ada nur Allah, rahmat Allah, petunjuk Allah dan ketenangan yang sejati. Dan sebisa mungkin dihindari pelaksanaan konseling yang didalamnya ada kegiatan yang tergolong maksiat, seperti pelaksanaaan konseling hanya berduaan (berlawanan jenis), yang tentunya akan bernuansa lain. Untuk menghindari hal tersebut hendaknya konselor menyarankan kepada konselii untuk didampingi teman yang dapat dipercaya oleh konselii. Keberhasilan seorang konselor muslim tidak bisa lepas dari sosok Nabi Muhmmad baik sebagai manusia biasa maupun sebagai Rasul. Muhammad Saw. dalam mengajak manusia selalu dimulai dari dirinya sendiri, baik perkataan maupun perbuatan kemudian baru orang lain. Allah menyifati diri Rasulullah dengan sifat yang terbaik. Sebagaimana dalam firman-Nya (QS Al-Qalam(68):4) “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” keberhasilan Rasulullah SAW dalam menerapkan dakwah islamiyyah—yang di dalamnya juga terdapat proses konseling—amat didukung oleh kemuliaan akhlaknya. Dengan demikian, akhlak seorang konselor sangat dibutuhkan dalam menentukan keberhasilan proses konseling yang ia lakukan. Permasalahan Keberadaan konselor di lingkungan sekolah memegang peranan yang sangat penting bagi peserta didik. Dengan adanya konselor di sekolah maupun di lembaga-lembaga lain mampu memberikan layanan motivasi/spirit dan arahan pada setiap orang yang membutuhkan layananannya dalam membantu memecahkan masalah yang dihadapi. Namun kenyataan dilapangan disadari atau tidak, para siswa enggan datang ke ruang bimbingan konseling, bukan karena guru pembimbing yang kurang keilmuannya, namun karena mereka memiliki sifat kurang ramah terhadap peserta didiknya. Untuk itulah konselor haruslah orang-orang yang ahli dalam mengatasi masalah, baik masalah klien maupun permasalahan dirinya sendiri. Konselor tidak hanya di tuntut untuk mampu melakukan perubahan tingkah laku tapi juga perubahan sikap, sehingga konselor dituntut memiliki kepribadian yang baik, mampu menjadi model prilaku sehari-hari di sekolah maupun di tengah masyarakat, baik perkataan maupun perbuatannya. Pembahasan Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya dimana seorang konselor harus memiliki akhlak yang mulia. Mampu memberikan pelayanan bimbingan konseling yang efektif dalam membentuk perilaku dan kepribadian klien, melalui konseling diharapkan terbentuk perilaku positif (akhlak baik) dan kepribadian yang baik pula pada diri klien. Upaya ini akan lebih efektif apabila dilakukan oleh konselor yang memiliki kepribadian dan akhlak yang baik pula. Selain itu, praktik bimbingan konseling berlandaskan atas norma-norma tertentu. Dengan kepribadian yang baik, diharapkan tidak terjadi pelanggaran terhadap norma-norma yang bisa merusak citra pelayanan bimbingan dan konseling. Hal ini tidak dapat disembunyikan lagi bahwa seorang konselor merupakan model bagi siswa. Sebagaimana dalam teori counselling by modeling, yaitu konseling melalui percontohan. Agar konselor bisa menjadi contoh yang efektif bagi pemecahan masalah kliennya, konselornya harus berakhlak baik (akhlakul karimah). Konselor tidak akan dapat menjalankan fungsi ini apabila dirinya tidak memiliki kepribadian yang baik. Misalnya konselor akan sulit mengubah perilaku siswa yang tidak disiplin apabila ia sendiri tidak dapat menunjukkan perilaku disiplin kepada para siswa. Konselor akan sulit mengubah sifat siswa yang emosional apabila ia sendiri adalah orang yang emosional dan seterusnya. Islampun melarang manusia banyak berkata tetapi prilakunya tidak sesuai dengan perkataanya, sebagaimana telah disebutkan dalam (QS. Ash-Shaff (61):3) yang artinya “amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. Di jelaskan pula oleh Allah dalam (QS. Al-Isro (17):36). “ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuannya itu akan diminta pertanggungjawabannya”. Praktik konseling konselor muslim haruslah dijiwai dan dilandasi oleh nilai-nilai ajaran Islam yang mengacu kepada praktik bimbingan dan konselingnya Rasulullah Saw. Oleh sebab itu, Rasulullah Saw. merupakan konselor pertama dalam Islam yang membimbing, mengarahkan, menuntun dan menasehati umat agar beriman kepada agama Tauhid (Islam). Melalui bimbingan, arahan, tuntunan dan nasihatnya, manusia memperoleh kebahagiaan hidup baik di dunia dan akhirat. Sutoyo (2009:205) mengatakan tujuan konseling islami adalah agar fitrah yang dikaruniakan Allah kepada individu bisa berkembang dan berfungsi dengan baik sehingga menjadi pribadi kaffah, dan secara bertahap mampu mengaktualisasikan apa yang diimaninya itu dalam kehidupan sehari-hari, yang tampil dalam bentuk kepatuhan terhadap hukum-hukum Allah dalam melaksanakan tugas kekhalifahan dibumi dan ketaatan dalam beribadah dengan mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Arti kaffah disini adalah imannya benar dan mantap, imannya menyatu dengan tindakannya, artinya ia mampu mengaktualisasikan apa yang diimaninya itu dalam kehidupan sehari-hari, dalam melaksanakan syariat agama tidak memilih-milih yang ringan dan menguntungkan diri sendiri, memiliki hubungan yang sehat dengan pencipta-Nya, diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitarnya. Karakteritisk Konselor Muslim Ada beberapa karakteristik konselor muslim sebagaimana yang diungkapkan oleh Erhamwilda (2009:115-116) adalah seorang yang mempunyai pemahaman ajaran agama yang cukup memadai, hidupnya layak diteladani, memiliki keinginan kuat dan ikhlas untuk membantu orang lain, menyakini bahwa apa yang dia lakukan untuk kliennya adalah sebatas usaha semuanya ditentukan oleh Allah SWT dan diri klien itu sendiri, tidak berputus asa dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, terus menerus berusaha memperkuat iman dan ketaqwaaannya, menyadari berbagai kelemahan pribadinnya dan tidak enggan minta bantuan ahli, jika dalam membantu klien ia mengalami kesulitan karena keterbatasan ilmunnya, selalu merujuk pada tafsir dan syarah hadits yang dikeluarkan ahlinya, bisa memegang rahasia orang lain, terus menerus berusaha menambah ilmu agamannya. Selain keterangan di atas, akhlak seorang konselor dapat dirumuskan dengan melihat asas-asas konseling islami yang ada dalam proses konseling sebagaimana yang diungkapkan Faqih (2004:21-34) sebagai berikut: 1. Asas kebahagiaan dunia akherat, tujuan akhir konseling adalah membantu klien mencapai kebahagian hidup yang senantiasa didambakan oleh setiap muslim, kebahagiaan hidup didunia bagi seorang muslim hanya merupakan kebahagiaan yang sifatnya sementara, kebahagiaan akhiratlah yang menjadi tujuan utama. 2. Asas Fitrah, konselor mengantar klien untuk mengenal, memahami dan menghayati fitrahnya, sehingga segala gerak tingkah laku dan tindakannya sejalan dengan fitrahnya (kemampuan potensial bawaan sebagai muslim). 3. Asas “Lillahi ta’ala”, konselor melakukan pemberian bantuan kepada klien semata-mata karena Allah, nilai-nilai ikhlas yang dibangun tanpa pamrih. Semua yang dilakukan adalah karena dan untuk mengabdi kepada Allah SWT semata. 4. Asas bimbingan seumur hidup, konselor diperlukan selama hayat masih dikandung badan. 5. Asas kesatuan jasmani-rohani, konselor memperlakukan kliennya sebagai mahluk jasmani dan rohani. 6. Asas keseimbangan rohani, konselor memahami bahwa klien memiliki daya kemampuan fikir, akal, nafsu, merasakan dan menghayati. 7. Asas kemaujudan hidup, konselor melihat klien merupakan eksistensi tersendiri, memiliki hak, memiliki perbedaan satu dengan yang lain. 8. Asas sosialitas manusia, konselor melihat bahwa manusia merupakan makhluk sosial, yang mamiliki, cinta kasih, rasa aman, penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain, rasa memiliki dan dimiliki. 9. Asas kekholifahan manusia, konselor perlu memperhatikan bahwa klien merupakan manusia yang diberi kedudukan tinggi sekaligus memiliki tanggungjawab besar sebagai pengelola alam semesta. 10. Asas keselarasan dan keadilan, konselor berprilaku penuh dengan keharmonisan, keselarasan, keseimbangan, keserasian dalam segala segi. 11. Asas pembinaan Akhlaqul-karimah, konselor harus memiliki sifat-sifat yang baik, karena konselor dituntut membantu klien memilihara, mengembangkan, menyempurnakan sifat-sifat yang baik tersebut. 12. Asas kasih sayang, klien memerlukan cinta kasih dan rasa sayang dari konselor. 13. Asas saling menghargai dan menghormati, konselor memiliki pemikiran bahwa dirinya dan klien memiliki kedudukan yang sama atau sederajat. 14. Asas musyawarah, konselor dan klien memiliki kesepakan untuk berdialog yang baik, satu sama lain tidak saling mendikte, tidak ada perasaan tertekan dan keinginan tertekan 15. Asas keahlian, konselor harus memiliki kemampuan keahlian dibidang konseling. Menurut Muhammad Kosim dari beberapa asas di atas, dapat dikembangkan dan dirumuskan bahwa seorang konselor Islami harus mememiliki akhlak sebagai berikut: 1. Lemah lembut merupakan sikap yang tidak bisa dipisahkan dari sikap kasih sayang yang harus dimiliki oleh seorang konselor. Rasulullah Saw, sebagai konselor umat sepanjang zaman memiliki akhlak yang lemah lembut. Begitu pula dalam mendidik, Rasulullah Saw senantiasa mendidik para sahabatnya dengan penuh kasih sayang. Perilaku kasih sayang turut menentukan keberhasilan seorang konselor dalam memberikan bimbingan dan arahan kepada klien sehingga ditemukan problem solving yang efektif. 2. Tawadhu, untuk menggugah simpati klien, sifat tawadhu' dari seorang konselor juga diperlukan. Dengan tawadhu akan menambahkan keakraban antara keduanya. Tawadlu (rendah diri) perlu diaktualisasikan dalam proses konseling. 3. Toleransi, konselor dituntut untuk bersikap toleran terhadap kliennya. Hal ini selalu dilakukan oleh Rasulullah Saw, bersikap toleransi kepada para sahabatnya yang sedang bermasalah. 4. Demokratis dan Terbuka, konselor yang bijaksana, juga diperlukan sikap toleransi yang tinggi kepada klien. Perlu pula keterbukaan antara keduanya sehingga berbagai persoalan yang dihadapi oleh klien dapat diselesaikan. 5. Adil, konselor harus bersikap adil dalam melakukan proses konseling kepada kliennya. Prinsip keadilan ini sangat penting memahami masalah yang dihadapi klien dalam memperlakukannya sesuai dengan prinsip keadilan itu sendiri. Yusuf dan Nurikhsan (2009: 37- 45) mengemukaan bahwa kualitas pribadi konselor ditandai denga beberapa karakteristik sebagai berikut: a. Pemahaman Diri (Self-Knowledge) seorang konselor memahami dirinya dengan baik, dia memahami pasti apa yang dia lakukan, dengan self knowledge yang baik akan menunjukan sifat menyadari kebutuhan dirinya sebagai konselor akan kebutuhan untuk sukses, kebutuhan merasa penting, dihargai, superior. Menyadari baik tentang perasan-perasaannya (marah, takut dan bersalah), konselor menyadari tentang apa yang membuat dirinya cemas dalam konseling, dan Konselor memahami atau mengakui kelebihan (kekuatan) atau kelemahan (kekurangan) dirinya. b. Kompeten (Competent), konselor memiliki kualitas fisik, intelektual, emosional, sosial dan moral sebagai pribadi yang berguna. Konselor yang senantiasa berusaha meningkatkan kualitas kompetensinya, akan menampilkan sifat-sifat kualitas pengetahuannya tentang tingkah laku, konseling dan berbagai hal yang berkaitan dengan profesinya, menemukan pengalaman-pengalaman hidup baru yang membantunya untuk lebih mempertajam kompetensi dan mengembangkan ketrampilan konselingnya, mencoba gagasan-gagasan atau pendekatan baru dalam konseling, mengevaluasi efektifitas konseling yang dilakukannya, dan melakukan kegiatan tindak lanjut terhadap hasil evaluasi yang telah dilaksanakan untuk mengembangkan atau memperbaiki proses konseling. c. Kesehatan Psikologis, konselor dituntut memiliki kesehatan psikologis yang lebih baik dari kliennya, hal ini sangat penting karena konselor akan mendasari pemahamannya terhadap prilaku dan ketrampilannya. Konselor yang kesehatan psikologisnya memperoleh pemuasan kebutuhan rasa aman, cinta, kekuatan dan seks, dapat mengatasi masalah-masalah pribadi yang dihadapinnya, menyadari kelemahan atau keterbatasan kemampuan dirinya, dan tidak hanya berjuang untuk hidup, tetapi juga menciptakan kehidupan yang lebih baik d. Dapat Dipercaya (Trustworthiness/amanah), konselor tidak menjadi ancaman atau penyebab kecemasan bagi klien. Konselor yang dipercaya cenderung memiliki kualitas sikap dan prilaku yang konsisten, dapat dipercaya oleh orang lain, tidak pernah membuat klien kecewa/kesal, dan bertanggung jawab, mampu merespon orang lain secara utuh tidak ingkar janji dan mau membantu secara penuh. e. Jujur (honesty) konselor itu bersikap transparan (terbuka), autentik, dan asli (genuine). Sikap jujur ini penting dalam konseling, karena sikap keterbukaan memungkinkan konselor dan klien untuk menjalin hubungan psikologis yang lebih dekat satu sama lainnya di dalam proses konseling; Konselor yang menutup atau menyembunyikan bagian-bagian dirinya terhadap klien dapat menghalangi terjadinya relasi yang lebih dekat, kejujuran memungkinkan konselor dapat memberikan umpan balik secara objektif kepada klien, bersikap kongruen artinya sifat-sifat dirinya yang dipersepsi oleh dirinya sendiri (real self) sama sebangun dengan yang dipersepsi oleh ortang lain (public self). f. Kekuatan (Strength), klien akan merasa aman bila klien memandang konselor sebagai orang yang tabah dalam menghadapi masalah, dapat mendorong klien untuk mengatasi masalahnya, dan dapat menanggulangi kebutuhannya. Konselor yang memiliki kekuatan cenderung menampilkan kualitas sikap dan prilaku dapat membuat batasan waktu yang pantas dalam konseling, bersikap fleksibel, dan memiliki identitas diri yang jelas. g. Bersikap Hangat, yaitu konselor mampu bersikap ramah, penuh perhatian dan mampu memberikan kasih sayang. Melalui konseling klien mendapatkan rasa hangat dan melakukan sharing dengan konselor. h. Actives Responsiveness, keterlibatan konselor dalam proses konseling bersifat dinamis, tidak pasif, melalui respon yang aktif, konselor dapat mengkomunikasikan perhatian dirinya terhadap kebutuan klien. i. Sabar (Patience), seorang konselor yang tidak berbekal kesabaran, ibarat musafir yang melakukan perjalanan tanpa bekal. Bisa jadi dia akan gagal, atau kembali sebelum sampai ke tempat tujuan. Melalui kesabaran konselor dapat membantu klien untuk mengembangkan dirinya secara alami. Sikap sabar konselor menunjukkan lebih memperhatikan diri klien daripada hasilnya. Konselor yang sabar cenderung menampilkan kualitas sikap dan perilaku yang tidak tergesa-gesa. i. Kepekaan (sensitivity), konselor menyadari tentang adanya dinamika psikologi yang tersembunyi atau sifat-sifat mudah tersinggung, baik pada diri klien maupun dirinya sendiri. Konselor yang positif akan mampu mengungkap atau menganalisis apa yang sebenarnya yang dihadapi klien. Konselor yang sensitif memiliki kualitas prilaku sensitif terhadap reaksi dirinya sendiri, mengetahui kapan, dimana, dan berapa lama mengungkap masalah klien (probing), mengajukan pertanyaan tentang persepsi klien tentang masalah yang dihadapi. j. Kesadaran holistik (holistic awareness), konselor memahami klien secara utuh dan tidak mendekatinya secara serpihan. Konselor yang memiliki kesadaran holistik cenderung menampilkan karakteristik menyadari secara akurat tentang dimensi-dimensi kepribadian yang komplek, menemukan cara memberikan konsultasi yang tepat, mempertimbangkan tentang perlunya referal (rujukan), dan akrab serta terbuka terhadap berbagai teori. Cara Berbicara dengan Klien Perkataan Rasulullah sangat sarat dengan makna. Beliau memiliki kemampuan dalam mengungkapkan apa yang ingin dikatakan hanya dengan sedikit kata. Sehingga dalam melakukan konseling, perlu dilakukan dengan komunikasi yang baik. Tanpa komunikasi yang baik, niscaya pesan yang diinginkan sulit menimbulkan efek yang positif terhadap klien. Umul mukminin Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddik berkata “ Sesungguhnya Rasulullah tidak melontarkan perkataan sebagaimana yang kalian lakukan. Beliau selalu mengatakan sesuatu secara sistematis. Kata-katanya bisa dihitung dengan jari. Terkadang beliau mengucapkan satu kalimat dengan tiga kali pengulangan agar lebih mudah menghafalnya. Az-Zahrani (2005:67) mengatakan cara Rasulullah berbicara adalah sebagai berikut: 1. Sistematis, agar pendengar bisa memfokuskan diri pada topik pembicaraan. 2. Penuh dengan kehati-hatian agar pendengar mendapatkan kesempatan dalam memahami pembicaraan dan juga mampu memahami jalan pikiran pembicara secara berkesinambungan serta mengurangi lupa yang umumnya terjadi. 3. Menyeluruh, dapat dipahami oleh semua kalangan umum dan juga pelajar. 4. Mengulanggnya tiga kali agar membekas dalam hati dan juga pikiran. Lebih jauh Asmani (2010:196) mengatakan komunikasi merupakan kecakapan dasar yang harus dimiliki oleh setiap konselor. Dalam komunikasi, konselor dapat mengekpresikan kembali pertanyaan-pertanyaan konseli secara tepat; menjawab atau memantulkan kembali pernyataan konseli dalam bentuk perasaan dan kata-kata serta tingkah laku konselor. Komunikasi juga merupakan layanan bimbingan konseling yang diberikan kepada siswa sebagaimana yang diungkapkan oleh Dahlan (2009: 163) pelatihan siswa dibidang konseling dimaksud agar siswa memiliki rasa percaya diri yang tinggi, dan secara sosiologis lebih familier, baik di lingkungan sosial, keluarga maupun dengan teman sebaya mereka. Menurut Muhammad Kosim, ada beberapa ayat dalam al-Qur'an tentang pola-pola komunikasi: 1. Qawlan ma'rufan (Al-Baqarah: 263; An-Nisa': 8; Al-Ahzab: 32) maksudnya Perkataan yang baik Bahasa yang sesuai dengan tradisi, bahasa yang pantas atau cocok untuk tingkat usianya; bahasa yang dapat diterima akal untuk tingkat usia. 2. Qawlan kariman (Al-Isra': 23) maksudnya Perkataan yang mulia bahasa yang memiliki arti penghormatan, bahasa yang enak didengar karena terdapat unsur-unsur kesopanan. 3. Qawlan maysuran (Al-Isra': 28) maksudnya Perkataan yang pantas bahasa yang dimengerti, bahasa yang dapat menyejukkan perasaan, dan tidak tidak membuat kecewa. 4. Qawlan balighan (An-Nisa: 63) maksudnya Perkataan yang mengena/ mendalam Bahasa yang efektif, sehingga tepat sasaran dan tujuannya, bahasa yang efisien, sehingga tidak membutuhkan banyak biaya, waktu dan tempat. 5. Qawlan layyinan (Thaha: 44) maksudnya Perkataan lemah lembut bahasa yang halus, sehingga menembus relung kalbu, bahasa yang tidak menyinggung perasaan orang lain, bahasa yang baik dan enak didengar. 6. Qawlan sadiidan (An-Nisa: 9) maksudnya Al-Ahzab: 70 Perkataan benar dan berimbang Bahasa yang benar, bahasa yang berimbang (adil) dari kedua belah pihak. 7. Qawlan azhima (Al-Isro': 40) maksudnya Perkataan yang berbobot bahasa yang mendalam materinya, bahasa yang berbobot isinya. 8. Qawlan min rabbi rahim (Yasin (36):58) maksudnya Perkataan rabbani bahasa yang isinya bersumber dari Tuhan, bahasa yang yang mengandung pesan Tuhan. 9. Qawlan tsaqila (Al-Muzzammil (73): 5) maksudnya Perkataan yang berat bahasa yang berbobot yang mengandung informasi kewajiban manusia, syariah, halal-haram, hukum pidana-perdata. Penerapan bahasa di atas dapat digunakan dengan melihat kondisi psikologi klien sehingga tujuan dari proses konseling dapat tercapai dengan baik. Penutup Demikianlah uraian konselor yang berakhlak mulia yang perlu dimiliki oleh setiap konselor sehingga pelaksanaan layanan konseling berjalan dengan baik dan masalah yang dihadapi oleh klien teratasi secara efektif dan efisien. Akhlak konselor tentunya berlandaskan kepada ajaran Islam yaitu al-Qur'an dan hadis. Dalam al-Qur'an dan hadis, ditemukan beberapa akhlak yang perlu dimiliki oleh seorang konselor, seperti berkomunikasi dengan baik, kasih sayang, jujur, amanah, adil, sabar, tawadhu', toleransi, dan sebagainya. Hal ini juga relevan dengan asas-asas dalam konseling itu sendiri. Tujuan konselor muslim ini adalah meningkatkan, iman, islam dan ikhsan individu yang dibimbing hingga menjadi pribadi yang utuh. Dan pada akhirnya diharapkan mereka bisa hidup bahagia di dunia dan akhirat. DAFTAR KEPUSTAKAAN Asmani. JM. 2010. Panduan Efektif Bimbingan dan Konseling Di Sekolah. Jogyakarta: DIVA Press. Az-Zahrani. M. 2005. Konseling Terapi. Jakarta: Gema Insani Dahlan. A. 2009. Bimbingan dan Konseling Islami Sejarah, Konsep dan Pendekatannya. Yogyakarta: Pura Pustaka. Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidkan Formal. Bandung: Psikologi Pendidikan dan bimbingan UPI. Departemen Agama Republik Indonesua. 1995. Al-Quran dan terjemahnya. Semarang: Al-Waah. Erhamwildan. 2009. Konseling Islami. Yogyakarta: Graha Ilmu. Faqih. A.R. 2004. Bimbingan dan Konseling dalam Islam. Yogyakarta: UII Press Jalaluddin. 2010. Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada Sutoyo. A. 2009. Bimbingan dan Konseling Islami Teori dan Praktek. Semarang: Widya Karya. Tohirin. 2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Yusuf dan Nurikhsan. 2009. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung : Rosda http://mhdkosim.blogspot.com./2009/05/makalah-konseling-islam Muhammad Kosim, MA diunduh 8 Oktober 2009.

MEWUJUDKAN KONSELOR MUSLIM YANG BERAKHLAK MULIA

MEWUJUDKAN KONSELOR MUSLIM YANG BERAKHLAK MULIA Lukman Nur Hakim Abstrak Manusia merupakan makhluk Allah yang diciptakan secara kodrati sebagai makhluk religius, sesuai fitrahnya manusia bertugas untuk mengabdi kepada Allah dan saling tolong menolong dalam kebaikan. Pada dasarnya Seorang memiliki akhlak mulia. Dengan kemulian akhlaknya seseorang akan menjadi suri tauladan. Konselor professional tidak hanya dituntut memahami teknik-teknik konseling semata namun harus diimbangi dengan prilaku yang baik. Tujuan penulisan ini mewujudkan konselor muslim memiliki akhlak mulia berdasarkan asas bimbingan konseling islami, yaitu asas kebagiaan dunia akhirat, asas fitra, asas Lillahi Ta’ala, asas bimbingan seumur hidup, asas kesatuan bimbingan rohani, asas kemaujudan hidup, memiliki asas-asas, asas sosialitas manusia, asas kekholifahan, asas kelarasan dan keadilan, asas pembinaan akhlakul karimah, asas kasih sayang, asas menghargai dan menghormati, asas musyawarah dan asas keahlian. Karakter konselor muslim yang baik, memiliki pemahaman diri, kompeten, dapat dipercaya, jujur, bersikap hangat, sabar, memiliki kepekaan, mengikuti cara rasulullah berbicara dan menjalankan apa yang diajarkan dalam Al-qur’an. Kata Kunci: Konselor muslim, Akhlak mulia Pendahuluan Konselor merupakan penyelenggara profesi pelayanan bimbingan dan konseling, kualitas pribadi konselor merupakan faktor yang sangat penting dalam konseling, keberhasilan konselor tidak hanya ditentukan oleh kemampuan dalam memahami teknik-teknik konseling semata ataupun dari penguasaan kalimat yang diucapkan saja, akan tetapi harus ditunjang dengan prilaku yang ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari, seorang konselor mampu mencerminkan akhlak yang mulia. Namun disisi lain perlu diingat juga bahwa segala ucapan konselor akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah. Jika karena suatu hal konselor belum mampu mengamalkannya, sebaiknya ia bersikap jujur dalam menjelaskan alasan ke konselii/klien. Pelaksanaan konseling sebaiknya dilakukan ditempat-tempat yang suci dan tempat-tempat yang didalamnya sering didirikan sholat seperti masjid, musholah, kantor, atau dirumah; sebab di sana ada nur Allah, rahmat Allah, petunjuk Allah dan ketenangan yang sejati. Dan sebisa mungkin dihindari pelaksanaan konseling yang didalamnya ada kegiatan yang tergolong maksiat, seperti pelaksanaaan konseling hanya berduaan (berlawanan jenis), yang tentunya akan bernuansa lain. Untuk menghindari hal tersebut hendaknya konselor menyarankan kepada konselii untuk didampingi teman yang dapat dipercaya oleh konselii. Keberhasilan seorang konselor muslim tidak bisa lepas dari sosok Nabi Muhmmad baik sebagai manusia biasa maupun sebagai Rasul. Muhammad Saw. dalam mengajak manusia selalu dimulai dari dirinya sendiri, baik perkataan maupun perbuatan kemudian baru orang lain. Allah menyifati diri Rasulullah dengan sifat yang terbaik. Sebagaimana dalam firman-Nya (QS Al-Qalam(68):4) “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” keberhasilan Rasulullah SAW dalam menerapkan dakwah islamiyyah—yang di dalamnya juga terdapat proses konseling—amat didukung oleh kemuliaan akhlaknya. Dengan demikian, akhlak seorang konselor sangat dibutuhkan dalam menentukan keberhasilan proses konseling yang ia lakukan. Permasalahan Keberadaan konselor di lingkungan sekolah memegang peranan yang sangat penting bagi peserta didik. Dengan adanya konselor di sekolah maupun di lembaga-lembaga lain mampu memberikan layanan motivasi/spirit dan arahan pada setiap orang yang membutuhkan layananannya dalam membantu memecahkan masalah yang dihadapi. Namun kenyataan dilapangan disadari atau tidak, para siswa enggan datang ke ruang bimbingan konseling, bukan karena guru pembimbing yang kurang keilmuannya, namun karena mereka memiliki sifat kurang ramah terhadap peserta didiknya. Untuk itulah konselor haruslah orang-orang yang ahli dalam mengatasi masalah, baik masalah klien maupun permasalahan dirinya sendiri. Konselor tidak hanya di tuntut untuk mampu melakukan perubahan tingkah laku tapi juga perubahan sikap, sehingga konselor dituntut memiliki kepribadian yang baik, mampu menjadi model prilaku sehari-hari di sekolah maupun di tengah masyarakat, baik perkataan maupun perbuatannya. Pembahasan Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya dimana seorang konselor harus memiliki akhlak yang mulia. Mampu memberikan pelayanan bimbingan konseling yang efektif dalam membentuk perilaku dan kepribadian klien, melalui konseling diharapkan terbentuk perilaku positif (akhlak baik) dan kepribadian yang baik pula pada diri klien. Upaya ini akan lebih efektif apabila dilakukan oleh konselor yang memiliki kepribadian dan akhlak yang baik pula. Selain itu, praktik bimbingan konseling berlandaskan atas norma-norma tertentu. Dengan kepribadian yang baik, diharapkan tidak terjadi pelanggaran terhadap norma-norma yang bisa merusak citra pelayanan bimbingan dan konseling. Hal ini tidak dapat disembunyikan lagi bahwa seorang konselor merupakan model bagi siswa. Sebagaimana dalam teori counselling by modeling, yaitu konseling melalui percontohan. Agar konselor bisa menjadi contoh yang efektif bagi pemecahan masalah kliennya, konselornya harus berakhlak baik (akhlakul karimah). Konselor tidak akan dapat menjalankan fungsi ini apabila dirinya tidak memiliki kepribadian yang baik. Misalnya konselor akan sulit mengubah perilaku siswa yang tidak disiplin apabila ia sendiri tidak dapat menunjukkan perilaku disiplin kepada para siswa. Konselor akan sulit mengubah sifat siswa yang emosional apabila ia sendiri adalah orang yang emosional dan seterusnya. Islampun melarang manusia banyak berkata tetapi prilakunya tidak sesuai dengan perkataanya, sebagaimana telah disebutkan dalam (QS. Ash-Shaff (61):3) yang artinya “amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. Di jelaskan pula oleh Allah dalam (QS. Al-Isro (17):36). “ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuannya itu akan diminta pertanggungjawabannya”. Praktik konseling konselor muslim haruslah dijiwai dan dilandasi oleh nilai-nilai ajaran Islam yang mengacu kepada praktik bimbingan dan konselingnya Rasulullah Saw. Oleh sebab itu, Rasulullah Saw. merupakan konselor pertama dalam Islam yang membimbing, mengarahkan, menuntun dan menasehati umat agar beriman kepada agama Tauhid (Islam). Melalui bimbingan, arahan, tuntunan dan nasihatnya, manusia memperoleh kebahagiaan hidup baik di dunia dan akhirat. Sutoyo (2009:205) mengatakan tujuan konseling islami adalah agar fitrah yang dikaruniakan Allah kepada individu bisa berkembang dan berfungsi dengan baik sehingga menjadi pribadi kaffah, dan secara bertahap mampu mengaktualisasikan apa yang diimaninya itu dalam kehidupan sehari-hari, yang tampil dalam bentuk kepatuhan terhadap hukum-hukum Allah dalam melaksanakan tugas kekhalifahan dibumi dan ketaatan dalam beribadah dengan mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Arti kaffah disini adalah imannya benar dan mantap, imannya menyatu dengan tindakannya, artinya ia mampu mengaktualisasikan apa yang diimaninya itu dalam kehidupan sehari-hari, dalam melaksanakan syariat agama tidak memilih-milih yang ringan dan menguntungkan diri sendiri, memiliki hubungan yang sehat dengan pencipta-Nya, diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitarnya. Karakteritisk Konselor Muslim Ada beberapa karakteristik konselor muslim sebagaimana yang diungkapkan oleh Erhamwilda (2009:115-116) adalah seorang yang mempunyai pemahaman ajaran agama yang cukup memadai, hidupnya layak diteladani, memiliki keinginan kuat dan ikhlas untuk membantu orang lain, menyakini bahwa apa yang dia lakukan untuk kliennya adalah sebatas usaha semuanya ditentukan oleh Allah SWT dan diri klien itu sendiri, tidak berputus asa dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, terus menerus berusaha memperkuat iman dan ketaqwaaannya, menyadari berbagai kelemahan pribadinnya dan tidak enggan minta bantuan ahli, jika dalam membantu klien ia mengalami kesulitan karena keterbatasan ilmunnya, selalu merujuk pada tafsir dan syarah hadits yang dikeluarkan ahlinya, bisa memegang rahasia orang lain, terus menerus berusaha menambah ilmu agamannya. Selain keterangan di atas, akhlak seorang konselor dapat dirumuskan dengan melihat asas-asas konseling islami yang ada dalam proses konseling sebagaimana yang diungkapkan Faqih (2004:21-34) sebagai berikut: 1. Asas kebahagiaan dunia akherat, tujuan akhir konseling adalah membantu klien mencapai kebahagian hidup yang senantiasa didambakan oleh setiap muslim, kebahagiaan hidup didunia bagi seorang muslim hanya merupakan kebahagiaan yang sifatnya sementara, kebahagiaan akhiratlah yang menjadi tujuan utama. 2. Asas Fitrah, konselor mengantar klien untuk mengenal, memahami dan menghayati fitrahnya, sehingga segala gerak tingkah laku dan tindakannya sejalan dengan fitrahnya (kemampuan potensial bawaan sebagai muslim). 3. Asas “Lillahi ta’ala”, konselor melakukan pemberian bantuan kepada klien semata-mata karena Allah, nilai-nilai ikhlas yang dibangun tanpa pamrih. Semua yang dilakukan adalah karena dan untuk mengabdi kepada Allah SWT semata. 4. Asas bimbingan seumur hidup, konselor diperlukan selama hayat masih dikandung badan. 5. Asas kesatuan jasmani-rohani, konselor memperlakukan kliennya sebagai mahluk jasmani dan rohani. 6. Asas keseimbangan rohani, konselor memahami bahwa klien memiliki daya kemampuan fikir, akal, nafsu, merasakan dan menghayati. 7. Asas kemaujudan hidup, konselor melihat klien merupakan eksistensi tersendiri, memiliki hak, memiliki perbedaan satu dengan yang lain. 8. Asas sosialitas manusia, konselor melihat bahwa manusia merupakan makhluk sosial, yang mamiliki, cinta kasih, rasa aman, penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain, rasa memiliki dan dimiliki. 9. Asas kekholifahan manusia, konselor perlu memperhatikan bahwa klien merupakan manusia yang diberi kedudukan tinggi sekaligus memiliki tanggungjawab besar sebagai pengelola alam semesta. 10. Asas keselarasan dan keadilan, konselor berprilaku penuh dengan keharmonisan, keselarasan, keseimbangan, keserasian dalam segala segi. 11. Asas pembinaan Akhlaqul-karimah, konselor harus memiliki sifat-sifat yang baik, karena konselor dituntut membantu klien memilihara, mengembangkan, menyempurnakan sifat-sifat yang baik tersebut. 12. Asas kasih sayang, klien memerlukan cinta kasih dan rasa sayang dari konselor. 13. Asas saling menghargai dan menghormati, konselor memiliki pemikiran bahwa dirinya dan klien memiliki kedudukan yang sama atau sederajat. 14. Asas musyawarah, konselor dan klien memiliki kesepakan untuk berdialog yang baik, satu sama lain tidak saling mendikte, tidak ada perasaan tertekan dan keinginan tertekan 15. Asas keahlian, konselor harus memiliki kemampuan keahlian dibidang konseling. Menurut Muhammad Kosim dari beberapa asas di atas, dapat dikembangkan dan dirumuskan bahwa seorang konselor Islami harus mememiliki akhlak sebagai berikut: 1. Lemah lembut merupakan sikap yang tidak bisa dipisahkan dari sikap kasih sayang yang harus dimiliki oleh seorang konselor. Rasulullah Saw, sebagai konselor umat sepanjang zaman memiliki akhlak yang lemah lembut. Begitu pula dalam mendidik, Rasulullah Saw senantiasa mendidik para sahabatnya dengan penuh kasih sayang. Perilaku kasih sayang turut menentukan keberhasilan seorang konselor dalam memberikan bimbingan dan arahan kepada klien sehingga ditemukan problem solving yang efektif. 2. Tawadhu, untuk menggugah simpati klien, sifat tawadhu' dari seorang konselor juga diperlukan. Dengan tawadhu akan menambahkan keakraban antara keduanya. Tawadlu (rendah diri) perlu diaktualisasikan dalam proses konseling. 3. Toleransi, konselor dituntut untuk bersikap toleran terhadap kliennya. Hal ini selalu dilakukan oleh Rasulullah Saw, bersikap toleransi kepada para sahabatnya yang sedang bermasalah. 4. Demokratis dan Terbuka, konselor yang bijaksana, juga diperlukan sikap toleransi yang tinggi kepada klien. Perlu pula keterbukaan antara keduanya sehingga berbagai persoalan yang dihadapi oleh klien dapat diselesaikan. 5. Adil, konselor harus bersikap adil dalam melakukan proses konseling kepada kliennya. Prinsip keadilan ini sangat penting memahami masalah yang dihadapi klien dalam memperlakukannya sesuai dengan prinsip keadilan itu sendiri. Yusuf dan Nurikhsan (2009: 37- 45) mengemukaan bahwa kualitas pribadi konselor ditandai denga beberapa karakteristik sebagai berikut: a. Pemahaman Diri (Self-Knowledge) seorang konselor memahami dirinya dengan baik, dia memahami pasti apa yang dia lakukan, dengan self knowledge yang baik akan menunjukan sifat menyadari kebutuhan dirinya sebagai konselor akan kebutuhan untuk sukses, kebutuhan merasa penting, dihargai, superior. Menyadari baik tentang perasan-perasaannya (marah, takut dan bersalah), konselor menyadari tentang apa yang membuat dirinya cemas dalam konseling, dan Konselor memahami atau mengakui kelebihan (kekuatan) atau kelemahan (kekurangan) dirinya. b. Kompeten (Competent), konselor memiliki kualitas fisik, intelektual, emosional, sosial dan moral sebagai pribadi yang berguna. Konselor yang senantiasa berusaha meningkatkan kualitas kompetensinya, akan menampilkan sifat-sifat kualitas pengetahuannya tentang tingkah laku, konseling dan berbagai hal yang berkaitan dengan profesinya, menemukan pengalaman-pengalaman hidup baru yang membantunya untuk lebih mempertajam kompetensi dan mengembangkan ketrampilan konselingnya, mencoba gagasan-gagasan atau pendekatan baru dalam konseling, mengevaluasi efektifitas konseling yang dilakukannya, dan melakukan kegiatan tindak lanjut terhadap hasil evaluasi yang telah dilaksanakan untuk mengembangkan atau memperbaiki proses konseling. c. Kesehatan Psikologis, konselor dituntut memiliki kesehatan psikologis yang lebih baik dari kliennya, hal ini sangat penting karena konselor akan mendasari pemahamannya terhadap prilaku dan ketrampilannya. Konselor yang kesehatan psikologisnya memperoleh pemuasan kebutuhan rasa aman, cinta, kekuatan dan seks, dapat mengatasi masalah-masalah pribadi yang dihadapinnya, menyadari kelemahan atau keterbatasan kemampuan dirinya, dan tidak hanya berjuang untuk hidup, tetapi juga menciptakan kehidupan yang lebih baik d. Dapat Dipercaya (Trustworthiness/amanah), konselor tidak menjadi ancaman atau penyebab kecemasan bagi klien. Konselor yang dipercaya cenderung memiliki kualitas sikap dan prilaku yang konsisten, dapat dipercaya oleh orang lain, tidak pernah membuat klien kecewa/kesal, dan bertanggung jawab, mampu merespon orang lain secara utuh tidak ingkar janji dan mau membantu secara penuh. e. Jujur (honesty) konselor itu bersikap transparan (terbuka), autentik, dan asli (genuine). Sikap jujur ini penting dalam konseling, karena sikap keterbukaan memungkinkan konselor dan klien untuk menjalin hubungan psikologis yang lebih dekat satu sama lainnya di dalam proses konseling; Konselor yang menutup atau menyembunyikan bagian-bagian dirinya terhadap klien dapat menghalangi terjadinya relasi yang lebih dekat, kejujuran memungkinkan konselor dapat memberikan umpan balik secara objektif kepada klien, bersikap kongruen artinya sifat-sifat dirinya yang dipersepsi oleh dirinya sendiri (real self) sama sebangun dengan yang dipersepsi oleh ortang lain (public self). f. Kekuatan (Strength), klien akan merasa aman bila klien memandang konselor sebagai orang yang tabah dalam menghadapi masalah, dapat mendorong klien untuk mengatasi masalahnya, dan dapat menanggulangi kebutuhannya. Konselor yang memiliki kekuatan cenderung menampilkan kualitas sikap dan prilaku dapat membuat batasan waktu yang pantas dalam konseling, bersikap fleksibel, dan memiliki identitas diri yang jelas. g. Bersikap Hangat, yaitu konselor mampu bersikap ramah, penuh perhatian dan mampu memberikan kasih sayang. Melalui konseling klien mendapatkan rasa hangat dan melakukan sharing dengan konselor. h. Actives Responsiveness, keterlibatan konselor dalam proses konseling bersifat dinamis, tidak pasif, melalui respon yang aktif, konselor dapat mengkomunikasikan perhatian dirinya terhadap kebutuan klien. i. Sabar (Patience), seorang konselor yang tidak berbekal kesabaran, ibarat musafir yang melakukan perjalanan tanpa bekal. Bisa jadi dia akan gagal, atau kembali sebelum sampai ke tempat tujuan. Melalui kesabaran konselor dapat membantu klien untuk mengembangkan dirinya secara alami. Sikap sabar konselor menunjukkan lebih memperhatikan diri klien daripada hasilnya. Konselor yang sabar cenderung menampilkan kualitas sikap dan perilaku yang tidak tergesa-gesa. i. Kepekaan (sensitivity), konselor menyadari tentang adanya dinamika psikologi yang tersembunyi atau sifat-sifat mudah tersinggung, baik pada diri klien maupun dirinya sendiri. Konselor yang positif akan mampu mengungkap atau menganalisis apa yang sebenarnya yang dihadapi klien. Konselor yang sensitif memiliki kualitas prilaku sensitif terhadap reaksi dirinya sendiri, mengetahui kapan, dimana, dan berapa lama mengungkap masalah klien (probing), mengajukan pertanyaan tentang persepsi klien tentang masalah yang dihadapi. j. Kesadaran holistik (holistic awareness), konselor memahami klien secara utuh dan tidak mendekatinya secara serpihan. Konselor yang memiliki kesadaran holistik cenderung menampilkan karakteristik menyadari secara akurat tentang dimensi-dimensi kepribadian yang komplek, menemukan cara memberikan konsultasi yang tepat, mempertimbangkan tentang perlunya referal (rujukan), dan akrab serta terbuka terhadap berbagai teori. Cara Berbicara dengan Klien Perkataan Rasulullah sangat sarat dengan makna. Beliau memiliki kemampuan dalam mengungkapkan apa yang ingin dikatakan hanya dengan sedikit kata. Sehingga dalam melakukan konseling, perlu dilakukan dengan komunikasi yang baik. Tanpa komunikasi yang baik, niscaya pesan yang diinginkan sulit menimbulkan efek yang positif terhadap klien. Umul mukminin Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddik berkata “ Sesungguhnya Rasulullah tidak melontarkan perkataan sebagaimana yang kalian lakukan. Beliau selalu mengatakan sesuatu secara sistematis. Kata-katanya bisa dihitung dengan jari. Terkadang beliau mengucapkan satu kalimat dengan tiga kali pengulangan agar lebih mudah menghafalnya. Az-Zahrani (2005:67) mengatakan cara Rasulullah berbicara adalah sebagai berikut: 1. Sistematis, agar pendengar bisa memfokuskan diri pada topik pembicaraan. 2. Penuh dengan kehati-hatian agar pendengar mendapatkan kesempatan dalam memahami pembicaraan dan juga mampu memahami jalan pikiran pembicara secara berkesinambungan serta mengurangi lupa yang umumnya terjadi. 3. Menyeluruh, dapat dipahami oleh semua kalangan umum dan juga pelajar. 4. Mengulanggnya tiga kali agar membekas dalam hati dan juga pikiran. Lebih jauh Asmani (2010:196) mengatakan komunikasi merupakan kecakapan dasar yang harus dimiliki oleh setiap konselor. Dalam komunikasi, konselor dapat mengekpresikan kembali pertanyaan-pertanyaan konseli secara tepat; menjawab atau memantulkan kembali pernyataan konseli dalam bentuk perasaan dan kata-kata serta tingkah laku konselor. Komunikasi juga merupakan layanan bimbingan konseling yang diberikan kepada siswa sebagaimana yang diungkapkan oleh Dahlan (2009: 163) pelatihan siswa dibidang konseling dimaksud agar siswa memiliki rasa percaya diri yang tinggi, dan secara sosiologis lebih familier, baik di lingkungan sosial, keluarga maupun dengan teman sebaya mereka. Menurut Muhammad Kosim, ada beberapa ayat dalam al-Qur'an tentang pola-pola komunikasi: 1. Qawlan ma'rufan (Al-Baqarah: 263; An-Nisa': 8; Al-Ahzab: 32) maksudnya Perkataan yang baik Bahasa yang sesuai dengan tradisi, bahasa yang pantas atau cocok untuk tingkat usianya; bahasa yang dapat diterima akal untuk tingkat usia. 2. Qawlan kariman (Al-Isra': 23) maksudnya Perkataan yang mulia bahasa yang memiliki arti penghormatan, bahasa yang enak didengar karena terdapat unsur-unsur kesopanan. 3. Qawlan maysuran (Al-Isra': 28) maksudnya Perkataan yang pantas bahasa yang dimengerti, bahasa yang dapat menyejukkan perasaan, dan tidak tidak membuat kecewa. 4. Qawlan balighan (An-Nisa: 63) maksudnya Perkataan yang mengena/ mendalam Bahasa yang efektif, sehingga tepat sasaran dan tujuannya, bahasa yang efisien, sehingga tidak membutuhkan banyak biaya, waktu dan tempat. 5. Qawlan layyinan (Thaha: 44) maksudnya Perkataan lemah lembut bahasa yang halus, sehingga menembus relung kalbu, bahasa yang tidak menyinggung perasaan orang lain, bahasa yang baik dan enak didengar. 6. Qawlan sadiidan (An-Nisa: 9) maksudnya Al-Ahzab: 70 Perkataan benar dan berimbang Bahasa yang benar, bahasa yang berimbang (adil) dari kedua belah pihak. 7. Qawlan azhima (Al-Isro': 40) maksudnya Perkataan yang berbobot bahasa yang mendalam materinya, bahasa yang berbobot isinya. 8. Qawlan min rabbi rahim (Yasin (36):58) maksudnya Perkataan rabbani bahasa yang isinya bersumber dari Tuhan, bahasa yang yang mengandung pesan Tuhan. 9. Qawlan tsaqila (Al-Muzzammil (73): 5) maksudnya Perkataan yang berat bahasa yang berbobot yang mengandung informasi kewajiban manusia, syariah, halal-haram, hukum pidana-perdata. Penerapan bahasa di atas dapat digunakan dengan melihat kondisi psikologi klien sehingga tujuan dari proses konseling dapat tercapai dengan baik. Penutup Demikianlah uraian konselor yang berakhlak mulia yang perlu dimiliki oleh setiap konselor sehingga pelaksanaan layanan konseling berjalan dengan baik dan masalah yang dihadapi oleh klien teratasi secara efektif dan efisien. Akhlak konselor tentunya berlandaskan kepada ajaran Islam yaitu al-Qur'an dan hadis. Dalam al-Qur'an dan hadis, ditemukan beberapa akhlak yang perlu dimiliki oleh seorang konselor, seperti berkomunikasi dengan baik, kasih sayang, jujur, amanah, adil, sabar, tawadhu', toleransi, dan sebagainya. Hal ini juga relevan dengan asas-asas dalam konseling itu sendiri. Tujuan konselor muslim ini adalah meningkatkan, iman, islam dan ikhsan individu yang dibimbing hingga menjadi pribadi yang utuh. Dan pada akhirnya diharapkan mereka bisa hidup bahagia di dunia dan akhirat. DAFTAR KEPUSTAKAAN Asmani. JM. 2010. Panduan Efektif Bimbingan dan Konseling Di Sekolah. Jogyakarta: DIVA Press. Az-Zahrani. M. 2005. Konseling Terapi. Jakarta: Gema Insani Dahlan. A. 2009. Bimbingan dan Konseling Islami Sejarah, Konsep dan Pendekatannya. Yogyakarta: Pura Pustaka. Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidkan Formal. Bandung: Psikologi Pendidikan dan bimbingan UPI. Departemen Agama Republik Indonesua. 1995. Al-Quran dan terjemahnya. Semarang: Al-Waah. Erhamwildan. 2009. Konseling Islami. Yogyakarta: Graha Ilmu. Faqih. A.R. 2004. Bimbingan dan Konseling dalam Islam. Yogyakarta: UII Press Jalaluddin. 2010. Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada Sutoyo. A. 2009. Bimbingan dan Konseling Islami Teori dan Praktek. Semarang: Widya Karya. Tohirin. 2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Yusuf dan Nurikhsan. 2009. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung : Rosda http://mhdkosim.blogspot.com./2009/05/makalah-konseling-islam Muhammad Kosim, MA diunduh 8 Oktober 2009.