HAWA DAN HAWA NAFSU
Assalafiyah Luwungragi, Rabu 11 Ramadhan 1443 H (13/4/22). Ngaji puasanan bersama K.H. Subhan Ma'mun dengan kitab Atqiyatul al-Atqiya
Sebagai catatan pengantar tulisan ngaji kali ini, penulis mencoba kembali membuat rangkaian kata untuk memahami judul di atas, sebagai acuan penulisan.
Secara garis besar manusia diciptakan memiliki keinginan ataupun potensi baik (taqwa) dan keinginan buruk (nafsu). Dari keduanya pun ada keseimbangan (at-tawazun) dan nilai-nilai kemanusiaan (al-basyariah). Hawa nafsu dapat juga menjadi fitrah manusia sejak lahir, yang di dalamnya ada nilai manfaat dan madorotnya.
Dalam Bahasa Indonesia, hawa nafsu bermakna keinginan atau dorongan hati yang kuat untuk melakukan perkara yang tidak baik, seperti syahwat dan sejenisnya.
Hawa sendiri memiliki arti sesuatu yang dicintai, atau sesuatu yang membuat senang. Sedangkan hawa nafsu bisa bermakna kecintaan terhadap nafsu. Merasa senang dengan melampiaskan atau mengumbar nafsu.
Sifat hawa sendiri merupakan kecenderungan hati terhadap apa yang dilakukan tidak baik dan ada modus perlawanan dan menghindar terhadap ketentuan syariat. Oleh karena itu, fungsi ngaji yang kita lakukan untuk menyadarkan hati dari hawa nafsu.
Pada sisi lain, hawa dapat diartikan sebagai keinginan dan nafsu adalah jiwa. Sedangkan pada setiap jiwa manusia cenderung untuk berbuat dosa dan maksiat. Manusia pun selalu dihadapkan pada dua pilihan, yaitu baik dan buruk. Secara umum, kecenderungan manusia memilih menurutii hawa nafsu atau sesuatu yang buruk.
Sebagai contoh, ketika ada pilihan mengaji atau istirahat, maka pilihan istirahat lebih menarik. Begitu juga ketika ada pilihan, shalat tahajud atau istirahat, jiwa manusia cenderung memilih istirahat.
Hawa dan hawa nafsu pada seseorang kalau dikembangkan, akan menghambat potensi untuk menciptakan berbuat baik, keadilan, ketenteraman, keamanan, kesejahteraan, persatuan dan hal-hal baik lainnya. Sedangkan kalau hawa nafsu ditekan agar tidak muncul bebas ke permukaan dan dapat dikendalikan dengan baik, maka akan mewujudkan keseimbangan hidup dan kebahagian. Selanjutnya manusia akan berjalan pada jalur hukum dan syariat yang benar.
Dalam perspektif psikologi, hawa nafsu dapat dikatakan sebagai kekuatan psikologis yang dapat menyebabkan suatu hasrat atau keinginan intens terhadap suatu objek atau situasi demi pemenuhan emosi tersebut. Dapat berupa hawa nafsu untuk pengetahuan, kekuasaan, dan lainnya; namun pada umumnya dihubungkan dengan hawa nafsu seksual.
Hawa nafsu tanpa kontrol ketaqwaan akan memberikan dampak yang sangat berbahaya. Sebagai contoh kehancuran di muka bumi ini terjadi karena hawa nafsu manusia yang tak terkontrol.
Mengikuti hawa nafsu akan membawa manusia kepada kerusakan. Akibat pemuasan nafsu jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan manfaat yang didapat darinya. Hawa nafsu yang tidak dapat dikendalikan juga dapat merusak potensi diri seseorang.
Bahaya bagi yang mengikuti hawa nafsu adalah akan membuatnya menyimpang dari kebenaran, sebagaimana panjang angan-angan akan membuatnya lebih mencintai dunia. Namun jika nafsu dikendalikan dan dikelola dengan baik, akan melahirkan manusia yang berakhlak mulia. Seperti sifat marah pada suami, jika dibiarkan, bisa mengakibatkan talak (perceraian rumah tangga), pertengkaran, bahkan pembunuhan. Namun, jika sifat marah dikendalikan, akan menjadi ketegasan dalam kepemimpinan dimana pun ia berperan. Baik dalam rumah tangga, di tengah pergaulan ataupun masyarakat luas.
Setan memasang perangkat pada manusia dengan berbagai ranjau nafsu. Dalam proses menghindari ranjaupun harus dilakukan sedikit demi sedikit, tidak bisa langsung, ada proses, step by step dan perlu kesabaran.
Mari bagun jiwa kita dengan taqwa, karena
taqwa menjadi pokok segala kebahagiaan.
bangunan apapun tidak akan kokoh tanpa didasari taqwa. Kemuliaan tidak diperoleh dengan banyak harta dan kekayaan yang dimiliki. Hanya ketaqwaan yang akan menjadikan pribadi yang mulia.
Taqwa ini pulalah sebagai usaha untuk mengekang hawa nafsu. Taqwa yang ada pada seseorang, bagaikan orang yang sedang dalam usaha, dan berkumpul bersama orang-orang sukses. Sehingga sangat wajar, jika ia akan diberi kesuksesan pula. Baik dalam rezeki mapun yang lainnya.
Sungguh sangat celaka, apabila menjadi manusia yang hidupnya senantiasa berbuat dosa, dan makin bertambah dosa. Belum sempat memohon ampunan sudah melakukan perbuatan dosa lagi.
Belajarlah pada cerita Nabi Adam yang dikeluarkan dari surga karena melakukan satu kesalahan, terperangkap pada modus
hoaksnya setan. Wallahu'alam bishowab.
(Lukmanrandusanga).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar