Minggu, 03 April 2022

MERAIH PAHALA RAMADHAN LEWAT NGAJI

MERAIH PAHALA LEWAT NGAJI

Ahad, 1 Ramadhan 1443 H (3/4/22) pembukaan ngaji sore hari pukul 16.00 - 17.15 Wib. setiap hari selama Bulan Puasa. Di pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Brebes. Dengan kitab yang dikaji Kifayat al-Atqiya' Wa Minhaj al-Ashfiya. karya Sayid Bakari al-Makki bin Sayid Muhammad Syatho ad-Dimyathi

Ngaji dimulai dari pembacaan muqodimah kitab.  Segala puji bagi Allah SWT yang menghususkan hamba-hambanya yang mulia dengan petunjuk.  Menghasilkan kemuliaan dan keagungan. Dan menghapus dari hati kegelapan selain Allah, mencintai orang baik. Memberi kesabaran dan ilmu serta bersih dari seluruh kotoran

Orang yang baik akan diberi keistimewaan karena taufiknya Allah. Dari pertolongan tersebut manusia akan mendapatkan kemulyaan dan kejayaan. Tertutup dari jalan kegelapan untuk berbuat kesalah terhadap hukum Allah, dan kecintaan dunia yang berlebihan, serta  akan tunduk terhadap garis yang ditetapkan.

Hidayah diperoleh manusia bisa didapat karena petunjuk ilmu. dan darinya dapat  menyebabkan memiliki hati yang bersih. Namun hati yang bersih dapat pula diperoleh dengan membaca Al-Quran dan berdzikir.

Selawat serta salam semoga untuk seorang yang diberi mahkota dengan mahkota keagungan.  Dan dengan kedatangannya membuat seluruh daerah bercahaya Yaitu tuan kita Muhammad Saw yang menganjurkan ketaatan kepada yang Maha Mulia dan Maha Pengampun. Melarang untuk mengikuti kesenangan dan nafsu setan.

Sesungguhnya Allah SWT memberi cahaya pada bumi, karena adanya Nabi Muhammad  Saw.

Mudah-mudahan dengan sebab sholawat serta salam, akan dimudahkan dalam memperoleh tujuan dan kebutuhan hidup. Diampuninya segala dosa, untuk kita, saudara, para pendatang dan pemukim penduduk asli.

Nabi Muhammad Saw, merupakan sosok Nabi yang mengingatkan manusia untuk  tidak mengikuti hawa nafsu setan.  Memegang kuat keimanan agar dapat hidayah, untuk  mencegah godaan setan dan hal-hal yang membahayakan terjerumus dalam jebakan setan pula.

Ketika manusia memiliki sifat cinta, dan sesungguhnya cinta itu dari AllahSwt. Oleh karena itu jangan rusak sifat cinta tersebut dengan melakukan perbuatan jelek. Rawatlah cinta dengan selalu mencintai Allah Swt.

Ada penekanan dalam mokodimah kitab, bahwa segala amal yang banyak dilakukan manusia, sehingga dapat diterima dan menghapus dosa, itu semua karena fadilah dari Allah Swt. Bukan semata-mata karena usaha dan kegigihan manusia. Karena amal yang dilakukan secara akal tidak mungkin diterima.

Sifat ilmu yang dikaji sangat luas, dan tidak manusia dapat mendapatkan semua ilmu walaupun hidup seribu tahun. Oleh karena itu cukup lah hidup dihidupi dengan ilmu yang manfaat. dan ketika sudah menjadi mulya karena ilmu maka jangan thoma. Agar selalu diberi petunjuk Allah Swt dapat hidup berada dijalan-Nya.

Satu lagi bagi pemilik ilmu, ketika ilmu yang didapat ada yang memintanya maka jangan ditolak. Jadikan hidup selalu berada pada yang baik, sehinga akan menjadi orang  baik. Begitu juga ketika seneng ngaji, dan sifat dasar mengaji sendiri adalah perbuatan yang  bagus, sehingga orang yang suka mengaji akan terbawa pada perilaku bagus.

Perlu diketahui, Ilmu dan amal yang sesuai irama dengan ketentuan hukum Allah Swt, akan membentuk hati selamat dari sifat marah, hasud dan ria. Oleh karena itu seorang ilmuan tidak boleh takut atau bingung tidak menjadi terkenal dan menjadi miskin, susah memenuhi kebutuhan hidupnya. Berlatihlah untuk meninggalkan sombong dengan riyadho dan suka memaafkan atas kesalahan orang lain.

Sebagai catatan tambahan mengaji, untuk memiliki anak yang mulia, maka anak harus dikenalkan para orang-orang yang baik, para ulama dan ahli thoriqah.

Ketika seseorang senang mengaji, maka baginya dapat dikatagorikan orang yang berusaha dalam rangka mendapatkan pahala seperti pahala orang mati sahid. Mengajipun sebuah usaha untuk dekat ulama dan mendapatkan safaatnya.

Ada 3 golongan orang yang kelak di akhirat diberi wewenang oleh Allah SWT untuk memberi syafaat. Ketiga golongan manusia tersebut adalah para Nabi, ulama, dan syuhada.

Diakhir mukodimah ada tradisi baik yang diwariskan oleh para ilmuan dalam setiap mengarang kitab, kerendahan diri dan menerima koreksi setelah dibedah dan dikaji secara serius. Permohonan maaf apabila ada kekeliruan dalam menulis kitab. Wallahu'alam bishowab.
Lukmanrandusanga


Tidak ada komentar:

Posting Komentar