BELUM MAMPU MEMBERI MANFAAT ORANG LAIN, MINIMAL BERMANFAAT UNTUK DIRI SENDIRI
Sabtu, (9/4) ngaji puasanan Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi, yang disampaikan K.H. Subhan Ma'mun di sore hari yang tak pernah sepi walaupun selalu terguyur hujan.
Dihari yang ke-7 bulan Ramadhan 1443 H. Alhamdulillah penulis masih bisa mengikuti ngaji bersama beliau, walaupun kadang harus melawan rasa sakit di leher yang selalu tegang dan panas. Maklumlah lehernya suka tegang sendiri, tak kala sedang dan sesudah menulis. Akhirnya penulis harus minum obat, untuk mengurangi ketegangan dan rasa sakit di lehernya.
Dengan modal semangat sehat, Penulis mencoba kembali membuat catatan ngaji, yang difahami disetiap penjelasan yang disampaikan K.H. Subhan Ma'mun selaku guru dan motivator penulis dalam beribadah.
Penulispun sangat yakin, bahwa dalam setiap catatan ngaji sangat jauh dari kesempurnaan. Namun penulis berharap mudah-mudah tulisan ini bermanfaat untuk pembaca, kalau tidak? insyaAllah bermanfaat untuk diri penulis sendiri. Minimal ada sedikit usaha untuk faham dari setiap ngaji, yang disampaikan beliau. Walapun hanya persentasinya sedikit.
Dicatatan kali ini, penulis mencoba menulis poin-poin yang disampaikan beliau, namun hanya sebatas mengandalkan kemampuan pendengaran dan pemahaman penulis semata dan sedikit penambahan kalimat agar enak dan renyah dibaca. Maaf itu hanya pembelaan penulisan saja.
Adapun poin-poin yang dapat penulis, sajikan dann tuangkan dalam monitor mungil ini adalah sebagai berikut.
Bau harum tidak hanya berasal dari minyak wangi, bau harum dapat dari bungah, buah dan pohon. Namun bau harum yang satu ini, datang dari manusia pilihan Allah SWT. Nabi yang tidak hanya menyelamatkan manusia untuk memiliki akhlak yang mulia, namun dari apa yang menempel di badanya adalah keharuman. Mulai dari keringatnya, bersalaman membuat harum, bekas majlis belajar bersama para sahabatpun meninggalkan keharuman.
Keharuman Nabi Muhammad SAW, ternyata tidak hanya dirasakan oleh sesama manusia, semua alam dan Malaikatpun merasakan keharuman Nabi pemberi syafaat (pertolongan) kepada pengikutnya.
Tidak ketinggalan pula, majlis yang didalamnya ada bacaan sholawat, maka akan menebarkan keharumannya juga, yang hingga sampai ke Ars. Singgasan Allah SWT.
Dalam bacaan sholawat, memang ada kekhususan yang tidak dapat merasakan keharumannya, yaitu jin dan manusia. Hal ini dimaksud untuk mengingatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki keunikan dan istimewa. Disamping untuk beribadah, manusia juga memiliki kewajiban penjaga dan perawat dunia, bekerja, berusaha dan belajar.
Kalau manusia dapat mencium keharuman bacaan sholawat, dikhawatirkan akan tidak usaha lagi. Hidupnya hanya ingin selalu berada dalam kenikmatan keharuman bacaan sholawat.
Hal ini juga, yang melatarbelakangi, pada setiap thorikoh, ada lantunan bacaan sholawat yang dilanggengkan. Karena keharuman sholawat juga menjadi energi tersendiri bagi siapa saja yang membacanya. Ditambah bacaan istigfar sebagi penyapu debu-debu dosa dan kalimat hillalah (laa ilaha illallah) sebagi deterjennya
Bacaan sholawat itu selalu menyejukan, tenang dan semerbak harum baunya kemana-mana ketika diaaca. Setiap manusia membaca sholawat, para malaikat menemukan keharumnya dan memohonkan ampunan bagi yang membaca pula.
Setiap manusia yang membaca sholawat akan dibalas dan dicatat masuk kebaikan-kebaikan dalam majlisnya. Keseringan sholawat juga akan menjadikan wusul kepada Allah SWT.
Ada kisoh dari ahli sholawat, Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli sebagai pengarang kitab dalail khairot. Setelah beliau meninggal dan dikebumikan beratus-ratus tahun. Terpaksa jenazahnya harus di pindah ketempat lain, karena ada program pembuatan dan pelebaran jalan. Pada saat akan memindahkan makamnya, ternyata jenazahnya masih utuh dan seperti masih baru, padahal umur makam tersebut sudah ratusan tahun.
Bagi manusia yang selalu memperbanyak dan merutinkan sholawat, mala Allah SWT akan mengharamkan manusia tersebut dan mengharamkan terkena api neraka.
Sebuah keistimewaan bagi manusia yang suka membaca shokawat, akan langsung dibalas oleh Allah SWT. Ketika manusia membaca 1 sholawat kepada Nabi Muhammad. Maka akan dibalas 10 (sepuluh) kali oleh Allah SWT. 100 dibalas 1000. Dan seterunya denga kelipatan 10.
Para guru thorikoh yang bisa wusul juga, salah satunya dengan banyak membaca sholawat. Termasuk wajahnya yang dipandang sejuk dan ceriah itu berkat sholawat pula.
Sebagai pengingat dan pesan dalam tulisan ini kepada para pembaca, kalau membaca sholawat jangan hanya karena mengejar kuantitasnya saja tapi kualitas juga harus di perhatikan.
Bacalah sholawatlah dalam keadaan suci, menghadap kiblat, tartil, tertib tidak buru-buru dan orientasi jumlah semata, serta mendapatkan bacaan sholawat dari guru yang memilki jalur nasab ilmu sholawat yang jelas.
Wallahu 'alam bishowab.
(Lukmanrandusanga)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar