Rabu, 13 April 2022

HAWA DAN HAWA NAFSU

HAWA DAN HAWA NAFSU

Assalafiyah Luwungragi, Rabu 11 Ramadhan 1443 H (13/4/22).  Ngaji puasanan bersama K.H. Subhan Ma'mun dengan kitab Atqiyatul al-Atqiya 

Sebagai catatan pengantar tulisan ngaji kali ini, penulis mencoba kembali membuat rangkaian kata untuk memahami judul di atas, sebagai acuan penulisan.

Secara garis besar manusia diciptakan memiliki keinginan ataupun potensi  baik (taqwa) dan keinginan buruk (nafsu). Dari keduanya pun ada  keseimbangan (at-tawazun) dan nilai-nilai  kemanusiaan (al-basyariah). Hawa nafsu dapat juga menjadi fitrah manusia  sejak lahir, yang di dalamnya ada nilai manfaat dan madorotnya.

Dalam Bahasa Indonesia, hawa nafsu bermakna keinginan atau dorongan hati yang kuat untuk melakukan perkara yang tidak baik, seperti syahwat dan sejenisnya.

Hawa sendiri memiliki arti sesuatu yang dicintai, atau sesuatu yang membuat senang. Sedangkan hawa nafsu bisa bermakna kecintaan terhadap  nafsu. Merasa senang dengan melampiaskan  atau mengumbar nafsu.

Sifat hawa sendiri merupakan kecenderungan hati terhadap apa yang dilakukan tidak baik dan ada modus perlawanan dan menghindar terhadap ketentuan syariat. Oleh karena itu, fungsi ngaji  yang kita lakukan untuk menyadarkan hati dari hawa nafsu.

Pada sisi lain, hawa dapat diartikan sebagai keinginan dan nafsu adalah jiwa. Sedangkan pada setiap jiwa manusia cenderung untuk berbuat dosa dan maksiat. Manusia pun selalu dihadapkan pada dua pilihan, yaitu baik dan buruk.  Secara umum, kecenderungan manusia memilih menurutii hawa nafsu atau sesuatu yang buruk.

Sebagai contoh,  ketika ada pilihan mengaji atau istirahat, maka pilihan istirahat lebih menarik.  Begitu juga ketika ada pilihan, shalat tahajud atau istirahat, jiwa manusia cenderung memilih istirahat. 

Hawa dan hawa nafsu pada seseorang kalau dikembangkan, akan menghambat potensi untuk menciptakan berbuat baik,  keadilan, ketenteraman, keamanan, kesejahteraan, persatuan dan hal-hal baik lainnya. Sedangkan kalau hawa nafsu ditekan agar tidak muncul bebas ke permukaan dan dapat dikendalikan dengan baik, maka akan mewujudkan keseimbangan hidup  dan  kebahagian. Selanjutnya manusia akan berjalan pada jalur hukum dan syariat yang benar.

Dalam perspektif psikologi, hawa nafsu dapat dikatakan sebagai kekuatan psikologis yang dapat menyebabkan suatu hasrat atau keinginan intens terhadap suatu objek atau situasi demi pemenuhan emosi tersebut. Dapat berupa hawa nafsu untuk pengetahuan, kekuasaan, dan lainnya; namun pada umumnya dihubungkan dengan hawa nafsu seksual.

Hawa nafsu tanpa kontrol ketaqwaan akan memberikan dampak yang sangat berbahaya.  Sebagai contoh kehancuran di muka bumi ini terjadi karena hawa nafsu manusia yang tak terkontrol.

Mengikuti hawa nafsu akan membawa manusia kepada kerusakan. Akibat pemuasan nafsu jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan manfaat yang didapat darinya. Hawa nafsu yang tidak dapat dikendalikan juga dapat merusak potensi diri seseorang.

Bahaya bagi yang mengikuti hawa nafsu adalah akan membuatnya menyimpang dari kebenaran, sebagaimana panjang angan-angan akan membuatnya lebih mencintai dunia. Namun jika nafsu  dikendalikan dan dikelola dengan baik, akan melahirkan manusia yang berakhlak mulia. Seperti sifat marah pada suami, jika dibiarkan, bisa mengakibatkan talak (perceraian rumah tangga), pertengkaran, bahkan pembunuhan. Namun, jika sifat marah dikendalikan, akan menjadi ketegasan dalam kepemimpinan dimana pun ia berperan. Baik dalam rumah tangga, di tengah pergaulan ataupun masyarakat  luas.

Setan memasang perangkat pada manusia dengan berbagai ranjau nafsu. Dalam proses menghindari ranjaupun harus dilakukan sedikit demi sedikit, tidak bisa langsung, ada proses,  step by step dan perlu kesabaran.

Mari bagun jiwa kita dengan taqwa, karena
taqwa menjadi pokok segala kebahagiaan.
bangunan apapun tidak akan kokoh tanpa didasari taqwa. Kemuliaan tidak diperoleh dengan banyak harta dan kekayaan yang dimiliki.  Hanya ketaqwaan yang akan menjadikan pribadi yang mulia.

Taqwa ini pulalah sebagai usaha untuk mengekang hawa nafsu. Taqwa yang ada pada seseorang,  bagaikan orang yang sedang dalam usaha, dan berkumpul bersama orang-orang sukses.  Sehingga sangat wajar, jika ia akan diberi kesuksesan pula. Baik dalam rezeki mapun yang lainnya.

Sungguh sangat celaka, apabila menjadi manusia yang hidupnya senantiasa berbuat dosa, dan makin bertambah dosa. Belum sempat memohon ampunan sudah melakukan perbuatan dosa lagi.
Belajarlah pada cerita Nabi Adam yang dikeluarkan dari surga karena melakukan satu kesalahan, terperangkap pada modus 
hoaksnya setan. Wallahu'alam bishowab.
(Lukmanrandusanga).

Sabtu, 09 April 2022

BELUM MAMPU MEMBERI MANFAAT ORANG LAIN, MINIMAL BERMANFAAT UNTUK DIRI SENDIRI



BELUM MAMPU MEMBERI MANFAAT ORANG LAIN, MINIMAL BERMANFAAT UNTUK DIRI SENDIRI

Sabtu,  (9/4) ngaji puasanan Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi, yang disampaikan K.H. Subhan Ma'mun di sore hari yang tak pernah sepi walaupun selalu terguyur hujan.

Dihari yang ke-7 bulan Ramadhan 1443 H. Alhamdulillah penulis masih bisa mengikuti ngaji bersama beliau, walaupun kadang harus melawan rasa sakit di leher yang selalu tegang dan panas. Maklumlah lehernya suka tegang sendiri, tak kala sedang dan sesudah menulis. Akhirnya penulis harus minum obat, untuk mengurangi ketegangan dan rasa sakit di lehernya.

Dengan modal semangat sehat, Penulis mencoba kembali membuat catatan ngaji, yang difahami disetiap penjelasan yang disampaikan K.H. Subhan Ma'mun selaku guru dan motivator penulis dalam beribadah.

Penulispun sangat yakin, bahwa dalam setiap catatan ngaji sangat jauh dari  kesempurnaan. Namun penulis berharap mudah-mudah tulisan ini bermanfaat untuk pembaca, kalau tidak? insyaAllah bermanfaat untuk diri penulis sendiri. Minimal ada sedikit usaha untuk faham dari setiap ngaji, yang disampaikan beliau. Walapun hanya persentasinya sedikit.


Dicatatan kali ini, penulis mencoba menulis poin-poin yang disampaikan beliau, namun hanya sebatas mengandalkan kemampuan pendengaran dan pemahaman penulis semata dan sedikit penambahan kalimat agar enak dan renyah dibaca. Maaf itu hanya pembelaan penulisan saja.


Adapun poin-poin yang dapat penulis, sajikan dann tuangkan dalam monitor mungil ini adalah sebagai berikut.

Bau harum tidak hanya berasal dari minyak wangi, bau harum dapat dari bungah, buah dan pohon. Namun bau harum yang satu ini, datang dari manusia pilihan Allah SWT.  Nabi yang  tidak hanya menyelamatkan manusia untuk memiliki akhlak yang mulia, namun dari apa yang menempel di badanya adalah keharuman. Mulai dari keringatnya, bersalaman membuat harum, bekas majlis belajar bersama para sahabatpun meninggalkan keharuman.

Keharuman Nabi Muhammad SAW, ternyata tidak hanya dirasakan oleh sesama manusia, semua alam dan Malaikatpun merasakan keharuman Nabi  pemberi syafaat (pertolongan) kepada pengikutnya. 

Tidak ketinggalan pula, majlis yang didalamnya ada bacaan sholawat, maka akan menebarkan keharumannya juga, yang hingga sampai ke Ars. Singgasan Allah SWT.

Dalam bacaan sholawat, memang ada kekhususan yang tidak dapat merasakan keharumannya, yaitu jin dan manusia. Hal ini dimaksud untuk mengingatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki keunikan dan istimewa. Disamping untuk beribadah, manusia juga memiliki kewajiban penjaga dan perawat dunia, bekerja, berusaha dan belajar.

Kalau manusia dapat mencium keharuman bacaan sholawat, dikhawatirkan akan tidak usaha lagi.  Hidupnya hanya ingin selalu berada dalam kenikmatan keharuman bacaan sholawat.

Hal ini juga, yang melatarbelakangi, pada setiap thorikoh, ada lantunan bacaan sholawat yang dilanggengkan. Karena keharuman sholawat juga menjadi energi tersendiri bagi siapa saja yang membacanya.  Ditambah bacaan istigfar sebagi penyapu debu-debu dosa dan kalimat hillalah (laa ilaha illallah)  sebagi deterjennya  

Bacaan sholawat itu selalu menyejukan, tenang dan semerbak harum baunya kemana-mana ketika diaaca. Setiap manusia membaca sholawat, para malaikat menemukan keharumnya dan memohonkan ampunan bagi yang  membaca pula.

Setiap manusia yang membaca sholawat akan dibalas dan dicatat masuk kebaikan-kebaikan dalam majlisnya. Keseringan sholawat juga akan menjadikan wusul kepada Allah SWT.

Ada kisoh dari ahli sholawat, Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli sebagai pengarang kitab dalail khairot. Setelah beliau meninggal dan dikebumikan beratus-ratus tahun. Terpaksa jenazahnya harus di pindah ketempat lain, karena ada program pembuatan dan pelebaran jalan.  Pada saat akan memindahkan makamnya, ternyata jenazahnya masih utuh dan seperti masih baru, padahal umur makam tersebut sudah ratusan tahun.


Bagi manusia yang selalu memperbanyak dan merutinkan sholawat, mala Allah SWT akan mengharamkan manusia tersebut dan mengharamkan terkena api neraka.

Sebuah keistimewaan bagi manusia yang suka membaca shokawat, akan langsung dibalas oleh Allah SWT. Ketika manusia membaca 1 sholawat kepada Nabi Muhammad. Maka akan dibalas 10 (sepuluh)  kali oleh Allah SWT. 100 dibalas 1000. Dan seterunya denga kelipatan 10.

Para guru thorikoh yang bisa wusul juga, salah satunya dengan banyak membaca sholawat. Termasuk wajahnya yang dipandang sejuk dan ceriah itu berkat sholawat pula.

Sebagai pengingat dan pesan dalam tulisan ini kepada para pembaca, kalau membaca sholawat jangan hanya karena mengejar kuantitasnya saja tapi kualitas juga harus di perhatikan.

Bacalah sholawatlah dalam keadaan suci, menghadap kiblat, tartil, tertib tidak buru-buru dan orientasi jumlah semata, serta mendapatkan bacaan sholawat dari guru yang memilki jalur nasab ilmu sholawat yang jelas. 
Wallahu 'alam bishowab.
(Lukmanrandusanga)

Rabu, 06 April 2022

MEMBUKA TABIR DOA YANG TERKABUL


MEMBUKA TABIR DOA YANG DIKOBUL

Ngaji  ke-4  Rabu (6/4) puasa ramadhan bersama K.H. Subhan Ma'mun di pondok pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Brebes. 

Kalimat Allah itu Ismu al-adzom (nama-nama yang agung), dan barang siapa yang berdoa dengan diawali ismu al-adzam tersebut maka hal itu didalamnya memiliki nilai keagungan Dzat Allah dan Allah akan mengabulkan bagi hamba yang berdoa dengai ismu Al-adzab tersebut. Seperti di awali dengan asmaul husna-Nya.

Ismu Al-Adzam yang selalu di sebutkan dalam doa, akan menjadi jawaban bagi hamba-Nya. Nama Allah yang agung ketika disebut saat berdoa, maka Allah SWT akan menjawab dalam doa-doa yang dipanjatkan oleh setiap hamba-Nya.

Bagi manusia sebagai hamba Allah SWT, kalau ingin mendaptkan doanya cepat di kabul, maka ada beberapa syatat yang harus dipenuhi, dalam prosedur doa tersebut.

1.  Isilah perutnya dengan makanan yang halal.  Sehingga yang dikeluarkan oleh energi, baik perkataan maupun perbuatan adalah dalam kondisi clean.  Suara yang keluar dalam doa, dihasilkan dari asupan dan energi yang suci.

Dengan kekuatan energi halal, akan mendorong  doa melejit ke langit menuju Allah SWT.  Makanan halal juga menjadi kunci pembuka, langit-langit yang tertutup oleh kunci-kunci yang bergerigi.

Makanan yang halal juga dapat menjadi nilai kemulyaan untuk menuju Allah SWT, ditambah dzikir yang selalu di mulai dengan nama-nama yang mulia dalam asmaul husna, akan mengangkat manusia dalam  derajat yang tinggi pula.

Dzikir yang baik yang sudah menjadi rutunitas dalan keseharian, sebaiknya pula diiringi dengan amal shalih, agar kekuatan dzikir akan mengkat derajatnya.

Sebagai koreksi bersama, bagaimana doa yang diminta akan terkobul, akan tetapi setiap hari makanan yang dimakan, merupakan barang-barang yang tidak halal. 

2. Menjadi syarat yang kedua agar doanya dikobul oleh Allah SWT adalah Ikhlas, berdoalah dengan ikhlas semata-mata minta kepada Allah SWT, bukan karena yang lain. 

Mari koreksi kembali, ketika doa kita belum terkobulkan, apakah ketika kita doa sudah ikhlas apa belum, penuh keterpaksaan atau emosional.  Jangan sampai doa yang kita panjatkan menghasilkan kemarahan, karena doanya tidak dikabul.  Padahal kesalahan ada orang yang bersoa sendiri.

3. Syarat yang ketiga adalah, ketika berdoa untuk berusaha dapat khusu' artinya berusaha sebaik mungkin saat berdoa hati di hadirkan dan mantap penuh keyakinan menghadap Allah SWT.

Bagaimana sebuah permohonan akan dikabulkan, ketika saat melakukan permintaan tidak serius. Jasadnya menghadap Allah SWT, tetapi diketahui hati dan pikirannya menghindar  dalam setiap lisan yang diucapkan.

Oleh karena itu, mari sadari bersama ketika doa doa kita belum terkobul oleh Allah SWT, apakah karena makanan yang tidak halal, tidak ikhlas atau tidak serius dalam berdoa. Wajahnya menghadap Allah SWT  Tetapi hati dan pikiranmya melayang-layang mengikuti nafsu dan sahwatnya.

Semoga dengan doa-doa yang terus dipanjatkan untuk saat sekarang, sudah diawali dengan aksesoris tubuh yang halal dan bersih. Sehingga langsung menembus pintu-pintu langit dan dikobul. Aamiiin.


Minggu, 03 April 2022

MERAIH PAHALA RAMADHAN LEWAT NGAJI

MERAIH PAHALA LEWAT NGAJI

Ahad, 1 Ramadhan 1443 H (3/4/22) pembukaan ngaji sore hari pukul 16.00 - 17.15 Wib. setiap hari selama Bulan Puasa. Di pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Brebes. Dengan kitab yang dikaji Kifayat al-Atqiya' Wa Minhaj al-Ashfiya. karya Sayid Bakari al-Makki bin Sayid Muhammad Syatho ad-Dimyathi

Ngaji dimulai dari pembacaan muqodimah kitab.  Segala puji bagi Allah SWT yang menghususkan hamba-hambanya yang mulia dengan petunjuk.  Menghasilkan kemuliaan dan keagungan. Dan menghapus dari hati kegelapan selain Allah, mencintai orang baik. Memberi kesabaran dan ilmu serta bersih dari seluruh kotoran

Orang yang baik akan diberi keistimewaan karena taufiknya Allah. Dari pertolongan tersebut manusia akan mendapatkan kemulyaan dan kejayaan. Tertutup dari jalan kegelapan untuk berbuat kesalah terhadap hukum Allah, dan kecintaan dunia yang berlebihan, serta  akan tunduk terhadap garis yang ditetapkan.

Hidayah diperoleh manusia bisa didapat karena petunjuk ilmu. dan darinya dapat  menyebabkan memiliki hati yang bersih. Namun hati yang bersih dapat pula diperoleh dengan membaca Al-Quran dan berdzikir.

Selawat serta salam semoga untuk seorang yang diberi mahkota dengan mahkota keagungan.  Dan dengan kedatangannya membuat seluruh daerah bercahaya Yaitu tuan kita Muhammad Saw yang menganjurkan ketaatan kepada yang Maha Mulia dan Maha Pengampun. Melarang untuk mengikuti kesenangan dan nafsu setan.

Sesungguhnya Allah SWT memberi cahaya pada bumi, karena adanya Nabi Muhammad  Saw.

Mudah-mudahan dengan sebab sholawat serta salam, akan dimudahkan dalam memperoleh tujuan dan kebutuhan hidup. Diampuninya segala dosa, untuk kita, saudara, para pendatang dan pemukim penduduk asli.

Nabi Muhammad Saw, merupakan sosok Nabi yang mengingatkan manusia untuk  tidak mengikuti hawa nafsu setan.  Memegang kuat keimanan agar dapat hidayah, untuk  mencegah godaan setan dan hal-hal yang membahayakan terjerumus dalam jebakan setan pula.

Ketika manusia memiliki sifat cinta, dan sesungguhnya cinta itu dari AllahSwt. Oleh karena itu jangan rusak sifat cinta tersebut dengan melakukan perbuatan jelek. Rawatlah cinta dengan selalu mencintai Allah Swt.

Ada penekanan dalam mokodimah kitab, bahwa segala amal yang banyak dilakukan manusia, sehingga dapat diterima dan menghapus dosa, itu semua karena fadilah dari Allah Swt. Bukan semata-mata karena usaha dan kegigihan manusia. Karena amal yang dilakukan secara akal tidak mungkin diterima.

Sifat ilmu yang dikaji sangat luas, dan tidak manusia dapat mendapatkan semua ilmu walaupun hidup seribu tahun. Oleh karena itu cukup lah hidup dihidupi dengan ilmu yang manfaat. dan ketika sudah menjadi mulya karena ilmu maka jangan thoma. Agar selalu diberi petunjuk Allah Swt dapat hidup berada dijalan-Nya.

Satu lagi bagi pemilik ilmu, ketika ilmu yang didapat ada yang memintanya maka jangan ditolak. Jadikan hidup selalu berada pada yang baik, sehinga akan menjadi orang  baik. Begitu juga ketika seneng ngaji, dan sifat dasar mengaji sendiri adalah perbuatan yang  bagus, sehingga orang yang suka mengaji akan terbawa pada perilaku bagus.

Perlu diketahui, Ilmu dan amal yang sesuai irama dengan ketentuan hukum Allah Swt, akan membentuk hati selamat dari sifat marah, hasud dan ria. Oleh karena itu seorang ilmuan tidak boleh takut atau bingung tidak menjadi terkenal dan menjadi miskin, susah memenuhi kebutuhan hidupnya. Berlatihlah untuk meninggalkan sombong dengan riyadho dan suka memaafkan atas kesalahan orang lain.

Sebagai catatan tambahan mengaji, untuk memiliki anak yang mulia, maka anak harus dikenalkan para orang-orang yang baik, para ulama dan ahli thoriqah.

Ketika seseorang senang mengaji, maka baginya dapat dikatagorikan orang yang berusaha dalam rangka mendapatkan pahala seperti pahala orang mati sahid. Mengajipun sebuah usaha untuk dekat ulama dan mendapatkan safaatnya.

Ada 3 golongan orang yang kelak di akhirat diberi wewenang oleh Allah SWT untuk memberi syafaat. Ketiga golongan manusia tersebut adalah para Nabi, ulama, dan syuhada.

Diakhir mukodimah ada tradisi baik yang diwariskan oleh para ilmuan dalam setiap mengarang kitab, kerendahan diri dan menerima koreksi setelah dibedah dan dikaji secara serius. Permohonan maaf apabila ada kekeliruan dalam menulis kitab. Wallahu'alam bishowab.
Lukmanrandusanga


Selasa, 29 Maret 2022

KHIDMAH PADA ILMU


KHIDMAH PADA ILMU

Oleh : Lukman Nur Hakim.

Cirebon, Senen 6 Desember 2021. Promosi doktor H. Thobari di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dengan judul Desertasi "Kepemimpinan  Kyai Pesantren Tradisional dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Era Globalisasi." Studi kasus di Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi dan Pondok Pesantren Darussalam Jatibarang  Brebes. 

Dalam orasi ilmiah yang disampaikan oleh K.H. Subhan Ma'mun, diujian terbuka promosi doktor H. Thobari kepala MAN  Kota Tegal. Beliau menyampaikan. Konsep pondok pesaantren tradisional Assalafiyah tetap mengacu pada kurikulum literatur karya-karya ulama terdahulu. Walaupun kondisi pondok pesantren berada pada era globalisasi.

Pesantren tradisonal memiliki ciri yang mengikat sangat kuat. Salah satunya mengakat perekonomian lingkungan stempat.  Dunia pesantren tidak menerapkan monopoli usaha. Lingkungan Pondok diberi keleluasaan untuk menjajagan makanan maupun memenuhi kebutuhan para santri yang ada di Pondok Pesantren.

Karakteristik dan corak pesantren Tradisional secara umum mempunyai kebebasan penuh dalam sistem kurikulum yang diterapkan, lebih mengutamakan kesederhanaan, idealisme, persaudaraan, persamaan, rasa percaya diri dan keberanian. Di samping itu, adanya rumah tempat
kiyai bersama santrinya dalam pondok,  memfungsikan masjid sebagai tempat kegiatan belajar mengajar. Posisi santri dan Kyai merupakan tokoh sentral di pesantren dalam proses belajar mengajar.

Sistem  pondok pesantren tradisional, pengajarannya sangat kental dengan kitab-kitab Islam klasik.  Walaupun pertumbuhan dan perkembang keberadaan pesantren tradisional ditengah masyarakat sering berhadapan dengan implikasi politis dan kultural yang menggambarkan sikap pengasuh pondok pesantren disepanjang sejarah. 

Warna sikap pondok pesantren tradisional, dalam aktivitas keseharian tidak mengelola kebutuhan biologis para santri dan pemenuhan kebutuhan diri seperti kebersihan pakaian (Laundry). Semua diserahkan para santri untuk memilih kemana mereka akan memenuhi kebutuhan lapar dan hausnya serta kebersihan pakaiannya.

Pondok Pesantren tradisional  memberi peluang usaha bagi mereka yang rumahnya dekat dengan pesantren. Kehadiran pesantren memiliki komitmen kuat untuk memberi kemanfaatan untuk peningkatan ekonomi masyatakat.

Selanjutnya lingkungan akan menjadi saksi,  dari kebaikan para pengasuh  pesantren dalam pengelolaan pendidikan. Tetangga kanan kiri, depan dan belakang. Ketika mereka melakukan persaksian terhadap pengelola pesantren dengan baik. Maka Allah SWT akan menerima kesaksian kebaikan dari para tetangga.

Kehadiran pesantren tradisional tidak dapat dipisahkan dari tuntutan kebutuhan umat. Pesantren tradisional menjaga hubungan yang harmonis dengan masyarakat di sekitarnya sehingga kehadirannya
mendapat dukungan dan apresiasi penuh. Alhasil penilaian positif dan keorisinilan menjadi wajah pesantren tradisional di mata masyarakat  serta mendapat suport sistem pesantren tradisional untuk maju dan dikembangkan bersama-sama, antara pengasuh pesantren itu sendiri dan lingkungan pesantren.

Pesantren adalah ladang ilmu, dan perguruan tinggipun memiliki kedudukan yang  sama. Mereka yang ada dikeduanya merupakan orang-orang yang mengabdikan diri pada ilmu. Maka dengan mengabdikan diri pada ilmu, secara otomatis mendapatkan fadhilah dari ilmu yang diajarkan. Secara langsung dijawab seketika itu dalam kehidupan di dunia "Orang yang mau mengabdikan (khidmah)  pada ilmu, maka akan mendapatkan pertolongan atau bantuan dari manusia lainnya. 

‌Khidmah pada ilmu tidak bisa lepas dari keinginan mendapat keberkahan,  jalan petunjuk dan mengalirnya  kucuran cahaya dari ilmu itu sendiri. Khidmah secara umum memiliki arti   melayani atau membantu. Khidmah pada ilmu dapat dikatakan mengabdikan hidupnya untuk ilmu. Mengajar, meneliti dan mengembangkan keilmuan yang dimiliki untuk dapat  disampaikan dan disebarluaskan untuk kepentingan pengetahuan orang banyak.

Khidmah pada ilmu, memilki makna juga menyampaikan ilmu dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, yang semata-mata hanya mencari ridlo Allah SWT. 

LULUS


LULUS
Oleh : Lukman Nur Hakim

Randusanga, kamis 22 Januari 2020 Pukul 11.00 WIB. Suasana pemakaman orang tua penulis, Alm. H. Moh. Syamsuri bin H. Sakyadi. Di Pemakaman umum Desa Randusanga Kulon Brebes.

Kata lulus dalam judul di atas, Tidaklah  identik pada dunia akademik,  lulus sekolah, kuliah ataupun lulus tes dalam dunia kerja semata.  Namun kata-kata lulus yang diterima penulis adalah  lulus setelah menghantarkan orang tua penulis H. Syamsuri bin H. Sakyadi kembali menghadap Allah SWT.

Sebuah kebahagiaan bagi kami ketika mampu menghantarkan proses memandikan, bisa melibatkan cucu cucunya secara langsung ikut memangku jenazah, dan penulis yang memandikannya. Kemudian  menyolati secara berjamaah, mengadzani dan menguburkannya. 

Sesaat jenazah telah selesai diadzankan kemudian penulis naik dari liang kubur dan membiarkan orang tua penulis terus ditimbuni tanah oleh para penggali kubur. Tatapan  penulis saat itu, hanya tertuju pada liang lahat tempat peristirahatan orang tua penulis, setelah tidak bisa istirahat di rumah sendiri yang ditinggali berpuluh-puluh tahun.
 
Suasana duka terus menyelimuti penulis, sambil terus menatap orang tua penulis yang tubuhnya sudah tak terlihat lagi, tertutup oleh tanah. 

Disaat berdiri disamping kuburan orang tua penulis. Tak lupa sesekali menengok ke kanan dan ke kiri, melihat saudara, adik-adik almarhum, cucu dan keponakan. Terlihat sesekali mengusap air mata yang terkadang masih ke luar, melihat orang yang dicintai sudah harus berpisah.

Ketika penulis harus mundur beberapa langkah ke belakang, untuk memberikan keleluasaan para penggali kubur, meratakan tanah di samping dan meninggikan makam abah penulis dengan pasir 2 (dua) gerobag, yang  menjadi kesepakatan warga dalam setiap ada mayit yang mau dikubur,  harus ditambah 2 (dua) gerobak pasir yang dibeli dari keluarga almarhum. Ternyata ada kyai, guru yang sekaligus teman yang menjadi curhatan penulis, ketika ada masalah dan menanyakan hukum.

Tanpa penulis sadari, beliau menyalami penulis, walaupun saat itu sedikit malu untuk menerima salamannya karena tangan penulis kotor penuh lupur. Beliaupun berkata perlahan-lahan sambil menepuk pungguh penulis "Lulus." 

"Njenengan sudah lulus,"  mendengar kalimat ini penulis hampir saja tidak kuat menerimanya. Badan menjadi lemas, gemetar dan rasanya ingin menangis sekeras-kerasnya, namun saat itu penulis harus kuat berdiri tegak di hadapan makam orang tua. Walaupun penulis tidak bisa menahan air mata yang terjun bebas membasahi pipi. 

Kalimat lulus, bagi penulis bagaikan cambuk, menggetarkan rasa haru dan bangga bagi penulis. Predikat lulus keluar dari sang guru, kepada penulis setelah selesai proses pemakaman. Tugas anak berbakti, mengabdi dan mengatarkan orang tua menuju  peristirahatan terakhir.

Doa yang terus dipinta pada Allah SWT, telah terkabulkan. Penulis bahagia, dapat mendampingi orang tua saat sakit, berobat ke dokter, mentalkin menyebut nama Allah SWT saat akan kembali kepada-Nya, memandikan, mensholati dan menguburnya. Selamat jalan Abah, engkau adalah guru kehidupan penulis. InsyaAllah husnul hotimah.

Teruntuk Abah H. Syamsuri bin H. Sakyadi Alfatihah.

BERWASIAT TAQWA DAN BERDZIKIR


SALING BERWASIAT KETAQWAAN, BERSZIKIR DAN BERPIKIR DALAM BERTHORIQOH 

Oleh : Lukman Nur Hakim


Mushola Sabilul Huda Klampok, Minggu pahing 7 Nopember 2021, Putaran ke 240 jam'iyah Ahlithoriqoh Al-mu'tabaroh  Assadziliyah Kabupaten Brebes. Adapun kitab yang di kaji adalah Kifayat al-Atqiya' Wa Minhaj al-Ashfiya. karya Sayid Bakari al-Makki bin Sayid Muhammad Syatho ad-Dimyathi, yang dibaca oleh K.H. Subhan Ma'mun pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes. 

Dalam Kifayatul Al-atqiyah  mengajarkan para pembaca untuk mengasah ketajaman rohoni melalui tasawuf suni bukan tasawuf yang melanggar ketentuan Alquran dan sunah. "Tarekat para syekh yang dilandasi oleh  sumber utama Islam  yakni Alquran dan sunah," 

( Gambar, jamaah Thoriqoh Assadziliyah putaran 240 di Mushola Sabilul Huda Klampok) 

Dalam Kifayatul Al-atqiyah menegaskan bagi para pembaca yang ingin menuju perjalan akhirat maka bekal taqwa adalah pijakan yang pertama dan mendasar sebagai mana syair beliau yang berbunyi :
"Taqwa al ilahi madaru kulli saadatin tiba'u ahwa ra'su syarrin habaila." (Takwa kepada Allah pusat segala kebahagiaan dan mengikuti hawa nafsu pangkal keburukan).

Takwa merupakan dasar terpenting yang mengumpulkan semua kebaikan baik dunia ataupun akhirat. Tak pelak, sejumlah kalangan pun lantas mencoba memberikan definisi yang komprehensif tentang pengertian takwa.

Landasan  taqwa  diartikan  sebagai bentuk ketaatan atas perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya secara lahir dan batin.  Dengan penekanan sikap  rasa pengagungan, tunduk, dan takut terhadap Allah. Taqwa juga perilaku  untuk menghindari apa pun selain ridha Allah. 

An-Nashr Abadzi, Sayid Bakari  mengatakan  siapa pun yang membumikan sikap takwa maka kecenderungan yang ada di hadapannya tak lain hanyalah keinginan menjauhi dunia yang fana. Hal ini disebabkan oleh keyakinan yang amat mendalam akan janji Allah.

Ketaqwaan menjadi kesungguhan  kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa.  Sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-An'am ayat 32 "Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa."

Lebih dalam  Sayid Bakari mengemukakan, takwa menuntut seseorang untuk menjauhi hawa nafsu yang kerap dipenuhi oleh tipu daya setan. Akibatnya, kepatuhan terhadap nafsu berakibat pada kebinasaan. Bahkan, Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Sya'b al-Iman, pernah mengingatkan umatnya agar tidak teperdaya oleh nafsu setan.

Inilah yang perlu ditekankan kepada para pembaca, khususnya mereka yang mengkaji bersama para guru thorikoh  untuk menjadikan Taqwa sebagai titian awal untuk menuju perjalan Akhirat.  Wallahu'alam bishowab.

NASEHAT DAN BERDZIKIR DALAM THORIKOH

Minggu 7 November 2021. K.H. Subhan Ma'mun, membuka pengajian  Thoriqah Sadziliyah, ahad pahing kitab Kifayatul al-atqiyah halaman 113.

Beberapa nasahatnya yang beliau sampaikan pada  pengajian ahad pahingan adalah sebagai berikut : 

Jangan merasa bangga dengan melihat keatas akan keturunan diri dari  orang yang hebat, kuat dan bermarga tinggi. Lihatlah diri sendiri sebagai manusia yang  pada hakekatnya  berasal dari tanah dan air. Berbanggalah atas kecapain ilmu yang didapat. Berbangga menjadi ahli ilmu. Karena dengan ilmu yang dimiliki akan dapat memberikan pencerahan pada diri sendiri dan orang lain.

Rasulullah mengingatkan dalam sabdanya: “Barangsiapa belajar satu bab ilmu dan mengamalkannya atau tidak mengamalkannya, niscaya itu lebih baik daripada shalat sunnah 1000 rakaat.” Pada hadits lain Rasulullah juga menyampaikan : “Seorang ulama itu lebih ditakuti oleh setan daripada 1.000 orang ahli ibadah dan 1.000 orang yang wara’."

K.H. Subhan Ma'mun juga mengingatkan kepada para pencari dan pemilik ilmu. Bahwa ilmu yang didapat bagaikan garam yang siap memberi rasa sesuai ukurannya. Ilmu sebagai kontrol perilaku dan bukan. sopan-santun).  Adab ibarat tepung yang membungkus perilaku baik, cerminan dari para pemilik ilmu.

SEMOGA SAKINAH

SEMOGA SAKINAH, MAWADDAH WARAHMAH

Oleh : Lukman Nur Hakim


Luwungragi Brebes,  Minggu 17 Oktober 2021, Walimatul Ursy. Gus Minan dan Ning Zahra. Yang disampaikan oleh Prof. Dr. K.H. Said Agil Siradj M.A.  yang dikenal dengan sebutan Kyai Said atau Kang Said, Ketua Umum  Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. 

Setelah salam,  membaca hamdalah dan sholawat, Kyai Said baru berbicara tentang nikah. Menurut Kyai Said  nikah itu adalah ibadah yang universal karena tuntunan nikah tidak hanya ada pada Agama Islam. Namun setiap agama membicarakan hukum, akad dan tata cara pernikahan. Baik Kristen, Yahudi dan di Animisme pun ada. 

Nikah juga dapat diartikan ibadah yang verenial, artinya  pernikahan tidak hanya terhenti di dunia  tetapi sampai ke alam surga. Istri-istri yang ada di dunia kelak juga akan mendampingi suaminya (bersama) di surga.

Nikah menjadi ibadah yang terus-menerus dan bertahun-tahun, dapat disebut  ibadah yang paling lama.  Nikah adalah bentuk ibadah yang penuh kebahagiaan dan indah. Satu sisi lagi,  dalam pernikahan ada proses ideal  penciptaan manusia, ada  nikmat yang luar bisa antara mereka yang melakukan pernikahan.

Nikah menjadi proses manusia beragama yang dapat diniati ibadah kepada Allah Swt. menjalankan sunnah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. Dan selanjutnya terdapat ibadah-ibdah yang lain dalam pernikahan,  termasuk  ibadah mengikut sunnah Rasulullah dalam membina keluarga, dan dalam rangka mendekatakan diri kepada Allah Swt. Dalam pernikahan ada kebahagian lain pula, seperti adanya perilaku saling mendukung dan memotivasi  untuk kebaikan. 

Nikah pada sisi lain, merupakan pertemuan jasmani dan rohani. Ada proses penyatuan jiwa dan  pertemuan budaya akhlak antara kedua mempelai. Sehingga dibutuhkan bagi mempelai laki-laki menunjukan bahwa "saya suami yang bertanggung jawab". Begitu juga bagi 
istri, tunjukkan pula "saya istri yang setia pada suami."

Dalam pernikahan di dalamnya tersurat membangun rumah tangga. 
Silahkan bangun umah yang besar, indah dan bagus. Tetapi harus ingat,  niatlah membangun tidak hanya untuk diri dan keluarga saja. Tetapi diniatkan juga untuk menghormati tamu, agar senantiasa rumah yang dibangun penuh dengan isian ibadah. 

Puncak nikah adalah pendidikan akidah atas kekuasaan Allah. Kedudukan manusia yang membutuhkan pasangan hidup dalam beragama harus melakukan pernikahan.  Sedangkan Allah Swt. sebagai Rabb  Dzat Yang Maha Kuasa atas semua alam,  tidak membutuhkan pasangan. Artinya semua makhluk hidup yang diciptakan Allah berpasang--pasangan sedangkan Dzat Penciptanya adalah Maha Tunggal (Esa).


Perjalanan Nikah

Ada proses perjalanan memilih pasangan hidup (nikah) hanya satu dan lebih dari satu. 

Pada saat masa kenabian, Nabi Harun dan Nabi Musa ada kebebasan menikah dengan wanita tanpa batas.  Karena saat itu sedang mengalami  krisis kaum laki-laki. Hal itu terjadi karena adanya kebijakan Raja Fir'aun yang membunuh semua bayi laki-laki, Sehingga bayi laki-laki yang dilahirkan semasa atau seusia Nabi Musa sangat minim jumlahnya, bahkan hampir tidak ada. Karena kebijakan Firaun yang sangat luar biasa, untuk membunuh bayi laki-laki yang lahir saat itu.

Kebijakan Fir'aun inilah membuat perkembangan saat usia dewasa laki-laki  yang seharusnya sudah siap nikah hampir tidak ada. Sehingga para kaum laki-laki saat itu diperbolehkan menikah lebih dari 4 (empat) wanita/ istri.

Adapun ajaran yang dibawa oleh Nabi Isa As. Yang sangat menghormati Ibunya, termasuk para kaum ibu-ibu yang lain. Maka bagi kaum laki-laki hanya boleh menikah dengan 1 wanita (istri) saja.

Sedangkan ajaran pada Nabi Muhammad Saw. ada pembatasan nikah. Seorang laki-laki maksimal memiliki 4 (empat) istri. Adapun kalau tidak mampu untuk berbuat adil kepada para istri, maka lebih baik hanya memiliki atau cukup satu istri saja. 

Islam menghormati perempuan terbukti  ada surat Annisa dan Maryam.  Dalam teks Al-Qur'an maupun Hadits antara laki -laki dan perempuan selalu disejajarkan, dengan kalimat muslimin dan muslimat.

Perempuan dalam Islam dimuliakan setinggi-tingginya, perempuan bagaikan bunga yang mekar dan perlu di sentuh agar dalam berbunga lama dan membawa warna harum.
TRIK ABU NAWAS MENAKLUKAN PARA LELAKI YANG SUKA MENGGODA ISTRINYA

Oleh : Lukman NurHakim


Abu Nawas merupakan manusia yang selalu beruntung diberbagai hal dan sangat cerdas dalam setiap menyelesaikan masalah hidup orang banyak maupun masalah dirinya sendiri.

Disamping kecerdasanya yang dimiliki sudah teruji. Satu lagi keistimewaan  Abu Nawas, yaitu memiliki istri yang sangat cantik yang menjadi kembang desa,  membuat iri setiap para lelaki di kampungnya. Dengan kecantikan istri Abu Nawas, membuat siapapun yang melihat istri Abu Nawas, tak kuasa untuk tidak menggodanya. 

Para penggoda di pagi hari,  selalu ada dan berjejer di sepanjang jalan menuju pasar untuk menggoda istri Abu Nawas ketika berangkat dan pulang dari pasar. Sehingga Istri Abu Nawas marah namun tak bisa dilampiasan pada orang yang menggodanya.

Dalam kondisi kesal dan marah, istri Abu Nawas masih tetap mampu menyimpan dengan baik  ketika di goda para lelaki yang nongkrong di jalan menuju pasar.

Istri Abu Nawas hanya menampakkan muka murungnya pada suaminya ketika habis pulang dari pasar.

Tatapi istri Abu Nawaspun ingin membuktikan bagaimana kehebatan dan kecerdikan suaminya. Akhirnya disampaikanya masalah yang dihadapi ketika menuju dan pulang dari pasar kepada suaminya.

Wahai suami ku, Aku mau mengadu pada anda, agar setiap berangkat dan pulang dari pasar tidak ada yang mengodanya. Aku tahu, bahwa engkau orang cerdik.  Coba buktikan pada istrimu ini, tentang kecerdasan yang engkau miliki.

Abu Nawaspun berkata pada istri, "InsyaAllah persoalannya akan selesai besok, wahai istriku."

Sang istripun sangat yakin apa yang di sampaikan Abu Nawas akan terwujud, tapi Ia pun tidak tahu cara penyelesain yang dilakukan oleh suaminya.

Wahai Istriku (kata Abu Nawas),  Saya akan pergi ke pasar membeli sesuatu, untuk menjamu para lelaki yang suka menggodamu.

Istri Abu Nawas samakin binggung terhadap tingkah suaminya. Orang yang suka menggodanya, kok mau dikasih makanan dan suruh kumpul di rumah.

Abu Nawas pun pergi ke pasar untuk membeli ketela pohon (bodin kata orang Brebes), dan dalam perjalanan kepasar, ia sempatkan pula menemui para laki-laki yang yang suka menggoda istrinya. Agar mau menghadiri undangan darinya.

Para lelaki yang suka menggoda istri Abu Nawas, merasa senang  di panggil Abu Nawas suruh makan dirumahnya. Ia berpikir akan bertemu dengan istri Abu Nawas dan akan merasakan  makanan hasil  masakan istri Abu Nawas.

Oleh Abu Nawas, bodin yang ia beli di pasar dimasak sama,  hanya dikasih warna yang berbeda-beda pula. 

Setelah para tamu sudah datang, disuguhkanlah bermacam-macam bodin yang berwarna warni, untuk dinikmati.

Para tamupun menikmati hidangan yang disuguhkan oleh Abu Nawas.  Memakan bodin yang berwarna warni.

Pada saat para tamu memakan bodin yang warna putih, ada yang  kuning merah dan sebagainya. Mereka binggung. "Kok Rasanya sama" imbuh para tamu.

Akhirnya salah satu tamu, tak kuasa untuk menahan bicara.

"Wahai Abu Nawas, anda memasak bodin berwarna warni tapi kok rasanya sama, apa maksudnya ini."

Abu Nawaspun menjawab, " Syukurlah kalau anda mengerti, rasa bodin itu sama."

"Maksudnya apa wahai Abu Nawas" tanya para tamu yang semakin heran atas jawaban Abu Nawas.

Abu Nawas kembali menjelaskan kepada para tamu yang memenuhi undangannya. 

 “ Wahai saudara-saudaraku, aku mengundang anda hanya agar kalian menikmati hidangan bodin, dan perlu dicatat, bahwa bodin yang kalian makan adalah laksana istri-istri kita, mereka rasanya sama walapun warnanya berbeda-beda" 

Para tamupun sebagian mulai sadar akan maksud Abu Nawas memanggil mereka kerumahnya. 

Abu Nawaspun kembali menjelaskan " Istri kita memang ada yang tinggi, cantik dan sebagainya, tapi rasanya sama." 

Para tamupun saling melihat wajah satu sama lainnya. Ia merasa ditipu oleh Abu Nawas. Dan semuanya malu atas perbuatanya selama ini pada istri Abu Nawas. Tanpa ada yang mengomandoi akhirnya para tamu dengan sendirinya pergi dari rumah Abu Nawas. Dalam hati mereka " Ia telah tertipu dan malu pada Abu Nawas. Wallahu'alam Bishowab.

Kenangan pembawa acara (Gus Nadhif)  pada pernikahan gus minan dan neng zahra

BERBAGI HIKMAH PASCA MUKTAMAR LAMPUNG



BERBAGI HIKMAH PASCA MUKTAMAR NU DI LAMPUNG

Oleh : Lukman Nur Hakim

Sabtu, 25 Desember 2021, Penulis bersilaturahmi dengan K.H. Subhan Ma'mun pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes.  Setelah melihat di postingan group Assalafiyah 3, K.H. Subhan Ma'mun ada di sekertariatan  pembangunan Pondok Pesantren Assalafiyah III yang nantinya akan digunakan untuk santri anak jalananan.

Penulis berangkat dari rumah Randusanga, ke tempat pembangunan Assalafiyah 3, dengan niat bersilaturahmi dan mau mendengarkan nasehat dari K.H. Subhan Ma'mun, pasca Muktamar NU ke-34 Di Lampung, yang berlangsung dari tanggal 22 - 23 Desember 2021.
Sekaligus penulis melaksanakan tugas piket panitia pembangunan pondok yang dijadwalkan pada penulis disetiap hari Sabtu.

Sesampai di sekretariatan Assalafiyah 3,  K.H. Subhan Ma'mun sedang ngobrol bersama dengan para panitia pembangunan lainnya, sehingga penulis langsung ikut nimbrung mendengarkan nasehat-nesehat dari beliau, setelah penulis bersalaman terlebih dahulu. 

Menurut K.H. Subhan Ma'mun, Muktamar NU yang ke-34, Alhamdulillah berjalan dengan lancar dan tidak mengalami halangan apapun yang mengganggu proses perjalanan muktamar. Kegiatan muktamar dapat dikatakan juga sebagai ajang  berkumpulnya para ilmuan dan orang-orang alim, dalam satu tempat. Sehingga muktamar ini  menjadi forum silaturahmi para ulama.

Pemilihan  ketua  yang biasa ramai dalam setiap ajang pergantian ketua, ternyata dalam Muktamar NU  berjalan dengan lancar, damai dan sejuk. Terpilihnya
KH. Yahya Cholil Staquf, yang berkompetisi dengan K.H. Said Aqil Siraj sebagai petahana, tidak ada gejolak dan langsung diterima hasil pemilihan yang dilaksanakan secara langsung tersebut.

K.H. Subhan Ma'mun mengatakan, penyelenggaraan Muktamar NU ini juga, sebagai salah satu media untuk niat berkhidmah pada para Kyai. Kehidupan santri yang kental dengan berhidmah (melayani) para kyai, tidak berhenti ataupun lepas saat menjadi santri saja. Namun ketika sudah kembali ke rumah masing-masing, maka hidmah pada para kyai masih tetap dilestarikan.

Hidmah pada para kyai, menjadi identitas diri santri yang kuat, untuk mendapatkan keberkahan dari para Kyai. Berbeda dengan berhidmah karena memiliki oreintasi yang lain, maka dapat dikatakan, ini bukan budaya santri, dan kalaupun ada maka hanya akan mendapat keuntungan popularitas sesaat. 

Berangkat dari berhidmah pada Kyai juga menjadi salah satu jalan, dari para orang sukses, dalam meniti karier yang diraihnya. Baik dalam akademik, ekonomi, instansi tertentu maupun keluarga.

Tak bisa disangkal pula, mereka para panitia dalam Muktamar, yang penuh semangat tak bisa lepas dari niat berhidmah pada para kyai pula.

Diselah-selah istirahat kegiatan muktamar para kyai, kadang masih menyempatkan diri untuk bercengkrama berdiskusi tentang hukum, silsilah sanad keilmuan dan perkembangan  pondok pesantren yang dulu pernah menimbah ilmu di pondok tersebut saat menjadi santri.

Perkawinan sekupu (setara) yang sudah tidak asing dalam kalangan para kyai NU, membuat para keluarga Gus-Gus menjadikan perjumpaan mereka dalam muktamar sebagai  wahana untuk menyambung maupun mengurai keturunan atau silsilah dari hasil perkawinan, yang kadang tidak percaya, bahwa keduanya (pasangan perkawinan) adalah saudara  yang ketemu di kakek nenek mereka. Atau sebenarnya para orang tua mereka pernah berguru pada kyai  yang sama saat dulu menjadi santri, yang hanya dipisahkan  pada tahun berbeda saja.

Kebahagian lain saat ikut muktamar, bisa bertemu dengan para kyai ataupun putra-putra kyai, dikala dulu menjadi santri. Kalau saja ada keniatan untuk bersilaturahmi dirumah mereka belum tentu bertemu dan memakan waktu yang lama dalam perjalanannya. Muktamar sebagai tempat menemukan para putra kyai atau Gus-gus. 

Sepulang  dari muktamar, menurut K.H. Subhan Ma'mun, masih ada pekerjaan selanjutnya.  Menunggu rumusan kepengurusan PBNU  yang baru di kepemimpinan Rois Aam  K.H. Miftachul Akhyar dan ketua umum K.H  Yahya Cholil Staquf, di masa khidmah tahun 2021-2026. 

Semoga penyusunan kepengurusan yang baru berjalan lancar.