Senin, 02 Oktober 2023

Ijab Qobul Izul dan Aida

Ijab qobul Muhammad Izul Ikhsan dengan Aida Fandilah


Astana langgar, Sabtu (30/9/2023

Ijab qobul Muhammad Izul Ikhsan dengan Aida Fandilah di Masjid Baiturrahman. 


Acara ijab di awali dengan pembukaan, bertawasul kepada Nabi Muhammad Saw, Sahabat, Tabiin Tabiit,  para ulama dan orang-orang muslim dan mukmin yang telah terlebih dahulu menghadap Allah Swt. dengan membaca Surat Al-Fatiha, di pimpin oleh KH. Khaeruddin.


Rangkaian ijab qobul juga terdapat acara sambutan dari keluarga mempelai laki-laki dalam hal ini diwakilkan oleh Bapak Ali Yahya. Dalam sambutannya, beliau mengatakan terimakasih kepada semua keluarga yang hadir di acara ijab pada hari ini.


Kami mewakili dari keluarga mempelai putra membawa dan menyerahkan  "Srah-srahan,"  (seperangkat perlengkapan sarana untuk melancarkan pelaksanaan acara sampai hajat berakhir), yang berisi  makanan, buah-buahan ala kadarnya, dan lain-lain mohon diterima, sebagai hadiah dan shodaqah dari kami.


Selanjutnya kami mengharap doa dari yang hadir pada hari ini, semoga rangkaian acara ijab berjalan dengan lancar dan kedua mempelai dapat menjalani kehidupannya yang sakinah mawadah warahmah.


Jawaban srah-srahan dari pihak pengantin putri diwakili oleh Bapak Suwatno, dalam prakatanya disampaikan  ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya dan saya terima srah-srahan ini dengan ucapan terima kasih, semoga kedua mempelai ini menjadi keluarga yang bahagia dunia dan akhirat dan di beri karunia anak yang shalih-shalihah.


Sebelum pada acara ijab kobul dilaksanakan, terlebih dahulu diawali dengan pengecekan berkas data pernikahan yang terdiri dari nama lengkap pengantin, tanggal lahir, wali nikah dan saksi-saki yang di lakukan oleh Bapak Mustofa  dari KUA Kecamatan Losari. Sekaligus penandatangan para saksi, wali dan calon pengatin pria atas berkas-berkas persyaratan nikah.


Sebelum acara khotbah nikah terlebih dahulu serah terima orang tua dari mempelai putri kepada petugas KUA untuk menikahkan anaknya.


Proses ijab kobul di awali dengan

Pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran yang dilantunkan oleh KH. Muhammad  Bilal.


Dilanjutkan dengan khutbah nikah  yang dibacakan oleh  K.H. Ridwan

pengasuh Pondok Pesantren An-Nasukha Kali Mukti Pabedilan Cirebon.


Khutbah nikah yang penulis dengar, perhatikan dan dapat difahami secara garis besarnya adalah nasehat, khususnya buat calon pengantin dan para pengantin lama untuk mengingat kembali akan perjanjian dan tanggung jawab, saat  ijab qobul dahulu.


Begitu sangat luar biasa nasehat yang K.H. Ridwan sampaikan saat khutbah, tak terasa air mata melakukan terjun bebas melawati pipi penulis.


Penulis kembali menyadari dan bangun dari ingatan  yang begitu sangat berat menerima tanggung jawab sebagai suami, menjaga  sang istri bagaimana  harus selalu taat, patuh dipimpin oleh suami dan mampu membiasakan agar ketika istri pergi telah mengantongi ijin suami.


Jangan sampai menjadi istri yang tidak patuh kepada suami, karena perjalan Isro Mi'roj Rasulullah Saw telah di perlihatkan tentang kondisi penguni neraka yang dipenuhi dan  paling banyak di isi oleh kaum perempuan.


Kepatuhan pada suami sebagai nilai ibadah dan karena menjalankan nikah itu sendiri juga merupakan ibadah kepada Allah Swt.


Pernikahan menjadi salah satu jalan untuk mendapatkan ridha Allah Swt dan keselamatan di dunia dan akhirat.


Penulis dibuat kedua matanya terbelalak, kaget laksana mendengar jerita hati, membuat kedua matanya terasa sakit dan mengeluarkan airnya. Membuka kembali kenangan menikah  dalam rangka menjalankan perintah agama, sebagaimana Rasulullah bersabda: “Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertaqwalah pada Allah Swt pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman).


Manusia secara sadar dikendalikan oleh dua keinginan sahwat biologis (perut dan kemaluan). Kerakusan manusia diakibatkan karena untuk memenuhi kebutuhan perutnya. Sedangkan shahwat kemaluan kalau tak mampu membendungnya dapat mendorong manusia berbuat zina, 

dengan menikah inilah berarti memenuhi kebutuhan biologisnya dengan cara yang sah dan berarti telah menyempurnakan agamanya.


Siapa yang melakukan pernikahan berarti ia telah melindungi setengah agamanya. Selanjutnya  bertaqwa kepada Allah Swt dengan sungguh-sungguh dalam rangka untuk setengah agama yang kedua. Nikah menjadi isarat sebagai perisai perlindungan diri dari penyimpangan dan kerusakan. Karane dapat disimpulan dalam kehidupan dunia

yang menjadi perusak agama seseorang adalah kemaluan dan perut dengan menikah maka salah satunya telah terpenuhi.


Penulispun di ingatkan kembali, saat mendengarkan khutbah nikah bahwa ijab qobul  ini menjadi sahnya pelimpahan pertanggung jawaban, apa yang dilakukan oleh istri menjadi tanggungjawab suami dunia sampai akhirat, yang sebelumnya menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya.


Pernikahan dalam al-Quran Surat An-Nisa: 21).  disebut sebagai mitsaqan ghalidza atau "perjanjian agung"


وَكَيْفَ تَأْخُذُوْنَهٗ وَقَدْ اَفْضٰى بَعْضُكُمْ اِلٰى بَعْضٍ وَّاَخَذْنَ مِنْكُمْ مِّيْثَاقًا غَلِيْظًا


Dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lain (sebagai suami-istri). Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu.


Mitsaqan ghalidha, memiliki arti bahwa pernikahan bukan sebuah perjanjian yang bisa dimain-mainkan.  Mistaqan Gholidha dapat disebut juga sebagai kata-kata yang dikeluarkan oleh pihak laki-laki saat ijab qobul atau

pengakuan (yang erat) atau berat, yakni berupa perintah Allah Swt agar memegang mereka secara baik-baik atau melepas merekapun secara baik-baik pula.


Perjanjian bagaimana menjaga istri agar saat berhias untuk sang suami bukan untuk diperlihatkan kepada halayak umum, ini juga menjadi janji yang harus di pegang kuat walaupun sangat berat dalam  menjalankannya.


Nikah menjadi perjanjian yang mudah diucapkan dan sangat berat untuk merawat dan memegangnya. Nikah sebagai perjanjian dan ikatan yang akan memiliki usia lama dijalaninya, perlu pengobanan dan kesabaran dalam merawatnya pula.


Khutbah nikah bagi penulis yang ikut menyaksikan ijab qobul mas Izul laksana badan yang tersiram air dingin untuk menyegarkan kembali ingatan perjanjian suci penulis dengan istri.


Setelah khutbah nikah selesai dilanjutkan dengan proses ijab kobul, namun sebelum pelaksanaan ada proses latihan terlebih dahulu.


"Mau menggunakan bahasa apa" tanya pak pengulu menawarkan kepada calon pengantin laki-laki dalam proses ijab qobul. 


"Bahasa arab" jawab mas Izul dengan tegas. Sehingga cukup jelas bahwa proses pernikahan Mas Izul 

menggunakan bahasa arab.


Latihan ijab qobulpun dimulai... dan ternyata hanya cukup latihan sekali saja langsung lancar. Sehingga proses nikah bisa langsung dilaksanakan.


Para saksipun di minta oleh bapak pengulu untuk memperhatikan dan mendengarkan proses berjalanya ijab qobul.


Saat pak pengulu memberikan isarat untuk menjawab,  maka mas Izul langsung berkata Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur...


Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jama'a bainakumaa fii khoir.  Doa keberkahan buat kedua mempelai setelah proses ijab kobul selesai dilaksanakan yang dipimpin oleh petugas dari KUA Kecamatan Losari.


Pengantin putri selanjutnya dihadirkan dan disandingkan dengan pengantin laki-laki, untuk menantangani buku nikah dan menerima mahar dari penganten putra.


Acara dilanjutkan dengan proses resepsi dirumah pengantin putri. Kedua mempelai berjalan dari masjid menuju rumah pengantin putri, untuk mendapatkan ucapan selamat dan bekal dalam mengarungi dunia barunya.

Wassalam 


Lukman Randusanga (3/9/23)

Rabu, 13 April 2022

HAWA DAN HAWA NAFSU

HAWA DAN HAWA NAFSU

Assalafiyah Luwungragi, Rabu 11 Ramadhan 1443 H (13/4/22).  Ngaji puasanan bersama K.H. Subhan Ma'mun dengan kitab Atqiyatul al-Atqiya 

Sebagai catatan pengantar tulisan ngaji kali ini, penulis mencoba kembali membuat rangkaian kata untuk memahami judul di atas, sebagai acuan penulisan.

Secara garis besar manusia diciptakan memiliki keinginan ataupun potensi  baik (taqwa) dan keinginan buruk (nafsu). Dari keduanya pun ada  keseimbangan (at-tawazun) dan nilai-nilai  kemanusiaan (al-basyariah). Hawa nafsu dapat juga menjadi fitrah manusia  sejak lahir, yang di dalamnya ada nilai manfaat dan madorotnya.

Dalam Bahasa Indonesia, hawa nafsu bermakna keinginan atau dorongan hati yang kuat untuk melakukan perkara yang tidak baik, seperti syahwat dan sejenisnya.

Hawa sendiri memiliki arti sesuatu yang dicintai, atau sesuatu yang membuat senang. Sedangkan hawa nafsu bisa bermakna kecintaan terhadap  nafsu. Merasa senang dengan melampiaskan  atau mengumbar nafsu.

Sifat hawa sendiri merupakan kecenderungan hati terhadap apa yang dilakukan tidak baik dan ada modus perlawanan dan menghindar terhadap ketentuan syariat. Oleh karena itu, fungsi ngaji  yang kita lakukan untuk menyadarkan hati dari hawa nafsu.

Pada sisi lain, hawa dapat diartikan sebagai keinginan dan nafsu adalah jiwa. Sedangkan pada setiap jiwa manusia cenderung untuk berbuat dosa dan maksiat. Manusia pun selalu dihadapkan pada dua pilihan, yaitu baik dan buruk.  Secara umum, kecenderungan manusia memilih menurutii hawa nafsu atau sesuatu yang buruk.

Sebagai contoh,  ketika ada pilihan mengaji atau istirahat, maka pilihan istirahat lebih menarik.  Begitu juga ketika ada pilihan, shalat tahajud atau istirahat, jiwa manusia cenderung memilih istirahat. 

Hawa dan hawa nafsu pada seseorang kalau dikembangkan, akan menghambat potensi untuk menciptakan berbuat baik,  keadilan, ketenteraman, keamanan, kesejahteraan, persatuan dan hal-hal baik lainnya. Sedangkan kalau hawa nafsu ditekan agar tidak muncul bebas ke permukaan dan dapat dikendalikan dengan baik, maka akan mewujudkan keseimbangan hidup  dan  kebahagian. Selanjutnya manusia akan berjalan pada jalur hukum dan syariat yang benar.

Dalam perspektif psikologi, hawa nafsu dapat dikatakan sebagai kekuatan psikologis yang dapat menyebabkan suatu hasrat atau keinginan intens terhadap suatu objek atau situasi demi pemenuhan emosi tersebut. Dapat berupa hawa nafsu untuk pengetahuan, kekuasaan, dan lainnya; namun pada umumnya dihubungkan dengan hawa nafsu seksual.

Hawa nafsu tanpa kontrol ketaqwaan akan memberikan dampak yang sangat berbahaya.  Sebagai contoh kehancuran di muka bumi ini terjadi karena hawa nafsu manusia yang tak terkontrol.

Mengikuti hawa nafsu akan membawa manusia kepada kerusakan. Akibat pemuasan nafsu jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan manfaat yang didapat darinya. Hawa nafsu yang tidak dapat dikendalikan juga dapat merusak potensi diri seseorang.

Bahaya bagi yang mengikuti hawa nafsu adalah akan membuatnya menyimpang dari kebenaran, sebagaimana panjang angan-angan akan membuatnya lebih mencintai dunia. Namun jika nafsu  dikendalikan dan dikelola dengan baik, akan melahirkan manusia yang berakhlak mulia. Seperti sifat marah pada suami, jika dibiarkan, bisa mengakibatkan talak (perceraian rumah tangga), pertengkaran, bahkan pembunuhan. Namun, jika sifat marah dikendalikan, akan menjadi ketegasan dalam kepemimpinan dimana pun ia berperan. Baik dalam rumah tangga, di tengah pergaulan ataupun masyarakat  luas.

Setan memasang perangkat pada manusia dengan berbagai ranjau nafsu. Dalam proses menghindari ranjaupun harus dilakukan sedikit demi sedikit, tidak bisa langsung, ada proses,  step by step dan perlu kesabaran.

Mari bagun jiwa kita dengan taqwa, karena
taqwa menjadi pokok segala kebahagiaan.
bangunan apapun tidak akan kokoh tanpa didasari taqwa. Kemuliaan tidak diperoleh dengan banyak harta dan kekayaan yang dimiliki.  Hanya ketaqwaan yang akan menjadikan pribadi yang mulia.

Taqwa ini pulalah sebagai usaha untuk mengekang hawa nafsu. Taqwa yang ada pada seseorang,  bagaikan orang yang sedang dalam usaha, dan berkumpul bersama orang-orang sukses.  Sehingga sangat wajar, jika ia akan diberi kesuksesan pula. Baik dalam rezeki mapun yang lainnya.

Sungguh sangat celaka, apabila menjadi manusia yang hidupnya senantiasa berbuat dosa, dan makin bertambah dosa. Belum sempat memohon ampunan sudah melakukan perbuatan dosa lagi.
Belajarlah pada cerita Nabi Adam yang dikeluarkan dari surga karena melakukan satu kesalahan, terperangkap pada modus 
hoaksnya setan. Wallahu'alam bishowab.
(Lukmanrandusanga).

Sabtu, 09 April 2022

BELUM MAMPU MEMBERI MANFAAT ORANG LAIN, MINIMAL BERMANFAAT UNTUK DIRI SENDIRI



BELUM MAMPU MEMBERI MANFAAT ORANG LAIN, MINIMAL BERMANFAAT UNTUK DIRI SENDIRI

Sabtu,  (9/4) ngaji puasanan Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi, yang disampaikan K.H. Subhan Ma'mun di sore hari yang tak pernah sepi walaupun selalu terguyur hujan.

Dihari yang ke-7 bulan Ramadhan 1443 H. Alhamdulillah penulis masih bisa mengikuti ngaji bersama beliau, walaupun kadang harus melawan rasa sakit di leher yang selalu tegang dan panas. Maklumlah lehernya suka tegang sendiri, tak kala sedang dan sesudah menulis. Akhirnya penulis harus minum obat, untuk mengurangi ketegangan dan rasa sakit di lehernya.

Dengan modal semangat sehat, Penulis mencoba kembali membuat catatan ngaji, yang difahami disetiap penjelasan yang disampaikan K.H. Subhan Ma'mun selaku guru dan motivator penulis dalam beribadah.

Penulispun sangat yakin, bahwa dalam setiap catatan ngaji sangat jauh dari  kesempurnaan. Namun penulis berharap mudah-mudah tulisan ini bermanfaat untuk pembaca, kalau tidak? insyaAllah bermanfaat untuk diri penulis sendiri. Minimal ada sedikit usaha untuk faham dari setiap ngaji, yang disampaikan beliau. Walapun hanya persentasinya sedikit.


Dicatatan kali ini, penulis mencoba menulis poin-poin yang disampaikan beliau, namun hanya sebatas mengandalkan kemampuan pendengaran dan pemahaman penulis semata dan sedikit penambahan kalimat agar enak dan renyah dibaca. Maaf itu hanya pembelaan penulisan saja.


Adapun poin-poin yang dapat penulis, sajikan dann tuangkan dalam monitor mungil ini adalah sebagai berikut.

Bau harum tidak hanya berasal dari minyak wangi, bau harum dapat dari bungah, buah dan pohon. Namun bau harum yang satu ini, datang dari manusia pilihan Allah SWT.  Nabi yang  tidak hanya menyelamatkan manusia untuk memiliki akhlak yang mulia, namun dari apa yang menempel di badanya adalah keharuman. Mulai dari keringatnya, bersalaman membuat harum, bekas majlis belajar bersama para sahabatpun meninggalkan keharuman.

Keharuman Nabi Muhammad SAW, ternyata tidak hanya dirasakan oleh sesama manusia, semua alam dan Malaikatpun merasakan keharuman Nabi  pemberi syafaat (pertolongan) kepada pengikutnya. 

Tidak ketinggalan pula, majlis yang didalamnya ada bacaan sholawat, maka akan menebarkan keharumannya juga, yang hingga sampai ke Ars. Singgasan Allah SWT.

Dalam bacaan sholawat, memang ada kekhususan yang tidak dapat merasakan keharumannya, yaitu jin dan manusia. Hal ini dimaksud untuk mengingatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki keunikan dan istimewa. Disamping untuk beribadah, manusia juga memiliki kewajiban penjaga dan perawat dunia, bekerja, berusaha dan belajar.

Kalau manusia dapat mencium keharuman bacaan sholawat, dikhawatirkan akan tidak usaha lagi.  Hidupnya hanya ingin selalu berada dalam kenikmatan keharuman bacaan sholawat.

Hal ini juga, yang melatarbelakangi, pada setiap thorikoh, ada lantunan bacaan sholawat yang dilanggengkan. Karena keharuman sholawat juga menjadi energi tersendiri bagi siapa saja yang membacanya.  Ditambah bacaan istigfar sebagi penyapu debu-debu dosa dan kalimat hillalah (laa ilaha illallah)  sebagi deterjennya  

Bacaan sholawat itu selalu menyejukan, tenang dan semerbak harum baunya kemana-mana ketika diaaca. Setiap manusia membaca sholawat, para malaikat menemukan keharumnya dan memohonkan ampunan bagi yang  membaca pula.

Setiap manusia yang membaca sholawat akan dibalas dan dicatat masuk kebaikan-kebaikan dalam majlisnya. Keseringan sholawat juga akan menjadikan wusul kepada Allah SWT.

Ada kisoh dari ahli sholawat, Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli sebagai pengarang kitab dalail khairot. Setelah beliau meninggal dan dikebumikan beratus-ratus tahun. Terpaksa jenazahnya harus di pindah ketempat lain, karena ada program pembuatan dan pelebaran jalan.  Pada saat akan memindahkan makamnya, ternyata jenazahnya masih utuh dan seperti masih baru, padahal umur makam tersebut sudah ratusan tahun.


Bagi manusia yang selalu memperbanyak dan merutinkan sholawat, mala Allah SWT akan mengharamkan manusia tersebut dan mengharamkan terkena api neraka.

Sebuah keistimewaan bagi manusia yang suka membaca shokawat, akan langsung dibalas oleh Allah SWT. Ketika manusia membaca 1 sholawat kepada Nabi Muhammad. Maka akan dibalas 10 (sepuluh)  kali oleh Allah SWT. 100 dibalas 1000. Dan seterunya denga kelipatan 10.

Para guru thorikoh yang bisa wusul juga, salah satunya dengan banyak membaca sholawat. Termasuk wajahnya yang dipandang sejuk dan ceriah itu berkat sholawat pula.

Sebagai pengingat dan pesan dalam tulisan ini kepada para pembaca, kalau membaca sholawat jangan hanya karena mengejar kuantitasnya saja tapi kualitas juga harus di perhatikan.

Bacalah sholawatlah dalam keadaan suci, menghadap kiblat, tartil, tertib tidak buru-buru dan orientasi jumlah semata, serta mendapatkan bacaan sholawat dari guru yang memilki jalur nasab ilmu sholawat yang jelas. 
Wallahu 'alam bishowab.
(Lukmanrandusanga)

Rabu, 06 April 2022

MEMBUKA TABIR DOA YANG TERKABUL


MEMBUKA TABIR DOA YANG DIKOBUL

Ngaji  ke-4  Rabu (6/4) puasa ramadhan bersama K.H. Subhan Ma'mun di pondok pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Brebes. 

Kalimat Allah itu Ismu al-adzom (nama-nama yang agung), dan barang siapa yang berdoa dengan diawali ismu al-adzam tersebut maka hal itu didalamnya memiliki nilai keagungan Dzat Allah dan Allah akan mengabulkan bagi hamba yang berdoa dengai ismu Al-adzab tersebut. Seperti di awali dengan asmaul husna-Nya.

Ismu Al-Adzam yang selalu di sebutkan dalam doa, akan menjadi jawaban bagi hamba-Nya. Nama Allah yang agung ketika disebut saat berdoa, maka Allah SWT akan menjawab dalam doa-doa yang dipanjatkan oleh setiap hamba-Nya.

Bagi manusia sebagai hamba Allah SWT, kalau ingin mendaptkan doanya cepat di kabul, maka ada beberapa syatat yang harus dipenuhi, dalam prosedur doa tersebut.

1.  Isilah perutnya dengan makanan yang halal.  Sehingga yang dikeluarkan oleh energi, baik perkataan maupun perbuatan adalah dalam kondisi clean.  Suara yang keluar dalam doa, dihasilkan dari asupan dan energi yang suci.

Dengan kekuatan energi halal, akan mendorong  doa melejit ke langit menuju Allah SWT.  Makanan halal juga menjadi kunci pembuka, langit-langit yang tertutup oleh kunci-kunci yang bergerigi.

Makanan yang halal juga dapat menjadi nilai kemulyaan untuk menuju Allah SWT, ditambah dzikir yang selalu di mulai dengan nama-nama yang mulia dalam asmaul husna, akan mengangkat manusia dalam  derajat yang tinggi pula.

Dzikir yang baik yang sudah menjadi rutunitas dalan keseharian, sebaiknya pula diiringi dengan amal shalih, agar kekuatan dzikir akan mengkat derajatnya.

Sebagai koreksi bersama, bagaimana doa yang diminta akan terkobul, akan tetapi setiap hari makanan yang dimakan, merupakan barang-barang yang tidak halal. 

2. Menjadi syarat yang kedua agar doanya dikobul oleh Allah SWT adalah Ikhlas, berdoalah dengan ikhlas semata-mata minta kepada Allah SWT, bukan karena yang lain. 

Mari koreksi kembali, ketika doa kita belum terkobulkan, apakah ketika kita doa sudah ikhlas apa belum, penuh keterpaksaan atau emosional.  Jangan sampai doa yang kita panjatkan menghasilkan kemarahan, karena doanya tidak dikabul.  Padahal kesalahan ada orang yang bersoa sendiri.

3. Syarat yang ketiga adalah, ketika berdoa untuk berusaha dapat khusu' artinya berusaha sebaik mungkin saat berdoa hati di hadirkan dan mantap penuh keyakinan menghadap Allah SWT.

Bagaimana sebuah permohonan akan dikabulkan, ketika saat melakukan permintaan tidak serius. Jasadnya menghadap Allah SWT, tetapi diketahui hati dan pikirannya menghindar  dalam setiap lisan yang diucapkan.

Oleh karena itu, mari sadari bersama ketika doa doa kita belum terkobul oleh Allah SWT, apakah karena makanan yang tidak halal, tidak ikhlas atau tidak serius dalam berdoa. Wajahnya menghadap Allah SWT  Tetapi hati dan pikiranmya melayang-layang mengikuti nafsu dan sahwatnya.

Semoga dengan doa-doa yang terus dipanjatkan untuk saat sekarang, sudah diawali dengan aksesoris tubuh yang halal dan bersih. Sehingga langsung menembus pintu-pintu langit dan dikobul. Aamiiin.


Minggu, 03 April 2022

MERAIH PAHALA RAMADHAN LEWAT NGAJI

MERAIH PAHALA LEWAT NGAJI

Ahad, 1 Ramadhan 1443 H (3/4/22) pembukaan ngaji sore hari pukul 16.00 - 17.15 Wib. setiap hari selama Bulan Puasa. Di pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Brebes. Dengan kitab yang dikaji Kifayat al-Atqiya' Wa Minhaj al-Ashfiya. karya Sayid Bakari al-Makki bin Sayid Muhammad Syatho ad-Dimyathi

Ngaji dimulai dari pembacaan muqodimah kitab.  Segala puji bagi Allah SWT yang menghususkan hamba-hambanya yang mulia dengan petunjuk.  Menghasilkan kemuliaan dan keagungan. Dan menghapus dari hati kegelapan selain Allah, mencintai orang baik. Memberi kesabaran dan ilmu serta bersih dari seluruh kotoran

Orang yang baik akan diberi keistimewaan karena taufiknya Allah. Dari pertolongan tersebut manusia akan mendapatkan kemulyaan dan kejayaan. Tertutup dari jalan kegelapan untuk berbuat kesalah terhadap hukum Allah, dan kecintaan dunia yang berlebihan, serta  akan tunduk terhadap garis yang ditetapkan.

Hidayah diperoleh manusia bisa didapat karena petunjuk ilmu. dan darinya dapat  menyebabkan memiliki hati yang bersih. Namun hati yang bersih dapat pula diperoleh dengan membaca Al-Quran dan berdzikir.

Selawat serta salam semoga untuk seorang yang diberi mahkota dengan mahkota keagungan.  Dan dengan kedatangannya membuat seluruh daerah bercahaya Yaitu tuan kita Muhammad Saw yang menganjurkan ketaatan kepada yang Maha Mulia dan Maha Pengampun. Melarang untuk mengikuti kesenangan dan nafsu setan.

Sesungguhnya Allah SWT memberi cahaya pada bumi, karena adanya Nabi Muhammad  Saw.

Mudah-mudahan dengan sebab sholawat serta salam, akan dimudahkan dalam memperoleh tujuan dan kebutuhan hidup. Diampuninya segala dosa, untuk kita, saudara, para pendatang dan pemukim penduduk asli.

Nabi Muhammad Saw, merupakan sosok Nabi yang mengingatkan manusia untuk  tidak mengikuti hawa nafsu setan.  Memegang kuat keimanan agar dapat hidayah, untuk  mencegah godaan setan dan hal-hal yang membahayakan terjerumus dalam jebakan setan pula.

Ketika manusia memiliki sifat cinta, dan sesungguhnya cinta itu dari AllahSwt. Oleh karena itu jangan rusak sifat cinta tersebut dengan melakukan perbuatan jelek. Rawatlah cinta dengan selalu mencintai Allah Swt.

Ada penekanan dalam mokodimah kitab, bahwa segala amal yang banyak dilakukan manusia, sehingga dapat diterima dan menghapus dosa, itu semua karena fadilah dari Allah Swt. Bukan semata-mata karena usaha dan kegigihan manusia. Karena amal yang dilakukan secara akal tidak mungkin diterima.

Sifat ilmu yang dikaji sangat luas, dan tidak manusia dapat mendapatkan semua ilmu walaupun hidup seribu tahun. Oleh karena itu cukup lah hidup dihidupi dengan ilmu yang manfaat. dan ketika sudah menjadi mulya karena ilmu maka jangan thoma. Agar selalu diberi petunjuk Allah Swt dapat hidup berada dijalan-Nya.

Satu lagi bagi pemilik ilmu, ketika ilmu yang didapat ada yang memintanya maka jangan ditolak. Jadikan hidup selalu berada pada yang baik, sehinga akan menjadi orang  baik. Begitu juga ketika seneng ngaji, dan sifat dasar mengaji sendiri adalah perbuatan yang  bagus, sehingga orang yang suka mengaji akan terbawa pada perilaku bagus.

Perlu diketahui, Ilmu dan amal yang sesuai irama dengan ketentuan hukum Allah Swt, akan membentuk hati selamat dari sifat marah, hasud dan ria. Oleh karena itu seorang ilmuan tidak boleh takut atau bingung tidak menjadi terkenal dan menjadi miskin, susah memenuhi kebutuhan hidupnya. Berlatihlah untuk meninggalkan sombong dengan riyadho dan suka memaafkan atas kesalahan orang lain.

Sebagai catatan tambahan mengaji, untuk memiliki anak yang mulia, maka anak harus dikenalkan para orang-orang yang baik, para ulama dan ahli thoriqah.

Ketika seseorang senang mengaji, maka baginya dapat dikatagorikan orang yang berusaha dalam rangka mendapatkan pahala seperti pahala orang mati sahid. Mengajipun sebuah usaha untuk dekat ulama dan mendapatkan safaatnya.

Ada 3 golongan orang yang kelak di akhirat diberi wewenang oleh Allah SWT untuk memberi syafaat. Ketiga golongan manusia tersebut adalah para Nabi, ulama, dan syuhada.

Diakhir mukodimah ada tradisi baik yang diwariskan oleh para ilmuan dalam setiap mengarang kitab, kerendahan diri dan menerima koreksi setelah dibedah dan dikaji secara serius. Permohonan maaf apabila ada kekeliruan dalam menulis kitab. Wallahu'alam bishowab.
Lukmanrandusanga


Selasa, 29 Maret 2022

KHIDMAH PADA ILMU


KHIDMAH PADA ILMU

Oleh : Lukman Nur Hakim.

Cirebon, Senen 6 Desember 2021. Promosi doktor H. Thobari di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dengan judul Desertasi "Kepemimpinan  Kyai Pesantren Tradisional dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Era Globalisasi." Studi kasus di Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi dan Pondok Pesantren Darussalam Jatibarang  Brebes. 

Dalam orasi ilmiah yang disampaikan oleh K.H. Subhan Ma'mun, diujian terbuka promosi doktor H. Thobari kepala MAN  Kota Tegal. Beliau menyampaikan. Konsep pondok pesaantren tradisional Assalafiyah tetap mengacu pada kurikulum literatur karya-karya ulama terdahulu. Walaupun kondisi pondok pesantren berada pada era globalisasi.

Pesantren tradisonal memiliki ciri yang mengikat sangat kuat. Salah satunya mengakat perekonomian lingkungan stempat.  Dunia pesantren tidak menerapkan monopoli usaha. Lingkungan Pondok diberi keleluasaan untuk menjajagan makanan maupun memenuhi kebutuhan para santri yang ada di Pondok Pesantren.

Karakteristik dan corak pesantren Tradisional secara umum mempunyai kebebasan penuh dalam sistem kurikulum yang diterapkan, lebih mengutamakan kesederhanaan, idealisme, persaudaraan, persamaan, rasa percaya diri dan keberanian. Di samping itu, adanya rumah tempat
kiyai bersama santrinya dalam pondok,  memfungsikan masjid sebagai tempat kegiatan belajar mengajar. Posisi santri dan Kyai merupakan tokoh sentral di pesantren dalam proses belajar mengajar.

Sistem  pondok pesantren tradisional, pengajarannya sangat kental dengan kitab-kitab Islam klasik.  Walaupun pertumbuhan dan perkembang keberadaan pesantren tradisional ditengah masyarakat sering berhadapan dengan implikasi politis dan kultural yang menggambarkan sikap pengasuh pondok pesantren disepanjang sejarah. 

Warna sikap pondok pesantren tradisional, dalam aktivitas keseharian tidak mengelola kebutuhan biologis para santri dan pemenuhan kebutuhan diri seperti kebersihan pakaian (Laundry). Semua diserahkan para santri untuk memilih kemana mereka akan memenuhi kebutuhan lapar dan hausnya serta kebersihan pakaiannya.

Pondok Pesantren tradisional  memberi peluang usaha bagi mereka yang rumahnya dekat dengan pesantren. Kehadiran pesantren memiliki komitmen kuat untuk memberi kemanfaatan untuk peningkatan ekonomi masyatakat.

Selanjutnya lingkungan akan menjadi saksi,  dari kebaikan para pengasuh  pesantren dalam pengelolaan pendidikan. Tetangga kanan kiri, depan dan belakang. Ketika mereka melakukan persaksian terhadap pengelola pesantren dengan baik. Maka Allah SWT akan menerima kesaksian kebaikan dari para tetangga.

Kehadiran pesantren tradisional tidak dapat dipisahkan dari tuntutan kebutuhan umat. Pesantren tradisional menjaga hubungan yang harmonis dengan masyarakat di sekitarnya sehingga kehadirannya
mendapat dukungan dan apresiasi penuh. Alhasil penilaian positif dan keorisinilan menjadi wajah pesantren tradisional di mata masyarakat  serta mendapat suport sistem pesantren tradisional untuk maju dan dikembangkan bersama-sama, antara pengasuh pesantren itu sendiri dan lingkungan pesantren.

Pesantren adalah ladang ilmu, dan perguruan tinggipun memiliki kedudukan yang  sama. Mereka yang ada dikeduanya merupakan orang-orang yang mengabdikan diri pada ilmu. Maka dengan mengabdikan diri pada ilmu, secara otomatis mendapatkan fadhilah dari ilmu yang diajarkan. Secara langsung dijawab seketika itu dalam kehidupan di dunia "Orang yang mau mengabdikan (khidmah)  pada ilmu, maka akan mendapatkan pertolongan atau bantuan dari manusia lainnya. 

‌Khidmah pada ilmu tidak bisa lepas dari keinginan mendapat keberkahan,  jalan petunjuk dan mengalirnya  kucuran cahaya dari ilmu itu sendiri. Khidmah secara umum memiliki arti   melayani atau membantu. Khidmah pada ilmu dapat dikatakan mengabdikan hidupnya untuk ilmu. Mengajar, meneliti dan mengembangkan keilmuan yang dimiliki untuk dapat  disampaikan dan disebarluaskan untuk kepentingan pengetahuan orang banyak.

Khidmah pada ilmu, memilki makna juga menyampaikan ilmu dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, yang semata-mata hanya mencari ridlo Allah SWT. 

LULUS


LULUS
Oleh : Lukman Nur Hakim

Randusanga, kamis 22 Januari 2020 Pukul 11.00 WIB. Suasana pemakaman orang tua penulis, Alm. H. Moh. Syamsuri bin H. Sakyadi. Di Pemakaman umum Desa Randusanga Kulon Brebes.

Kata lulus dalam judul di atas, Tidaklah  identik pada dunia akademik,  lulus sekolah, kuliah ataupun lulus tes dalam dunia kerja semata.  Namun kata-kata lulus yang diterima penulis adalah  lulus setelah menghantarkan orang tua penulis H. Syamsuri bin H. Sakyadi kembali menghadap Allah SWT.

Sebuah kebahagiaan bagi kami ketika mampu menghantarkan proses memandikan, bisa melibatkan cucu cucunya secara langsung ikut memangku jenazah, dan penulis yang memandikannya. Kemudian  menyolati secara berjamaah, mengadzani dan menguburkannya. 

Sesaat jenazah telah selesai diadzankan kemudian penulis naik dari liang kubur dan membiarkan orang tua penulis terus ditimbuni tanah oleh para penggali kubur. Tatapan  penulis saat itu, hanya tertuju pada liang lahat tempat peristirahatan orang tua penulis, setelah tidak bisa istirahat di rumah sendiri yang ditinggali berpuluh-puluh tahun.
 
Suasana duka terus menyelimuti penulis, sambil terus menatap orang tua penulis yang tubuhnya sudah tak terlihat lagi, tertutup oleh tanah. 

Disaat berdiri disamping kuburan orang tua penulis. Tak lupa sesekali menengok ke kanan dan ke kiri, melihat saudara, adik-adik almarhum, cucu dan keponakan. Terlihat sesekali mengusap air mata yang terkadang masih ke luar, melihat orang yang dicintai sudah harus berpisah.

Ketika penulis harus mundur beberapa langkah ke belakang, untuk memberikan keleluasaan para penggali kubur, meratakan tanah di samping dan meninggikan makam abah penulis dengan pasir 2 (dua) gerobag, yang  menjadi kesepakatan warga dalam setiap ada mayit yang mau dikubur,  harus ditambah 2 (dua) gerobak pasir yang dibeli dari keluarga almarhum. Ternyata ada kyai, guru yang sekaligus teman yang menjadi curhatan penulis, ketika ada masalah dan menanyakan hukum.

Tanpa penulis sadari, beliau menyalami penulis, walaupun saat itu sedikit malu untuk menerima salamannya karena tangan penulis kotor penuh lupur. Beliaupun berkata perlahan-lahan sambil menepuk pungguh penulis "Lulus." 

"Njenengan sudah lulus,"  mendengar kalimat ini penulis hampir saja tidak kuat menerimanya. Badan menjadi lemas, gemetar dan rasanya ingin menangis sekeras-kerasnya, namun saat itu penulis harus kuat berdiri tegak di hadapan makam orang tua. Walaupun penulis tidak bisa menahan air mata yang terjun bebas membasahi pipi. 

Kalimat lulus, bagi penulis bagaikan cambuk, menggetarkan rasa haru dan bangga bagi penulis. Predikat lulus keluar dari sang guru, kepada penulis setelah selesai proses pemakaman. Tugas anak berbakti, mengabdi dan mengatarkan orang tua menuju  peristirahatan terakhir.

Doa yang terus dipinta pada Allah SWT, telah terkabulkan. Penulis bahagia, dapat mendampingi orang tua saat sakit, berobat ke dokter, mentalkin menyebut nama Allah SWT saat akan kembali kepada-Nya, memandikan, mensholati dan menguburnya. Selamat jalan Abah, engkau adalah guru kehidupan penulis. InsyaAllah husnul hotimah.

Teruntuk Abah H. Syamsuri bin H. Sakyadi Alfatihah.