Selasa, 29 Maret 2022

KHIDMAH PADA ILMU


KHIDMAH PADA ILMU

Oleh : Lukman Nur Hakim.

Cirebon, Senen 6 Desember 2021. Promosi doktor H. Thobari di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dengan judul Desertasi "Kepemimpinan  Kyai Pesantren Tradisional dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Era Globalisasi." Studi kasus di Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi dan Pondok Pesantren Darussalam Jatibarang  Brebes. 

Dalam orasi ilmiah yang disampaikan oleh K.H. Subhan Ma'mun, diujian terbuka promosi doktor H. Thobari kepala MAN  Kota Tegal. Beliau menyampaikan. Konsep pondok pesaantren tradisional Assalafiyah tetap mengacu pada kurikulum literatur karya-karya ulama terdahulu. Walaupun kondisi pondok pesantren berada pada era globalisasi.

Pesantren tradisonal memiliki ciri yang mengikat sangat kuat. Salah satunya mengakat perekonomian lingkungan stempat.  Dunia pesantren tidak menerapkan monopoli usaha. Lingkungan Pondok diberi keleluasaan untuk menjajagan makanan maupun memenuhi kebutuhan para santri yang ada di Pondok Pesantren.

Karakteristik dan corak pesantren Tradisional secara umum mempunyai kebebasan penuh dalam sistem kurikulum yang diterapkan, lebih mengutamakan kesederhanaan, idealisme, persaudaraan, persamaan, rasa percaya diri dan keberanian. Di samping itu, adanya rumah tempat
kiyai bersama santrinya dalam pondok,  memfungsikan masjid sebagai tempat kegiatan belajar mengajar. Posisi santri dan Kyai merupakan tokoh sentral di pesantren dalam proses belajar mengajar.

Sistem  pondok pesantren tradisional, pengajarannya sangat kental dengan kitab-kitab Islam klasik.  Walaupun pertumbuhan dan perkembang keberadaan pesantren tradisional ditengah masyarakat sering berhadapan dengan implikasi politis dan kultural yang menggambarkan sikap pengasuh pondok pesantren disepanjang sejarah. 

Warna sikap pondok pesantren tradisional, dalam aktivitas keseharian tidak mengelola kebutuhan biologis para santri dan pemenuhan kebutuhan diri seperti kebersihan pakaian (Laundry). Semua diserahkan para santri untuk memilih kemana mereka akan memenuhi kebutuhan lapar dan hausnya serta kebersihan pakaiannya.

Pondok Pesantren tradisional  memberi peluang usaha bagi mereka yang rumahnya dekat dengan pesantren. Kehadiran pesantren memiliki komitmen kuat untuk memberi kemanfaatan untuk peningkatan ekonomi masyatakat.

Selanjutnya lingkungan akan menjadi saksi,  dari kebaikan para pengasuh  pesantren dalam pengelolaan pendidikan. Tetangga kanan kiri, depan dan belakang. Ketika mereka melakukan persaksian terhadap pengelola pesantren dengan baik. Maka Allah SWT akan menerima kesaksian kebaikan dari para tetangga.

Kehadiran pesantren tradisional tidak dapat dipisahkan dari tuntutan kebutuhan umat. Pesantren tradisional menjaga hubungan yang harmonis dengan masyarakat di sekitarnya sehingga kehadirannya
mendapat dukungan dan apresiasi penuh. Alhasil penilaian positif dan keorisinilan menjadi wajah pesantren tradisional di mata masyarakat  serta mendapat suport sistem pesantren tradisional untuk maju dan dikembangkan bersama-sama, antara pengasuh pesantren itu sendiri dan lingkungan pesantren.

Pesantren adalah ladang ilmu, dan perguruan tinggipun memiliki kedudukan yang  sama. Mereka yang ada dikeduanya merupakan orang-orang yang mengabdikan diri pada ilmu. Maka dengan mengabdikan diri pada ilmu, secara otomatis mendapatkan fadhilah dari ilmu yang diajarkan. Secara langsung dijawab seketika itu dalam kehidupan di dunia "Orang yang mau mengabdikan (khidmah)  pada ilmu, maka akan mendapatkan pertolongan atau bantuan dari manusia lainnya. 

‌Khidmah pada ilmu tidak bisa lepas dari keinginan mendapat keberkahan,  jalan petunjuk dan mengalirnya  kucuran cahaya dari ilmu itu sendiri. Khidmah secara umum memiliki arti   melayani atau membantu. Khidmah pada ilmu dapat dikatakan mengabdikan hidupnya untuk ilmu. Mengajar, meneliti dan mengembangkan keilmuan yang dimiliki untuk dapat  disampaikan dan disebarluaskan untuk kepentingan pengetahuan orang banyak.

Khidmah pada ilmu, memilki makna juga menyampaikan ilmu dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, yang semata-mata hanya mencari ridlo Allah SWT. 

LULUS


LULUS
Oleh : Lukman Nur Hakim

Randusanga, kamis 22 Januari 2020 Pukul 11.00 WIB. Suasana pemakaman orang tua penulis, Alm. H. Moh. Syamsuri bin H. Sakyadi. Di Pemakaman umum Desa Randusanga Kulon Brebes.

Kata lulus dalam judul di atas, Tidaklah  identik pada dunia akademik,  lulus sekolah, kuliah ataupun lulus tes dalam dunia kerja semata.  Namun kata-kata lulus yang diterima penulis adalah  lulus setelah menghantarkan orang tua penulis H. Syamsuri bin H. Sakyadi kembali menghadap Allah SWT.

Sebuah kebahagiaan bagi kami ketika mampu menghantarkan proses memandikan, bisa melibatkan cucu cucunya secara langsung ikut memangku jenazah, dan penulis yang memandikannya. Kemudian  menyolati secara berjamaah, mengadzani dan menguburkannya. 

Sesaat jenazah telah selesai diadzankan kemudian penulis naik dari liang kubur dan membiarkan orang tua penulis terus ditimbuni tanah oleh para penggali kubur. Tatapan  penulis saat itu, hanya tertuju pada liang lahat tempat peristirahatan orang tua penulis, setelah tidak bisa istirahat di rumah sendiri yang ditinggali berpuluh-puluh tahun.
 
Suasana duka terus menyelimuti penulis, sambil terus menatap orang tua penulis yang tubuhnya sudah tak terlihat lagi, tertutup oleh tanah. 

Disaat berdiri disamping kuburan orang tua penulis. Tak lupa sesekali menengok ke kanan dan ke kiri, melihat saudara, adik-adik almarhum, cucu dan keponakan. Terlihat sesekali mengusap air mata yang terkadang masih ke luar, melihat orang yang dicintai sudah harus berpisah.

Ketika penulis harus mundur beberapa langkah ke belakang, untuk memberikan keleluasaan para penggali kubur, meratakan tanah di samping dan meninggikan makam abah penulis dengan pasir 2 (dua) gerobag, yang  menjadi kesepakatan warga dalam setiap ada mayit yang mau dikubur,  harus ditambah 2 (dua) gerobak pasir yang dibeli dari keluarga almarhum. Ternyata ada kyai, guru yang sekaligus teman yang menjadi curhatan penulis, ketika ada masalah dan menanyakan hukum.

Tanpa penulis sadari, beliau menyalami penulis, walaupun saat itu sedikit malu untuk menerima salamannya karena tangan penulis kotor penuh lupur. Beliaupun berkata perlahan-lahan sambil menepuk pungguh penulis "Lulus." 

"Njenengan sudah lulus,"  mendengar kalimat ini penulis hampir saja tidak kuat menerimanya. Badan menjadi lemas, gemetar dan rasanya ingin menangis sekeras-kerasnya, namun saat itu penulis harus kuat berdiri tegak di hadapan makam orang tua. Walaupun penulis tidak bisa menahan air mata yang terjun bebas membasahi pipi. 

Kalimat lulus, bagi penulis bagaikan cambuk, menggetarkan rasa haru dan bangga bagi penulis. Predikat lulus keluar dari sang guru, kepada penulis setelah selesai proses pemakaman. Tugas anak berbakti, mengabdi dan mengatarkan orang tua menuju  peristirahatan terakhir.

Doa yang terus dipinta pada Allah SWT, telah terkabulkan. Penulis bahagia, dapat mendampingi orang tua saat sakit, berobat ke dokter, mentalkin menyebut nama Allah SWT saat akan kembali kepada-Nya, memandikan, mensholati dan menguburnya. Selamat jalan Abah, engkau adalah guru kehidupan penulis. InsyaAllah husnul hotimah.

Teruntuk Abah H. Syamsuri bin H. Sakyadi Alfatihah.

BERWASIAT TAQWA DAN BERDZIKIR


SALING BERWASIAT KETAQWAAN, BERSZIKIR DAN BERPIKIR DALAM BERTHORIQOH 

Oleh : Lukman Nur Hakim


Mushola Sabilul Huda Klampok, Minggu pahing 7 Nopember 2021, Putaran ke 240 jam'iyah Ahlithoriqoh Al-mu'tabaroh  Assadziliyah Kabupaten Brebes. Adapun kitab yang di kaji adalah Kifayat al-Atqiya' Wa Minhaj al-Ashfiya. karya Sayid Bakari al-Makki bin Sayid Muhammad Syatho ad-Dimyathi, yang dibaca oleh K.H. Subhan Ma'mun pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes. 

Dalam Kifayatul Al-atqiyah  mengajarkan para pembaca untuk mengasah ketajaman rohoni melalui tasawuf suni bukan tasawuf yang melanggar ketentuan Alquran dan sunah. "Tarekat para syekh yang dilandasi oleh  sumber utama Islam  yakni Alquran dan sunah," 

( Gambar, jamaah Thoriqoh Assadziliyah putaran 240 di Mushola Sabilul Huda Klampok) 

Dalam Kifayatul Al-atqiyah menegaskan bagi para pembaca yang ingin menuju perjalan akhirat maka bekal taqwa adalah pijakan yang pertama dan mendasar sebagai mana syair beliau yang berbunyi :
"Taqwa al ilahi madaru kulli saadatin tiba'u ahwa ra'su syarrin habaila." (Takwa kepada Allah pusat segala kebahagiaan dan mengikuti hawa nafsu pangkal keburukan).

Takwa merupakan dasar terpenting yang mengumpulkan semua kebaikan baik dunia ataupun akhirat. Tak pelak, sejumlah kalangan pun lantas mencoba memberikan definisi yang komprehensif tentang pengertian takwa.

Landasan  taqwa  diartikan  sebagai bentuk ketaatan atas perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya secara lahir dan batin.  Dengan penekanan sikap  rasa pengagungan, tunduk, dan takut terhadap Allah. Taqwa juga perilaku  untuk menghindari apa pun selain ridha Allah. 

An-Nashr Abadzi, Sayid Bakari  mengatakan  siapa pun yang membumikan sikap takwa maka kecenderungan yang ada di hadapannya tak lain hanyalah keinginan menjauhi dunia yang fana. Hal ini disebabkan oleh keyakinan yang amat mendalam akan janji Allah.

Ketaqwaan menjadi kesungguhan  kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa.  Sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-An'am ayat 32 "Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa."

Lebih dalam  Sayid Bakari mengemukakan, takwa menuntut seseorang untuk menjauhi hawa nafsu yang kerap dipenuhi oleh tipu daya setan. Akibatnya, kepatuhan terhadap nafsu berakibat pada kebinasaan. Bahkan, Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Sya'b al-Iman, pernah mengingatkan umatnya agar tidak teperdaya oleh nafsu setan.

Inilah yang perlu ditekankan kepada para pembaca, khususnya mereka yang mengkaji bersama para guru thorikoh  untuk menjadikan Taqwa sebagai titian awal untuk menuju perjalan Akhirat.  Wallahu'alam bishowab.

NASEHAT DAN BERDZIKIR DALAM THORIKOH

Minggu 7 November 2021. K.H. Subhan Ma'mun, membuka pengajian  Thoriqah Sadziliyah, ahad pahing kitab Kifayatul al-atqiyah halaman 113.

Beberapa nasahatnya yang beliau sampaikan pada  pengajian ahad pahingan adalah sebagai berikut : 

Jangan merasa bangga dengan melihat keatas akan keturunan diri dari  orang yang hebat, kuat dan bermarga tinggi. Lihatlah diri sendiri sebagai manusia yang  pada hakekatnya  berasal dari tanah dan air. Berbanggalah atas kecapain ilmu yang didapat. Berbangga menjadi ahli ilmu. Karena dengan ilmu yang dimiliki akan dapat memberikan pencerahan pada diri sendiri dan orang lain.

Rasulullah mengingatkan dalam sabdanya: “Barangsiapa belajar satu bab ilmu dan mengamalkannya atau tidak mengamalkannya, niscaya itu lebih baik daripada shalat sunnah 1000 rakaat.” Pada hadits lain Rasulullah juga menyampaikan : “Seorang ulama itu lebih ditakuti oleh setan daripada 1.000 orang ahli ibadah dan 1.000 orang yang wara’."

K.H. Subhan Ma'mun juga mengingatkan kepada para pencari dan pemilik ilmu. Bahwa ilmu yang didapat bagaikan garam yang siap memberi rasa sesuai ukurannya. Ilmu sebagai kontrol perilaku dan bukan. sopan-santun).  Adab ibarat tepung yang membungkus perilaku baik, cerminan dari para pemilik ilmu.

SEMOGA SAKINAH

SEMOGA SAKINAH, MAWADDAH WARAHMAH

Oleh : Lukman Nur Hakim


Luwungragi Brebes,  Minggu 17 Oktober 2021, Walimatul Ursy. Gus Minan dan Ning Zahra. Yang disampaikan oleh Prof. Dr. K.H. Said Agil Siradj M.A.  yang dikenal dengan sebutan Kyai Said atau Kang Said, Ketua Umum  Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. 

Setelah salam,  membaca hamdalah dan sholawat, Kyai Said baru berbicara tentang nikah. Menurut Kyai Said  nikah itu adalah ibadah yang universal karena tuntunan nikah tidak hanya ada pada Agama Islam. Namun setiap agama membicarakan hukum, akad dan tata cara pernikahan. Baik Kristen, Yahudi dan di Animisme pun ada. 

Nikah juga dapat diartikan ibadah yang verenial, artinya  pernikahan tidak hanya terhenti di dunia  tetapi sampai ke alam surga. Istri-istri yang ada di dunia kelak juga akan mendampingi suaminya (bersama) di surga.

Nikah menjadi ibadah yang terus-menerus dan bertahun-tahun, dapat disebut  ibadah yang paling lama.  Nikah adalah bentuk ibadah yang penuh kebahagiaan dan indah. Satu sisi lagi,  dalam pernikahan ada proses ideal  penciptaan manusia, ada  nikmat yang luar bisa antara mereka yang melakukan pernikahan.

Nikah menjadi proses manusia beragama yang dapat diniati ibadah kepada Allah Swt. menjalankan sunnah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. Dan selanjutnya terdapat ibadah-ibdah yang lain dalam pernikahan,  termasuk  ibadah mengikut sunnah Rasulullah dalam membina keluarga, dan dalam rangka mendekatakan diri kepada Allah Swt. Dalam pernikahan ada kebahagian lain pula, seperti adanya perilaku saling mendukung dan memotivasi  untuk kebaikan. 

Nikah pada sisi lain, merupakan pertemuan jasmani dan rohani. Ada proses penyatuan jiwa dan  pertemuan budaya akhlak antara kedua mempelai. Sehingga dibutuhkan bagi mempelai laki-laki menunjukan bahwa "saya suami yang bertanggung jawab". Begitu juga bagi 
istri, tunjukkan pula "saya istri yang setia pada suami."

Dalam pernikahan di dalamnya tersurat membangun rumah tangga. 
Silahkan bangun umah yang besar, indah dan bagus. Tetapi harus ingat,  niatlah membangun tidak hanya untuk diri dan keluarga saja. Tetapi diniatkan juga untuk menghormati tamu, agar senantiasa rumah yang dibangun penuh dengan isian ibadah. 

Puncak nikah adalah pendidikan akidah atas kekuasaan Allah. Kedudukan manusia yang membutuhkan pasangan hidup dalam beragama harus melakukan pernikahan.  Sedangkan Allah Swt. sebagai Rabb  Dzat Yang Maha Kuasa atas semua alam,  tidak membutuhkan pasangan. Artinya semua makhluk hidup yang diciptakan Allah berpasang--pasangan sedangkan Dzat Penciptanya adalah Maha Tunggal (Esa).


Perjalanan Nikah

Ada proses perjalanan memilih pasangan hidup (nikah) hanya satu dan lebih dari satu. 

Pada saat masa kenabian, Nabi Harun dan Nabi Musa ada kebebasan menikah dengan wanita tanpa batas.  Karena saat itu sedang mengalami  krisis kaum laki-laki. Hal itu terjadi karena adanya kebijakan Raja Fir'aun yang membunuh semua bayi laki-laki, Sehingga bayi laki-laki yang dilahirkan semasa atau seusia Nabi Musa sangat minim jumlahnya, bahkan hampir tidak ada. Karena kebijakan Firaun yang sangat luar biasa, untuk membunuh bayi laki-laki yang lahir saat itu.

Kebijakan Fir'aun inilah membuat perkembangan saat usia dewasa laki-laki  yang seharusnya sudah siap nikah hampir tidak ada. Sehingga para kaum laki-laki saat itu diperbolehkan menikah lebih dari 4 (empat) wanita/ istri.

Adapun ajaran yang dibawa oleh Nabi Isa As. Yang sangat menghormati Ibunya, termasuk para kaum ibu-ibu yang lain. Maka bagi kaum laki-laki hanya boleh menikah dengan 1 wanita (istri) saja.

Sedangkan ajaran pada Nabi Muhammad Saw. ada pembatasan nikah. Seorang laki-laki maksimal memiliki 4 (empat) istri. Adapun kalau tidak mampu untuk berbuat adil kepada para istri, maka lebih baik hanya memiliki atau cukup satu istri saja. 

Islam menghormati perempuan terbukti  ada surat Annisa dan Maryam.  Dalam teks Al-Qur'an maupun Hadits antara laki -laki dan perempuan selalu disejajarkan, dengan kalimat muslimin dan muslimat.

Perempuan dalam Islam dimuliakan setinggi-tingginya, perempuan bagaikan bunga yang mekar dan perlu di sentuh agar dalam berbunga lama dan membawa warna harum.
TRIK ABU NAWAS MENAKLUKAN PARA LELAKI YANG SUKA MENGGODA ISTRINYA

Oleh : Lukman NurHakim


Abu Nawas merupakan manusia yang selalu beruntung diberbagai hal dan sangat cerdas dalam setiap menyelesaikan masalah hidup orang banyak maupun masalah dirinya sendiri.

Disamping kecerdasanya yang dimiliki sudah teruji. Satu lagi keistimewaan  Abu Nawas, yaitu memiliki istri yang sangat cantik yang menjadi kembang desa,  membuat iri setiap para lelaki di kampungnya. Dengan kecantikan istri Abu Nawas, membuat siapapun yang melihat istri Abu Nawas, tak kuasa untuk tidak menggodanya. 

Para penggoda di pagi hari,  selalu ada dan berjejer di sepanjang jalan menuju pasar untuk menggoda istri Abu Nawas ketika berangkat dan pulang dari pasar. Sehingga Istri Abu Nawas marah namun tak bisa dilampiasan pada orang yang menggodanya.

Dalam kondisi kesal dan marah, istri Abu Nawas masih tetap mampu menyimpan dengan baik  ketika di goda para lelaki yang nongkrong di jalan menuju pasar.

Istri Abu Nawas hanya menampakkan muka murungnya pada suaminya ketika habis pulang dari pasar.

Tatapi istri Abu Nawaspun ingin membuktikan bagaimana kehebatan dan kecerdikan suaminya. Akhirnya disampaikanya masalah yang dihadapi ketika menuju dan pulang dari pasar kepada suaminya.

Wahai suami ku, Aku mau mengadu pada anda, agar setiap berangkat dan pulang dari pasar tidak ada yang mengodanya. Aku tahu, bahwa engkau orang cerdik.  Coba buktikan pada istrimu ini, tentang kecerdasan yang engkau miliki.

Abu Nawaspun berkata pada istri, "InsyaAllah persoalannya akan selesai besok, wahai istriku."

Sang istripun sangat yakin apa yang di sampaikan Abu Nawas akan terwujud, tapi Ia pun tidak tahu cara penyelesain yang dilakukan oleh suaminya.

Wahai Istriku (kata Abu Nawas),  Saya akan pergi ke pasar membeli sesuatu, untuk menjamu para lelaki yang suka menggodamu.

Istri Abu Nawas samakin binggung terhadap tingkah suaminya. Orang yang suka menggodanya, kok mau dikasih makanan dan suruh kumpul di rumah.

Abu Nawas pun pergi ke pasar untuk membeli ketela pohon (bodin kata orang Brebes), dan dalam perjalanan kepasar, ia sempatkan pula menemui para laki-laki yang yang suka menggoda istrinya. Agar mau menghadiri undangan darinya.

Para lelaki yang suka menggoda istri Abu Nawas, merasa senang  di panggil Abu Nawas suruh makan dirumahnya. Ia berpikir akan bertemu dengan istri Abu Nawas dan akan merasakan  makanan hasil  masakan istri Abu Nawas.

Oleh Abu Nawas, bodin yang ia beli di pasar dimasak sama,  hanya dikasih warna yang berbeda-beda pula. 

Setelah para tamu sudah datang, disuguhkanlah bermacam-macam bodin yang berwarna warni, untuk dinikmati.

Para tamupun menikmati hidangan yang disuguhkan oleh Abu Nawas.  Memakan bodin yang berwarna warni.

Pada saat para tamu memakan bodin yang warna putih, ada yang  kuning merah dan sebagainya. Mereka binggung. "Kok Rasanya sama" imbuh para tamu.

Akhirnya salah satu tamu, tak kuasa untuk menahan bicara.

"Wahai Abu Nawas, anda memasak bodin berwarna warni tapi kok rasanya sama, apa maksudnya ini."

Abu Nawaspun menjawab, " Syukurlah kalau anda mengerti, rasa bodin itu sama."

"Maksudnya apa wahai Abu Nawas" tanya para tamu yang semakin heran atas jawaban Abu Nawas.

Abu Nawas kembali menjelaskan kepada para tamu yang memenuhi undangannya. 

 “ Wahai saudara-saudaraku, aku mengundang anda hanya agar kalian menikmati hidangan bodin, dan perlu dicatat, bahwa bodin yang kalian makan adalah laksana istri-istri kita, mereka rasanya sama walapun warnanya berbeda-beda" 

Para tamupun sebagian mulai sadar akan maksud Abu Nawas memanggil mereka kerumahnya. 

Abu Nawaspun kembali menjelaskan " Istri kita memang ada yang tinggi, cantik dan sebagainya, tapi rasanya sama." 

Para tamupun saling melihat wajah satu sama lainnya. Ia merasa ditipu oleh Abu Nawas. Dan semuanya malu atas perbuatanya selama ini pada istri Abu Nawas. Tanpa ada yang mengomandoi akhirnya para tamu dengan sendirinya pergi dari rumah Abu Nawas. Dalam hati mereka " Ia telah tertipu dan malu pada Abu Nawas. Wallahu'alam Bishowab.

Kenangan pembawa acara (Gus Nadhif)  pada pernikahan gus minan dan neng zahra

BERBAGI HIKMAH PASCA MUKTAMAR LAMPUNG



BERBAGI HIKMAH PASCA MUKTAMAR NU DI LAMPUNG

Oleh : Lukman Nur Hakim

Sabtu, 25 Desember 2021, Penulis bersilaturahmi dengan K.H. Subhan Ma'mun pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes.  Setelah melihat di postingan group Assalafiyah 3, K.H. Subhan Ma'mun ada di sekertariatan  pembangunan Pondok Pesantren Assalafiyah III yang nantinya akan digunakan untuk santri anak jalananan.

Penulis berangkat dari rumah Randusanga, ke tempat pembangunan Assalafiyah 3, dengan niat bersilaturahmi dan mau mendengarkan nasehat dari K.H. Subhan Ma'mun, pasca Muktamar NU ke-34 Di Lampung, yang berlangsung dari tanggal 22 - 23 Desember 2021.
Sekaligus penulis melaksanakan tugas piket panitia pembangunan pondok yang dijadwalkan pada penulis disetiap hari Sabtu.

Sesampai di sekretariatan Assalafiyah 3,  K.H. Subhan Ma'mun sedang ngobrol bersama dengan para panitia pembangunan lainnya, sehingga penulis langsung ikut nimbrung mendengarkan nasehat-nesehat dari beliau, setelah penulis bersalaman terlebih dahulu. 

Menurut K.H. Subhan Ma'mun, Muktamar NU yang ke-34, Alhamdulillah berjalan dengan lancar dan tidak mengalami halangan apapun yang mengganggu proses perjalanan muktamar. Kegiatan muktamar dapat dikatakan juga sebagai ajang  berkumpulnya para ilmuan dan orang-orang alim, dalam satu tempat. Sehingga muktamar ini  menjadi forum silaturahmi para ulama.

Pemilihan  ketua  yang biasa ramai dalam setiap ajang pergantian ketua, ternyata dalam Muktamar NU  berjalan dengan lancar, damai dan sejuk. Terpilihnya
KH. Yahya Cholil Staquf, yang berkompetisi dengan K.H. Said Aqil Siraj sebagai petahana, tidak ada gejolak dan langsung diterima hasil pemilihan yang dilaksanakan secara langsung tersebut.

K.H. Subhan Ma'mun mengatakan, penyelenggaraan Muktamar NU ini juga, sebagai salah satu media untuk niat berkhidmah pada para Kyai. Kehidupan santri yang kental dengan berhidmah (melayani) para kyai, tidak berhenti ataupun lepas saat menjadi santri saja. Namun ketika sudah kembali ke rumah masing-masing, maka hidmah pada para kyai masih tetap dilestarikan.

Hidmah pada para kyai, menjadi identitas diri santri yang kuat, untuk mendapatkan keberkahan dari para Kyai. Berbeda dengan berhidmah karena memiliki oreintasi yang lain, maka dapat dikatakan, ini bukan budaya santri, dan kalaupun ada maka hanya akan mendapat keuntungan popularitas sesaat. 

Berangkat dari berhidmah pada Kyai juga menjadi salah satu jalan, dari para orang sukses, dalam meniti karier yang diraihnya. Baik dalam akademik, ekonomi, instansi tertentu maupun keluarga.

Tak bisa disangkal pula, mereka para panitia dalam Muktamar, yang penuh semangat tak bisa lepas dari niat berhidmah pada para kyai pula.

Diselah-selah istirahat kegiatan muktamar para kyai, kadang masih menyempatkan diri untuk bercengkrama berdiskusi tentang hukum, silsilah sanad keilmuan dan perkembangan  pondok pesantren yang dulu pernah menimbah ilmu di pondok tersebut saat menjadi santri.

Perkawinan sekupu (setara) yang sudah tidak asing dalam kalangan para kyai NU, membuat para keluarga Gus-Gus menjadikan perjumpaan mereka dalam muktamar sebagai  wahana untuk menyambung maupun mengurai keturunan atau silsilah dari hasil perkawinan, yang kadang tidak percaya, bahwa keduanya (pasangan perkawinan) adalah saudara  yang ketemu di kakek nenek mereka. Atau sebenarnya para orang tua mereka pernah berguru pada kyai  yang sama saat dulu menjadi santri, yang hanya dipisahkan  pada tahun berbeda saja.

Kebahagian lain saat ikut muktamar, bisa bertemu dengan para kyai ataupun putra-putra kyai, dikala dulu menjadi santri. Kalau saja ada keniatan untuk bersilaturahmi dirumah mereka belum tentu bertemu dan memakan waktu yang lama dalam perjalanannya. Muktamar sebagai tempat menemukan para putra kyai atau Gus-gus. 

Sepulang  dari muktamar, menurut K.H. Subhan Ma'mun, masih ada pekerjaan selanjutnya.  Menunggu rumusan kepengurusan PBNU  yang baru di kepemimpinan Rois Aam  K.H. Miftachul Akhyar dan ketua umum K.H  Yahya Cholil Staquf, di masa khidmah tahun 2021-2026. 

Semoga penyusunan kepengurusan yang baru berjalan lancar.