Minggu, 19 November 2023

Memupuk Rasa Malu

Mengaji sebagai Usaha Memupuk Rasa Malu


Ngaji, Selasa (14/11/2023) bersama K.H. Subhan Ma'mun di Masjid Luqman Hakim Klampok, penulis mengakui sering terlambat dan otomatis duduk dibelakang. Walaupun terlambat, alhamdulillah selalu kebagian teh panas yang disugukan oleh kang-kang santri bersama snack gorengan.


Kondisi setelah dalam perjalanan mendapatkan teh panas, membuat badan segar dan press setelah meminumnya. Memulai ikut mengajipun terasa penuh kesiapan, baik dalam ngapsahi (mengartikan) kitab yang dikaji (Fathulbari dan Hikam)  dan menyimak apa yang di sampaikan oleh K.H  Subhan Ma'mun.


Bebarapa point penting dan nasehat didapat dari mengaji kali ini  (14/11/2023) dapat penulis catatan sebagai berikut : 


Pertama, sebuah pengistilahan dan teknik untuk mengekang agar seseorang tidak terlalu bebas dalam bertindak, berkata dan melangkah serta mampu mengoreksi diri terhadap penghambaan kepada Allah Swt. maka hati harus diikat dengan kuat.


"Ikatlah leher kambing, kalau mengendaki agar kambing tidak kemana-mana." Artinya tidak harus semua anggota tubuh diikat, agar kambing tidak lari atau mengikat kaki kambing saja agar tidak berjalan.


Istilah ini menjadi gambaran pada manusia, kalau ingin dirinya tidak tergiur dengan angan-angan impian dunia yang tinggi, maka ikatlah hati dengan selalu ingat kepada Allah Swt.


Mewujudkan hati tidak tergoyah saat dzikir dan hanya konsentrasi, pasrah kepada Allah Swt. Salah satunya saat dzikir tidak terbawa hanyut oleh wewangian yang datang dan diciumnya, serta tidak berlanjut menganggap dirinya sebagai manusia yang memiliki kelebihan.


Ada pertanyaan dan nilai kritis  yang perlu dipahami. Bagaimana seseorang terindikasi memiliki niat lillah kuat, terpatri dan tidak akan berubah dari niat awal atau  berbalik 180⁰. Ketika saat berdzikir terisi  angan-angan kecintaan dunia yang menjadi tujuannya, keinginan yang berlebihan dengan daftar menu kepemilikan yang begitu banyak diinginkan.


Ingat! bagaimana hati akan bersinar memberi petunjuk hidup pada diri sendiri ataupun orang lain, manakalah syahwat dalam hati, terlalu liar bergerak bebas.  


Jangan sampai terjadi pula saat dzikir dan membaca sholawat hanya berorientasi untuk menggapai hasil dunia semata dan  kemudian akan berlaku selamanya. Karena ketika seseorang sudah tenggelam dalam kemewahan dunia maka akan susah, bahkan dapat tidak muncul ketenangan jiwa dan hati. Sehingga sangat sulit hati bersinar untuk menerangi hidup dan jalan putunjuk Allah Swt.


Bagaimana hati ini akan berjalan menuju ridhaAllah Allah Swt dan mendapatkan ketenangan dalam nikmat-Nya kalau hati dipenuhi oleh tujuan keinginan duniawi semata.


Kedua, dahulukan hak Allah Swt dari pada pribadi. Selama ini penulis sangat menyadari saat akan menunaikan hak-hak  Allah Swt sering terkalahkan oleh kepentingan pribadi. Baik alasan capai, ada keperluan mendesak ataupun lainnya yang semuanya bermuara pada kepentingan diri pribadi penulis sendiri dan bersifat alasan klasik semata.


Adapun yang menjadi hak Allah Swt yaitu segala bentuk ibadah dalam Islam seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan segala macam hukuman pidana seperti hadd zina dan qishash pembunuhan. Hak Allah Swt juga hak yang kemanfaatannya untuk memelihara kemashlahatan umum.


Boleh kita  tidak mensegerakan hak Allah Swt. kalau kita sedang  membantu orang lain yang sangat memerlukan pertolongan, seperti menolong orang yang tenggelam dan lain-lain.


Ketiga, tidak boleh isrof  (melampaui batas atau berlebih-lebihan), baik saat wudhu, mandi maupun melakukan apapun. 


Kalau ketentuanya tiga kali dalam membasuh haruslah diatati, kalau lebih itu namanya isrof, begitu juga mandi, gunakan air secukupnya tidak boleh berlebihan atau bunyi keras saat mengambil air terdengar orang lain.  Perilaku isrof  juga akan membuat tidak wushul (sampai) ilallah dalam berdzikir dan berdoa.


Keempat tidak boleh sombong, apalagi merasa diri menjadi orang kasyaf.


Kasyaf merupakan 

karunia Allah untuk dapat melihat, merasakan dan mengetahui hal-hal ghaib yang tidak bisa diterima akal sehat manusia biasa. Ahlul kasyaf bisa dicapai oleh siapa saja yang berhasil mencapai kedekatan khusus dengan Allah Swt.


Adapun efek kasyaf sangat berat dan bahaya adalah akan menjadi manusia sombong, maka lebih baik menjadi seorang yang mastur (menyembunyikan diri), tidak menjadi manusia terkenal dan memilih menjadi manusia biasa-biasa saja.


Sebagai penguat catatan, yang perlu dipahami, tidak mungkin seseorang mendapatkan rahasia (kasyaf) Allah Swt kalau belum pernah bertaubat.


Kelima, orang tua yang mengasih sodaqoh pada anak tidak boleh diminta kembali. Kecuali hibah, karena hibah itu nominalnya besar dan diminta dalam rangka untuk pengobatan dan kepentingan memenuhi kebutuhan hidupnya.


Keenam, ikhtiar itu hukumnya wajib. Ikhtiar merupakan usaha sungguh-sungguh seorang hamba untuk memperoleh apa yang dikehendakinya. Ketika 

seseorang sedang dalam kondisi sakit, maka  berikhtiar mencari obat atau kesembuhan adalah wajib. Sakit tidak boleh pasrah saja, tetapi ada usaha untuk memperoleh kesembuhan.


Ketujuh, berhati-hatilah dalam menyampaikan berita atau amanat. Karena salah sedikit akan berakibat fatal.


Seperti contoh sedang cek darah  menyampaikanya cuci darah, karena hal itu sangat berbeda jauh sekali artinya dan juga efek beritanya.


Cek darah merupakan usaha untuk  memantau kondisi kesehatan dan penyakit kronis, atau menemukan masalah kesehatan pada tahap awal.

Memeriksa keberhasilan pengobatan atau mengidentifikasi efek samping pengobatan.


Sedangkan cuci darah atau hemodialisis (HD) merupakan  prosedur untuk membuang racun dari dalam tubuh akibat ginjal yang telah rusak.


Sekiranya cukup sekian, catatan mengaji kali ini. Mengaji yang terus menambah malu kepada Allah Swt. Penulispun sangat sadar dalam  kehidupan selama ini,  lebih mendahulukan kepentingan pribadi dari menunaikan hak-hak Allah Swt dan untuk orang lain.


Semoga saja pengajian yang penulis ikuti yang di asuh oleh K.H. Subhan Ma'mun akan menjadi petunjuk jalan dalam kegelapan, hati yang terus bersinar dan tertanam rasa malu yang mengakar. Aamiiin ya roobal aalamin.  Wallahu 'alam bishowab.


Lukmanrandusanga (Rabu, 15/11/2023)

Hidup Sederhana

Hidup Sederhana


Judul di atas penulis tulis sebagaimana disampaikan oleh  K.H. Subhan Ma'mun kepada penulis setelah pengajian selesai dan bersalaman sambil berjalan keluar dari Masjid Agung Brebes, "Hidup Sederhana." kata beliau.


Ngaji ihya (15/11/2023) membicarakan tentang konsep kesederhanaan yang disampaikan oleh Imam Al-Ghozali. Baik dalam berpakaian  dan penggunaan alat rumah tangga. Sebagai konsep hidup yang sangat luar biasa,  tertulis pada tahun 1111 M yang lalu.


Catatan ngaji yang dituliskan ini sebagai  pengingat bagi pribadi penulis dalam setiap mengikuti pengajian bersama K.H. Suban Ma'mun  Mudah-mudahan dapat memberi manfaat kepada para pembaca budiman dan mohon maaf kalau banyak kekeliruan dalam catatan yang sangat sederhana ini.


Beberapa pokok pemikiran dan  pencerahan yang dapat penulis tuangkan kembali dalam ngaji tema hidup sederhana adalah sebagai berikut: 


Berpakaianlah yang layak untuk kita semua terutama para ahli agama, jangan sampai karena faktor pakaian, menjadikan dirinya direndahkan dan akan berlanjut  pada istri atau keluarganya menanggung malu. Hal ini berlaku bagi perempuan maupun laki-laki.


Kesederhanaan dalam berpakaian tidaklah mempertontonkan gaya ngetren di jamannya, namun kerapian dan kesederhanaanlah yang harus dipakai.


Kesederhanaan selanjutnya adalah dalam memiliki perabotan rumah tangga, tidak harus semua yang dimiliki dibuat dan  berasal dari tembaga dan kategori barang mewah, boleh juga yang berasal dari bahan tanah atau disesuaikan dengan lingkungan yang ada (keumuman masyarakat setempat).


Kesederhanaan tidak difahami ngirit, seperti ketika pesta pernikahan dengan  pajangan penganten seadanya. Padahal memiliki uang yang cukup untuk menyewa.


Begitu juga dalam  membantu dari keluarga calon pengantin, baik mahar dan kebutuhan pernikahan jangan pelit. Minimal dalam mas kawin 10 Gram dan tidak ketinggalan pula  membantu sewa pajangan penganten.


Jangan sampai pajangan penganten harga sewa Rp. 50.000.000 (Lima Puluhan Juta) tetapi maskawinya hanya 2 (dua) gram.  Kalau bisa jaraknya jangan termalu jauh. Ambillah maskawin yang 10 Gram dan membantu ongkos pajangan dan tarub keluarga pengantin putri, InsyaAllah dalam berumah tangga akan berkah hidupnya.


Pada era sekarang, sepertinya sudah tidak ada lagi pinjam meminjam barang untuk keperluan hajatan besar. Berbeda pada jaman dahulu masih hal biasa dan dapat dikatakan bukti nilai sosialnya tinggi. Namun  ketika pinjam meminjam barang, seperti piring, tidak boleh. Hal ini termasuk mendustakan agama.


Kesederhanaan dalam hidup bagi kalangan santri telah terlatih dan dipraktekan saat berada di pondok pesantren dengan model hidup prihatin dan wira'i (menjaga seluruh anggota tubuhnya dari hal- hal yang diharamkan).


Kesederhanaan selanjutnya saat

menjamu tamu, kalau bisa disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan keuangan yang dimiliki. Tidak boleh mengada-ngada bahkan hutang demi menjamu tamu, yang berakibat pula  membuat hak anak terkurangi (menistakan anak). Saat tamu datang di rumah, segeralah memberi suguhan, tidak boleh menunda-nunda, entah minuman maupun makanan


Dalam pemenuhan kebutuhan perut juga harus disesuaikan, tidak boleh berlebihan dalam lauk pauknya. Tidak boleh menghina atau mencaci hasil masakan istri. Seorang suami juga, kalau bisa mampu memasak dan membuat sambel sendiri. Hal ini dapat mengurangi kesombongan dan memupuk rasa tawadhu.


Disela-sela ngaji biasanya ada pertanyaan, salah satunya yang tercatat oleh penulis adalah, bagaima kalau pesta pernikahan anak pertama lebih meriah, dengan alasan, karena saat itu memiliki uang banyak, masih muda dan bekerja. Namun  setelah tua, pensiun, pendapatan dan harta terkurang. Menjawab pertanyaan tersebut, menurut K.H.  Subhan Ma'mun dibolehkan saat melaksanakan pesta pernikahan kemeriahannya berbeda-beda.


Pada sisilain kalau ada anak mampu menghafal Al-Quaran lewat HP tanpa adanya guru yang membimbing, maka tidak boleh mengambil ilmu darinya. Ia  harus mencari seorang guru untuk mengoreksi dan mendengarkan hafalannya dan juga untuk menyambung sanad hafalan qur'anya.


Catatan terakhir dalam mengaji kali ini, Ingatlah kesederhanaan melatih manusia bersyukur, maka hiduplah seadanya dan semampunya serta menanamkan prinsip hidup tanpa hutang.  Wallahu'alam bishowab.


Lukmanrandusanga (19/11/2023)